Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Maju Pilkada Bengkalis, Istri Tersangka Korupsi Didukung 4 Partai
Politik
15 jam yang lalu
Maju Pilkada Bengkalis, Istri Tersangka Korupsi Didukung 4 Partai
2
Sebut Santri Tahfidz Qur'an sebagai Calon Teroris, Gus Jazil Minta Denny Siregar Minta Maaf
Politik
19 jam yang lalu
Sebut Santri Tahfidz Quran sebagai Calon Teroris, Gus Jazil Minta Denny Siregar Minta Maaf
3
Viral Pegawai Starbucks Intip Payudara Pelanggan Lewat CCTV
Peristiwa
19 jam yang lalu
Viral Pegawai Starbucks Intip Payudara Pelanggan Lewat CCTV
4
Bandara Sudah Sediakan Rapid Test, Masyarakat Sudah Bisa Manfaatkan Penerbangan
Politik
19 jam yang lalu
Bandara Sudah Sediakan Rapid Test, Masyarakat Sudah Bisa Manfaatkan Penerbangan
5
Kualitas Sinyal Operator Buruk saat Pandemi, DPR Panggil Telkomsel, Indosat dan XL Axiata
Politik
19 jam yang lalu
Kualitas Sinyal Operator Buruk saat Pandemi, DPR Panggil Telkomsel, Indosat dan XL Axiata
6
Sebut Rp2,7 Triliun Bukan Angka Kecil, Nasir Djamil: Segera Usut Kasus Pemalsuan Label SNI
Politik
19 jam yang lalu
Sebut Rp2,7 Triliun Bukan Angka Kecil, Nasir Djamil: Segera Usut Kasus Pemalsuan Label SNI
Home  /  Berita  /  Politik

Survei Indometer: 34 Nama Potensial ke Nasional, dari Riau Muncul Nama Instiawati Ayus

Survei Indometer: 34 Nama Potensial ke Nasional, dari Riau Muncul Nama Instiawati Ayus
Rabu, 03 Juni 2020 12:35 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Riset Indometer merilis 34 nama tokoh daerah potensial menuju pentas nasional pada 2024 mendatang, salah satunya Anggota DPD RI asal Riau Instiawati Ayus.

Direktur Eksekutif lembaga survei Indometer (Barometer Politik Indonesia), Leonard Sb, dalam keterangan persnya menyampaikan, tidak bisa lagi majunya Joko Widodo (Jokowi) pada kontestasi mendatang, memunculkan banyak nama tokoh dari daerah untuk maju bersaing merebut tiket capres-cawapres.

Menurutnya, munculnya banyak nama karena dalam kurun beberapa tahun terakhir, rakyat menjadi penentu utama dalam terpilihnya tokoh-tokoh baru yang berangkat dari pilkada dan pemilu langsung. Jokowi menjadi lokomotif utama dari gerbong tokoh-tokoh baru produk pemilihan langsung yang tidak berasal dari lingkaran elite partai politik.

"Pemilu 2024 menjadi peluang bagi kebangkitan tokoh-tokoh baru, dengan latar belakang kepala daerah atau perwakilan daerah di DPR dan DPD," kata Leonard.

Hasil riset yang dilakukan Indometer, lanjut Leonard, menunjukkan bahwa tokoh-tokoh populer seperti Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, dan Ridwan Kamil potensial maju dalam perhelatan politik nasional 2024.

Mereka adalah kepala daerah petahana (incumbent) yang dinilai rakyat berhasil membawa perubahan di tingkat daerah. Selain nama di atas, Gubernur Jawa Timur (Jatim), Khofifah Indar Parawansa; dan Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel), Nurdin Abdullah; masuk dalam di dalamnya.

Leonard juga menengarai bahwa keran desentralisasi dan demokrasi langsung menjadi ajang bagi kekuatan politik dinasti lokal maupun tokoh-tokoh nasional yang sedang melakukan regenerasi. Ada pula figur-figur politisi yang meniti karier dari jenjang bawah hingga terpilih menjadi pengurus pusat partai politik.

"Keluwesan tokoh-tokoh dalam hubungannya dengan partai politik menjadi ciri baru dalam era demokrasi langsung," ujarnya.

Tokoh-tokoh bisa berpindah partai tanpa kehilangan dukungan massa pemilih. Identifikasi kepartaian yang rendah memberi peluang bagi politisi partai baru, seperti Faldo Maldini dari PSI.

Indometer melakukan riset mengguakan metode kualitatif pada bulan Maret-Mei 2020. Data awal didapatkan dari monitoring media massa dan media sosial (medsos).

Pendalaman dilakukan untuk memilih tokoh paling potensial untuk maju ke pentas nasional, berdasarkan wawancara mendalam terhadap pengamat politik lokal dan tokoh-tokoh perantauan di Jakarta.

Adapun ke-34 nama tokoh daerah atau lokal potensial layak maju ke kontestasi nasioal dari riset tersebut, yakni Teuku Riefky Harsya dari Aceh, Edi Rahmayadi dari Sumatera Barat dari Sumut, Faldo Maldini dari Sumbar, Intsiawati Ayus dari Riau.

Kemudian, Asman Abnur dari. Kepulauan Riau (Kepri), Syarif Fasha dari Jambi, Muhammad Saleh dari Bengkulu, Dodi Reza Alex Noerdin dari Sumatera Selatan (Sumsel), Zulkifli Hasan dari Lampung, Erzaldi Rosman Djohan dari Kepulauan Bangka Belitung.

Selanjutnya, Ahmed Zaki Iskandar dari Banten, Anies Baswedan dari DKI Jakarta, Ridwan Kamil dari Jabar, Ganjar Pranowo dari Jateng, Hanafi Rais dari DI Yogyakarta, Khofifah Indar Parawansa dari Jatim, Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra dari Bali.

Kemudian, Tuan Guru Bajang (TGB) Muhamad Zainul Majdi dari Nusa Tenggara Barat (NTB), Viktor Laiskodat dari Nusa Tenggara Timur (NTT), Daniel Johan dari Kalimantan Barat, Agustin Teras Narang dari Kalimantan Tengah, Syaifullah Tamliha dari Kalimantan Selatan, Isran Noor dari Kalimantan Timur, Irianto Lambrie dari Kalimantan Utara.

Selajutnya, Yasti Soepredjo Mokoagow dari Sulawesi Utara, Rusli Habibie dari Gorontalo, Pasha Ungu dari Sulawesi Tengah, Iskandar Muda Baharuddin Lopa dari Sulawesi Barat, Nurdin Abdullah dari Sulawesi Selatan, La Ode Ida dari Sulawesi Tenggara, Abdul Ghani Kasuba dari Maluku Utara, Nono Sampono dari Maluku, Filep Wamafma dari Papua Barat, dan Meki Nawipa dari Papua.***


wwwwww