Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Viral Ustaz Abdul Somad Dikawal TNI saat Ceramah di Lampung
Peristiwa
10 jam yang lalu
Viral Ustaz Abdul Somad Dikawal TNI saat Ceramah di Lampung
2
Gus Jazil: Empat Pilar MPR Bukan Soal Pemahaman Tapi Praktik Sehari-hari
MPR RI
8 jam yang lalu
Gus Jazil: Empat Pilar MPR Bukan Soal Pemahaman Tapi Praktik Sehari-hari
3
Pengamat Bilang, Sejak Dipimpin Luhut, Corona Bukan Mereda Malah Menggila
Kesehatan
8 jam yang lalu
Pengamat Bilang, Sejak Dipimpin Luhut, Corona Bukan Mereda Malah Menggila
4
Perdana dan di Tengah Pandemi, Petani Batang Ekspor Bawang Putih untuk Obat
Ekonomi
23 jam yang lalu
Perdana dan di Tengah Pandemi, Petani Batang Ekspor Bawang Putih untuk Obat
5
Prakerja Gelombang 10 Dibuka untuk Capai Kuota, Rp672an Miliar dari RKUN Belum Diputus
Ekonomi
20 jam yang lalu
Prakerja Gelombang 10 Dibuka untuk Capai Kuota, Rp672an Miliar dari RKUN Belum Diputus
6
Penguatan Kerjasama Kehutanan Indonesia-Korea, Proyek di Riau termasuk Pendorong
Pemerintahan
22 jam yang lalu
Penguatan Kerjasama Kehutanan Indonesia-Korea, Proyek di Riau termasuk Pendorong
Home  /  Berita  /  Umum

Kisah Mualaf Caroline, Pekerja Bar yang Bersyahadat Saat Pandemi Corona, Kini Jadi Penjahit Jilbab

Kisah Mualaf Caroline, Pekerja Bar yang Bersyahadat Saat Pandemi Corona, Kini Jadi Penjahit Jilbab
Ilustrasi Muslimah berdoa. (int)
Rabu, 19 Agustus 2020 11:08 WIB

PADA awal-awal penyebaran virus corona merebak di Swiss, Caroline masih bekerja sebagai barkeeper (penjaga bar). Caroline mengaku sangat menikmati pekerjaannya tersebut.

Namun akhirnya Caroline kehilangan pekerjaan yang disukainya itu karena bar tempatnya bekerja harus ditutup akibat pandemi virus corona.

Dikutip dari Republika.co.id yang melansir dari aboutislam, pada awal-awal dirumahkan, Caroline masih memperoleh upah dari bosnya.

Sayangnya hal ini tidak berlangsung lama, hingga dia benar-benar menjadi pengangguran yang tidak punya penghasilan, begitu juga suaminya.

Mereka lebih banyak berdiam diri di rumah, tanpa aktifitas yang berarti. Kebosanan dan rasa jenuh mulai menggerogoti.

Suaminya sudah mulai menyibukkan diri dengan membaca buku-buku tentang Islam yang sudah lama tersimpan, pemberian dari teman suaminya.

''Suamiku menjadi sangat spiritual selama ini,'' kata Caroline dilansir dari About Islam, pada Selasa (18/8).

Suatu hari, kata Caroline, suaminya mulai mengajaknya untuk ikut membaca buku-buku tersebut. Tapi Caroline masih belum tertarik. Hanya saja, ia tidak ingin memperkeruh suasana yang sudah cukup buruk karena pandemi.

''Saya ingin menghindari pertengkaran dengan cara apa pun. (Jadi) saya membaca buku-buku ini juga,'' ungkapnya.

Sejak banyak membaca, kepercayaannya atas kehadiran Tuhan menjadi semakin menarik. Padahal sebelumnya, Caroline mengaku dirinya bukanlah sosok yang religius.

Tapi suaminya berhasil mengubahnya dan percaya akan keberadaan Tuhan. Suaminya mulai banyak berbicara soal Islam. Termasuk mengenai segala sesuatu yang terjadi di dunia ini dengan alasan dan bahwa Tuhan mengetahui segala perbuatan umatnya setiap saat.

''Semakin dia memberi tahu saya tentang pemikirannya tentang Tuhan, semakin saya merasa bahwa dia mengatakan sesuatu yang benar,'' ujar Caroline.

Tak lama kemudian, suami Caroline memutuskan untuk memeluk Islam lebih dulu, dan mulai mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

''Ketika suami saya menjadi Muslim, saya terkejut. Ya, dia telah berbicara tentang Tuhan dan Islam selama berminggu-minggu, tetapi saya masih tidak benar-benar berpikir bahwa dia akan masuk Islam,'' ucapnya.

''Maksud saya, tidak selalu mudah menjadi seorang Muslim di masyarakat kita. Apalagi bagi perempuan Muslim, ia harus memakai kerudung. Tapi dia sangat bertekad. Saya tahu dia serius karena dia bukan tipe orang yang melakukan sesuatu tanpa keyakinan pribadinya,'' jelas Caroline.

Caroline tidak langsung mengikuti jejak suaminya untuk masuk Islam. Tetapi melihat perubahan pada suaminya yang lebih tenang dan memiliki semangat baru, Caroline tertarik.

''Awalnya saya ragu-ragu karena saya sangat khawatir tentang konsekuensi menjadi Muslim. Saya tidak suka melakukan sesuatu dengan setengah hati. Jadi, jika saya menerima Islam, saya ingin melakukannya dengan benar. Ini termasuk menggunakan jilbab,'' jelas Caroline.

''Tapi suamiku berkata bahwa jika kita benar-benar percaya pada Tuhan, kita tahu bahwa Dia akan menjaga kita,'' ucapnya.

Setelah menerima Islam dan memakai jilbab, Caroline tidak bisa kembali melamar kerja sebagai penjaga bar. Ia tetap tinggal di rumah dan memikirkan cara untuk mencari nafkah, dan ia mengingat keterampilan dalam menjahit.

''Mengapa tidak mencoba membuat jilbab sendiri?'' ujarnya.

Caroline kemudian mulai berlatih dengan mesin jahitnya, memikirkan cara-cara cantik untuk memotivasi wanita Muslim lainnya untuk memakai jilbab mereka.

Ternyata keputusannya memakai jilbab mendapat banyak apresiasi. Banyak perempuan Muslim yang membeli jahitannya.

''Saya sangat senang mengikuti suami saya masuk Islam. Saya kehilangan pekerjaan tetapi saya memperoleh lebih banyak dan lebih baik. Kadang-kadang orang melihat saya dengan cara yang aneh, tapi itu tidak seburuk yang saya bayangkan. Tuhan memberkahi saya dengan bisnis saya sendiri. Saya tidak bergantung pada bos mana pun lagi. Saya menghabiskan lebih banyak waktu dengan suami saya dan kami berdua belajar sesuatu yang baru tentang Islam setiap hari. Alhamdulillah,'' ungkapnya penuh rasa syukur.***

Editor:hasan b
Sumber:republika.co.id
Kategori:Uncategories

wwwwww