Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Minta Bantu Karena Tak Terima Diputus Pacar, Gadis Ini Malah Dicabuli Dukun
Hukum
21 jam yang lalu
Minta Bantu Karena Tak Terima Diputus Pacar, Gadis Ini Malah Dicabuli Dukun
2
Meraup Berkah di Tanjakan Maut Sitinjau Laut Melalui Akun Youtube
Umum
21 jam yang lalu
Meraup Berkah di Tanjakan Maut Sitinjau Laut Melalui Akun Youtube
3
Penagih Utang Tewas Dikeroyok di Cipondoh, 5 Warga Diamankan Polisi
Peristiwa
19 jam yang lalu
Penagih Utang Tewas Dikeroyok di Cipondoh, 5 Warga Diamankan Polisi
4
Menghilang 1,5 Bulan, Pria di Aceh Ditemukan Tinggal Kerangka Dekat Gubuk
Peristiwa
21 jam yang lalu
Menghilang 1,5 Bulan, Pria di Aceh Ditemukan Tinggal Kerangka Dekat Gubuk
5
Bawa 20 Paket Besar Ganja, Warga Kuranji Padang Dicokok Petugas
Hukum
21 jam yang lalu
Bawa 20 Paket Besar Ganja, Warga Kuranji Padang Dicokok Petugas
6
Pj Kepala Daerah 22/23 Kewenangan Siapa? Azis Syamsuddin Dorong Pembahasan
Politik
21 jam yang lalu
Pj Kepala Daerah 22/23 Kewenangan Siapa? Azis Syamsuddin Dorong Pembahasan
Home  /  Berita  /  Politik

PDIP Bisa Usung Capres 2024 Tanpa Koalisi, Ganjar atau Puan?

PDIP Bisa Usung Capres 2024 Tanpa Koalisi, Ganjar atau Puan?
Grafis perolehan suara dan kursi partai politik di DPR RI dari Pileg 2019. (gambar: tangkapan layar zoom para syndicate)
Jum'at, 26 Februari 2021 17:03 WIB
JAKARTA - Direktur Eksekutif Indopolling Network, Wempy Hadir menilai, PDIP (Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan) adalah satu-satunya partai yang bisa mengusung Capres (calon presiden) sendiri tanpa berkoalisi dengan partai lain.

Bekalnya, menurut Wempy, adalah jumlah kursi PDIP di DPR RI (Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia) saat ini yang tercatat sebanyak 22,26% atau perolehan suara Pileg (pemilihan legislatif) 2019 sebanyak 19,33%. Jumlah ini cukup untuk mengusung calon presiden 2024 tanpa berkoalisi, karena syarat ambang batas dalam pasal 222 UU Pemilu 2017 adalah 20% kursi atau 25% suara sah.

Hal tersebut disampaikan Wempy dalam diskusi virtual gelaran PARA Syndicate, Jumat (26/2/2021). Lalu siapa yang akan diusung PDIP? Wempy menduga, PDIP akan memprioritaskan Puan Maharani. Pasalnya, Puan memiliki berbagai privilage sebagai cucu Bung Karno, sebagai anak Megawati Soekarnoputri, dan sebagai Ketua DPR RI saat ini.

"Saya kira privilage Puan bisa menjadikan Puan apa saja. Sangat mungkin bagi partai ini untuk melakukan trial politik untuk mengusung Puan menjadi Capres 2024" kata Wempy seperti dikutip GoNews.co dari diskusi tersebut.

Tapi Puan menghadapi persoalan, yakni elektabilitasnya yang masih kurang menggembirakan. Ia berada di posisi sangat jauh dari Ganjar Pranowo, kader PDIP yag saat ini menjabat Gubernur Jateng (Jawa Tengah). Sementara Ganjar kerap masuk 5 besar kandidat Capres potensial.

Persoalan elektabilitas dua kader PDIP ini, menurut Wempy, harus ditangani secara serius oleh PDIP. Pasalnya, ketika Ganjar tak mendapat ruang maka sangat mungkin Ia dipinang oleh partai lain, misalnya oleh NasDem (NasDem) , Demokrat dan PKS (Partai Keadilan Sejahtera).

Tapi politik Pilpres 2024 juga bergantung pada 'Gocekan' King Maker. Wempy memetakan, setidaknya ada 5 King Maker untuk Pilpres 2024, mereka adalah; Jokowi, Megawati, Prabowo, SBY, dan JK.

Meski Jokowi bukan seorang Ketua Umum Parpol, tapi posisinya sebagai Presiden RI 2 periode, tidak bisa disepelekan. "Apalagi ada pendukung setia yang selalu siap menunggu komando Jokowi. Siapa pun yang didukung oleh Jokowi memiliki peluang besar untuk menang,".

Soal pencalonan Puan oleh PDIP tersebut, sempat terlontar dari politisi senior PDIP, Effendi Simbolon, sebagai sebuah pandangan politiknya. Effendi menegaskan bahwa siapa yang dicalonkan oleh PDIP tergantung pada keputusan Megawati Soekarnoputri. Meskipun, dirinya pribadi berharap bahwa Capres dari PDIP adalah trah Bung Karno.

Persoalan elektabilitas Puan yang belum menggembirakan, menurut dia, itu hanya karena PDIP belum memutuskan siapa yang hendak dicalonkan. Ini hanya persoalan momentum.

"Saya kira kalau nanti sudah diputuskan oleh partai, wah akan jadi ledakan dahsyat itu. Momentum politik, dentumannya dengan modal mesin politik dan grasroot yang kuat, akan beda. Sama aja dulu, siapa yang kenal Jokowi? Ini jangan lupa," kata Effendi.

"Modal politik Puan ketika dipadukan dengan dentuman momentum politik dari Bu Mega kepada siapapun calon yang diusung, itu akan membuat kehilangan lawan. Nggak ada apa-apanya nama-nama yang disebut (punya elektabilitas tinggi saat ini, red)" ujar Effendi kepada wartawan, beberapa waktu lalu.***

wwwwww