Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Sebagian PNS Akan Dipindahkan ke Desa, Ini Kriterianya
Nasional
21 jam yang lalu
Sebagian PNS Akan Dipindahkan ke Desa, Ini Kriterianya
2
Pengungkapan Asal Mula Covid-19: "Saya bisa Menghilang Kapan Saja"
Kesehatan
22 jam yang lalu
Pengungkapan Asal Mula Covid-19: Saya bisa Menghilang Kapan Saja
3
Mendagri Tekankan Disiplin Protokol Kesehatan pada Persiapan Pembelajaran Tatap Muka
Pemerintahan
23 jam yang lalu
Mendagri Tekankan Disiplin Protokol Kesehatan pada Persiapan Pembelajaran Tatap Muka
4
Padat Karya Kemendes PDTT Sasar 5 Juta Pekerja Desa
Pemerintahan
23 jam yang lalu
Padat Karya Kemendes PDTT Sasar 5 Juta Pekerja Desa
5
Cyber Indonesia Laporkan Anji ke Polisi
Hukum
22 jam yang lalu
Cyber Indonesia Laporkan Anji ke Polisi
6
Kisah Mualaf Wilfred Hoffman, Publikasikan Buku Menggegerkan Saat Jadi Dubes Jerman di Maroko
Umum
22 jam yang lalu
Kisah Mualaf Wilfred Hoffman, Publikasikan Buku Menggegerkan Saat Jadi Dubes Jerman di Maroko
Home  /  Berita  /  GoNews Group
Profil

Benny Rhamdani 'Singa Podium' Sulawesi Utara, Tetap 'Mengaum' di Senayan

Benny Rhamdani Singa Podium Sulawesi Utara, Tetap Mengaum di Senayan
Senator Sulawesi Utara, Benny Rhamdani.
Selasa, 01 Maret 2016 15:14 WIB
Penulis: Daniel Caramoy
JAKARTA- Masih ingat kah anda dengan gerakan nasional reformasi yang digulirkan ratusan ribu kaum muda, dari berbagai ormas dan mahasiswa, pada bulan Mei 1998 silam. Siapa sangka, dibalik aksi yang cukup menggemparkan, dan menelan korban jiwa tersebut, salah satu Senator asal Sulawesi Utara yang kini duduk di DPD RI, ternyata menjadi salah satu aktor dalam gerakan menumbangkan rezim orde baru.

Benny Rhamdani, sosok yang dikenal sebagai salah satu "singa podium" dari sejak awal reformasi sampai menjabat Anggota DPRD PRovinsi Sulut dua kali berturut-turut, ternyata memiliki segudang pengalaman ketika menumbangkan rezim Soeharto, bersama rekan sejawatnya.

Perjuangan dalam membela hak-hak rakyat kecil yg dimarginalisasi secara ekonomi, mengalami ketidakadilan dalam penegakkan Hukum, hingga rakyat yang tergusur dan dirampas hak-hak kepemilikan tanahnya atas nama kepentingan umum, kadang ia lakukan dengan cara yang tidak lajim dan bahkan dianggap 'haram' oleh penguasa orde baru pada saat itu.

Sebagai seorang "Singa" aumanya terasa saat mulai menggalang massa dari kalangan rakyat miskin dan tertindas, hingga aksi-aksi demonstarasi yang ia lakukan. Bahkan ia tidak segan-segan langsung menembak jantung kekuasaan pada saat berorasi.

Tak heran jika Ia dicatat sebagai musuh nomor wahid bagi penguasa dan kroni-kroni orde baru di Sulawesi Utara. Benny Rhamdani yang akrab disapa BRANI, merupakan Senator wakil Provinsi Sulawesi Utara periode tahun 2014 - 2019  yang berhasil meraup 94.646 suara. Meseki sudah duduk di gedung rakyat, Ia pun tak berhenti terus mengaum di Senayan, tak pandang bulu, setiap kebijakan yang tidak pro terhadap rakyat, maka ia tak segan-segan untuk melawan.

https://www.legislatif.co/assets/imgbank/01032016/legislatifco_2cyb6_8.jpg

Bahkan baru-baru ini dalam dalam rapat tripartit antara Komite I DPD, Komisi II DPR dan Pemerintah, akhir pekan lalu, sebagai Ketua Tim Kerja DOB, Brani mengamuk, dan terus menyerang Tjahjo lewat Direktur Jendral (Dirjen) Otonomi Daerah (Otda) Sonni Sumarsono.

Begitu getol ia perjuangkan pemekaran di wilayahnya. Sekedar informasi, Benny merupakan mantan aktifis mahasiswa yang pernah memimpin organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Manado Provinsi Sulawesi Utara. Sebelum menjadi anggota DPD RI merupakan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulawesi Utara selama dua periode, Pengurus Majelis Pembina Nasional (Mabinas), Pengurus Besar PB PMII Masa Khidmat tahun 2014-2016, dan Wakil Ketua Umum GP Ansor Sulawesi Utara sampai saat ini.

Awal Perjuangan Benny Rhamdani dalam Menumbangkan Rezim Orde Baru

Perjuangan Brani ketika itu, berawal pada saat melakukan diskusi dikampus pada bulan November tahun 1997. "Diskusi ini pun digelar ditiap-tiap kampus diseluruh Indonesia," ungkap Benny.

Hasil dari diskusi tersebut diminta rekan sejawatnya agar segera dibawa ke pusat yakni Jakarta. Benny sendiri kemudian berangkat ke Jakarta mewakili Unsrat pada bulan Januari 1998 untuk melakukan perlawanan terhadap rezim Soeharto.

Walaupun saat itu, pemimpin Unsrat tidak sependapat dengan perjuangannya, namun ia tetap nekad hijrah ke ibu kota. "Ini perjuangan, meski tak disetujui saya tetap berangkat," tuturnya.

Di Jakarta, aia awali dengan mendatangi kampus Universitas Indonesia (UI), dan melakukan orasi, mengajak mahasiswa UI untuk turun berjuang bersama dengan mahasiswa lainnya. Di kampus ternama itu, Benny juga dianggap orang gila. Ia menunjukkan salah satu aksi yang bisa dikatakan ekstrim dengan cara menyayat tangannya menggunakan silet dan terpaksa dilarikan ke rumah sakit. Sebanyak 24 jahitan pun harus menutupi luka akibat kegilaanya tersebut.

Perjuangan di UI awalnya terkesan sia-sia karena kampus kuning itu ternyata mempunyai moto kampus perjuangan orde baru. "Mereka saya minta untuk bertanggung jawab karena telah melahirkan rezim orde baru," cerita Benny berapi-api.

https://www.legislatif.co/assets/imgbank/01032016/legislatifco_bcrrc_7.jpg

Kegilaan lainnya yang ia tunjukkan dalam usahanya merubah sebuah sistem pun tak hanya berhenti disitu saja. Dia bersama seorang temannya bernama Wahab Talaohu(aktisis'98 dari Univeritas Jakarta) melakukan aksi Mogok Makan selama 5 Hari di Halaman Kantor YLBHI-Jakarta.

Meskipun pada akhirnya Ia bersama temannya harus dilarikan dengan menggunakan mobil Ambulance. "Pada saat itu, almarhum Munir dan Adnan Buyung Nasution yang dikenal sebagai pejuang Demokrasi dan Kemanusiaan mengantar saya ke Rumah Sakit ST. Carollus, karena harus mendapatkan perawatan serius setelah 'tumbang' di hari Ke-5 karena aksi mogok makan," kenangnya.

Namun setibanya di rumah sakit, Benny yang baru menjalani perawatan kurang lebih 3,5 jam langsung dilarikan dari Rumah Sakit dan disembunyikan selama satu minggu di Rumah Gusdur  di Ciganjur, sehubungan munculnya isu rencana penculikan kepada dirinya dan Wahab Talaohu oleh 'pihak tertentu'.

Apa yg dilakukan para aktifis mahasiswa, khususnya di Era Orde Baru, bukan berarti tanpa resiko. Begitupun yg dialami Benny Rhamdani. Di sulawesi Utara, Benny Rhamdani tidak sekedar menjadi musuh penguasa, tapi kelompok kapitalis dan pengusaha yang merasa terganggu kepentingan bisnisnya, menganggap bahwa Benny Rhamdani adalah orang yang harus 'Dihabisi'.

Karena itulah, pada tahun 1997, Benny Rhamdani dan keluarganya sempat menjadi target rencana pembunuhan. Rumah kakaknya yang menjadi tempat menumpang dengan anak istrinyapun sempat di hancurkan para preman bayaran yang menyerbunya pada pukul 03.00 WIB.

Dilevel Gerakan Nasional, Benny Rhamdani dicatat dan dikenal oleh teman-teman seangkatannya sebagai aktifis 'Gila'. Ide dan gagasan-gagasannya yang ia tawarkan dalam diskusi-diskusi selalu menjadi gerakan bersifat aksi alternatif. Atau istilahnya sebagai 'Kanalisasi Isu dan Revolusi Situasi".

Sehingga ia juga dijuluki sebagai aktifis yang melahirkan teori eksperimnetasi oleh Ketua Forkot Adian Napitupulu, yang juga aktifis'98. Adian saat diwawancarai mengaku mengenal Benny saat berdemo pertama kali di UI. Ketika itu dia kaget melihat seorang pemuda melakukan aksi nekat menyayat tangannya dengan silet. "Disitu saya hanya mengenal begitu saja tidak terlalu dekat. Setelah itu saya mendengar pria itu melakukan aksi mogok makan," ucapnya.

Perkenalan mereka pun berlanjut ketika Adian dan Benny Rhamdani mengusulkan kepada sejumlah mahasiswa dalam diskusi agar perjuangan dilanjutkan dengan cara menduduki kantor DPR RI.

"Awalnya saya yang mengusulkan disetiap diskusi di beberapa kampus, tapi selalu ditolak. Nah, di satu kampus di Jakarta Selatan, saya mengusulkan itu, tapi tetap ditolak, namun Benny pun menyarankan agar mencobanya," terangnya.

Nah, berbicara mengenai Reformasi, Benny pun mengatakan, saat ini agenda itu telah dibelokan dari rel yg sebenarnya dan dari semangat yang melatarbelakangi kelahiran Reformasi yang sesungguhnya. Menurutnya, cita-cita Reformasi telah dibajak dan dikhianati kaum elit yang hari ini berkuasa dan mereka yang menjadi penyelenggara negara yang sebenarnya bisa berkuasa karena adanya reformasi itu sendiri.

"Dengan situasi dan kondisi bangsa ini sudah semakin memburuk. Kapal yang bernama Indonesia sudah bocor-bocor dan tinggal menunggu tenggelam. Masa depan masyarakat kita berada pada lorong gelap," ucapnya.

Untuk keluar dari situasi ini, lanjutnya,  hanya ada dua pilihan, pertama dengan melalui cara konstitusional Pemilihan Umum baik Legislatif maupun presiden. Ini harus dengan cara membentuk penyelenggara pemilu independen yang orang-orangnya tidak bermental bandit atau rampok.

Masyarakat juga harus mengawasi proses demokrasi secara ketat melalui seluruh tahapan, dan Pilih calon legislatif dan Presiden yang memiliki rekam jejak positif, yang menawarkan program pro rakyat, dan memiliki nasionalisme yang tinggi serta ideologi yang anti neoliberalisme dan kapitalisme.

"Karena denga cara inilah, maka kita akan menjadi bangsa sebagaimana yang dicita-citakan Soekarno, yaitu bangsa yang berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi dan berkepribadian secara budaya," tuturnya. ***

Sumber:Berbagai Sumber
Kategori:Sulawesi Utara, DKI Jakarta, GoDrone, Peristiwa, Umum, GoNews Group

wwwwww