Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Usai Marah dan Usir Bos Inalum Saat Rapat, Ujungnya Anggota DPR Minta Dana CSR
Peristiwa
22 jam yang lalu
Usai Marah dan Usir Bos Inalum Saat Rapat, Ujungnya Anggota DPR Minta Dana CSR
2
Survei LKPI: Nina Dai Bahtiar Unggul di Pilbup Indramayu karena Rakyat Kecewa Politik Dinasti
Politik
20 jam yang lalu
Survei LKPI: Nina Dai Bahtiar Unggul di Pilbup Indramayu karena Rakyat Kecewa Politik Dinasti
3
Sultan Najamudin: DPD Siap Bantu Bulog Teggakkan Tiga Pilar Ketahanan Pangan
Politik
24 jam yang lalu
Sultan Najamudin: DPD Siap Bantu Bulog Teggakkan Tiga Pilar Ketahanan Pangan
4
Kompolnas Soroti Kasus Pemalsuan Label SNI Rugikan Negara Rp2,7 Triliun
Hukum
20 jam yang lalu
Kompolnas Soroti Kasus Pemalsuan Label SNI Rugikan Negara Rp2,7 Triliun
5
Ribut dengan Dirut Inalum saat Rapat, Ini Koleksi Kendaraan Anggota DPR asal Riau M Nasir
Politik
22 jam yang lalu
Ribut dengan Dirut Inalum saat Rapat, Ini Koleksi Kendaraan Anggota DPR asal Riau M Nasir
6
Kawasan Wisata Terhambat Maju karena Sinyal, Mukhlis Minta Bantuan Operator
DPR RI
21 jam yang lalu
Kawasan Wisata Terhambat Maju karena Sinyal, Mukhlis Minta Bantuan Operator
Home  /  Berita  /  GoNews Group

Kecilnya Diversifikasi  Kegiatan Ekonomi Kalimantan, DPR: Jangan Mengandalkan Komoditas Priemer Saja

Kecilnya Diversifikasi  Kegiatan Ekonomi Kalimantan, DPR: Jangan Mengandalkan Komoditas Priemer Saja
Anggota Banggar DPR RI, Hatifah. (net)
Kamis, 14 Juli 2016 09:20 WIB
JAKARTA - Pemerintah dengan DPR RI mulai melakukan pembahasan RAPBN Tahun 2017, pada hari Rabu (13/7/2016) kemarin. Diperkirakan, ekonomi Indonesia akan dipengaruhi situasi global seperti, moderasi pertumbuhan ekonomi Tiongkok, dan melemahnya aktivitas ekonomi Tiongkok yang diperkirakan masih terjadi.

Lemahnya harga-harga komoditas dan ketidakpastian ekonomi global, seperti membaiknya ekonomi Amerika Serikat yang berdampak pada normalisasi suku bunga. Demikian disampaikan Suahasil Nazara, mewakili Kementerian Keuangan RI.

Dalam rapat tersebut juga dipaparkan mengenai diversifikasi sumber ekonomi di berbagai wilayah di Indonesia. Menurut Suahasil, secara umum pertumbuhan ekonomi di seluruh wilayah menunjukkan kecenderungan membaik, terutama di Jawa karena didorong oleh industri dan konsumsi yang tinggi. Namun ia juga menyampaikan kemungkinan pertumbuhan ekonomi di wilayah Kalimantan akan mengalami tekanan karena rendahnya harga komoditi.

Menanggapi hal tersebut, Hetifah anggota Banggar DPR RI Dapil Kaltim-Kaltara menyampaikan bahwa harga komoditas global sangat berpengaruh bagi ekonomi Kalimantan. "Tadi sudah dipaparkan Pemerintah bahwa kinerja pertumbuhan ekonomi di Kalimantan pada 2017, hanya 1,1 persen. Ini termasuk Kaltim-Kaltara, yang juga akan menurun. Kita perlu memikirkan agar pertumbuhan ekonomi di daerah tersebut jangan bergantung pada komoditas primer semata", kata Hetifah.

Dalam jangka panjang, tantangan utama bagi wilayah Kalimantan adalah untuk mendiversifikasikan kegiatan dan sumber-sumber ekonomi guna mengurangi ketergantungan pada sejumlah kecil komoditas.

"Di Kaltim dan Kaltara masih banyak menyimpan potensi untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi, seperti pariwisata, perikanan, dan ekonomi kreatif. Kita jangan terus bergantung pada produk-produk primer semata, karena jika terjadi ketidakpastian ekonomi ini menjadi resiko dan masalah," sambung Hetifah.

Dalam rapat tersebut, pemerintah menyampaikan hasil beberapa usulan DPR mengenai mengenai asumsi ekonomi makro seperti harga minyak mentah Indonesia (ICP) yang dipatok sebesar 45-55 USD/barel, lifting minyak bumi sebesar 760-800 ribu barel/hari, dan lifting gas bumi sebesar 1,150-1,500 ribu barel setara minyak/hari. Adapun asumsi ekonomi makro yang lain masih menunggu pembahasan di Komisi XI DPR RI. (rls)


wwwwww