Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
FASTA DKI-Sispala Desak Penegakan Hukum Karhutla Tanpa Kompromi
Lingkungan
22 jam yang lalu
FASTA DKI-Sispala Desak Penegakan Hukum Karhutla Tanpa Kompromi
2
Dinov dan Michelle Pimpin Parade Tim Indonesia di Pembukaan Dakar 2026
Olympic
16 jam yang lalu
Dinov dan Michelle Pimpin Parade Tim Indonesia di Pembukaan Dakar 2026
3
Bikin Rame CFD Sudirman, Massa 'Geruduk' Imigrasi Jakbar
Umum
16 jam yang lalu
Bikin Rame CFD Sudirman, Massa Geruduk Imigrasi Jakbar
4
Zlatko Runje Sukses Dampingi Persib Kalahkan Kalteng FC
Sepakbola
16 jam yang lalu
Zlatko Runje Sukses Dampingi Persib Kalahkan Kalteng FC
5
Darije Kalezic Kecewa, Rizky Eka Tetap Minta Dukungan Suporter PSM
Sepakbola
17 jam yang lalu
Darije Kalezic Kecewa, Rizky Eka Tetap Minta Dukungan Suporter PSM
6
Gagal Curi Poin di Bandung, Mundari Karya: Kami Dihukum
Sepakbola
16 jam yang lalu
Gagal Curi Poin di Bandung, Mundari Karya: Kami Dihukum
Home  /  Berita  /  Badminton

Pengajuan PK Gembong Narkoba Freddy Budiman Ditolak, Tapi...

Pengajuan PK Gembong Narkoba Freddy Budiman Ditolak, Tapi...
Gembong Narkoba Fredy Budiman. (net)
Jum'at, 22 Juli 2016 18:07 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Pengajuan peninjauan kembali gembong narkoba Freddy Budiman harus kandas di tangan Mahkamah Agung (MA). Upaya pembelaan diri tersebut merupakan langkah hukum terakhir bagi Ferdy untuk melakukan peninjauan kembali.

Penolakan PK ini diketuk palu oleh Majelis Hakim PK yang terdiri atas Hakim Agung Syarifuddin sebagai Ketua Majelis serta Hakim Agung Andi Samsan Nganro dan Hakim Agung Salman Luthan selaku Anggota Majelis Hakim.

Meski demikian informasi penolakan PK tersebut masih simpang siur. Pasalnya, Saat dikonfirmasi ke Kepala Biro Hukum dan Humas MA, Ridwan Mansyur belum mengetahui soal putusan PK Freddy ini. "Saya baru landing. Saya telepon kantor dulu ya mas," ucap Ridwan, Jumat (22/7/2016).

Diketahui, Freddy merupakan terpidana mati kasus narkotika. Dia dinyatakan terbukti bersalah melakukan penyelundupan 1,4 juta butir ekstasi ke Indonesia. Vonis mati itu dijatuhkan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Barat yang kemudian dikuatkan di tingkat banding Pengadilan Tinggi DKI Jakarta dan Kasasi MA.

Namun, nama Freddy sendiri tidak masuk daftar eksekusi mati jilid III yang dalam waktu dekat ini akan dilaksanakan Kejaksaan Agung.

Selain penyelundupan jutaan pil ekstasi beromset miliaran rupiah itu, Freddy juga beberapa kali diketahui melakukan kejahatan narkoba. Misalnya, kepemilikan pabrik pembuat sabu di Lapas Narkotika Cipinang. Meski dia mendekam di sana, namun dia masih dapat mengontrol dan menggerakan peredaran narkoba ke sejumlah wilayah di Indonesia, terutama Jakarta. (***)

wwwwww