Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Ubed Akui Waktu Mepet dan Richie Ingin Hasil Terbaik
Badminton
17 jam yang lalu
Ubed Akui Waktu Mepet dan Richie Ingin Hasil Terbaik
2
Asael, Michelelle, dan Miftaqul Masih Berada di Jalur Positif
Olympic
18 jam yang lalu
Asael, Michelelle, dan Miftaqul Masih Berada di Jalur Positif
3
Seragam Kontingen Indonesia Hasil Kolaborasi Sarinah dan Mills Menggandeng Brand Lokal
Olympic
18 jam yang lalu
Seragam Kontingen Indonesia Hasil Kolaborasi Sarinah dan Mills Menggandeng Brand Lokal
4
Kebutuhan Industri Melonjak, BPS Catat Nilai Impor Nasional Naik 19,67 Persen Sepanjang 2026
Ekonomi
24 jam yang lalu
Kebutuhan Industri Melonjak, BPS Catat Nilai Impor Nasional Naik 19,67 Persen Sepanjang 2026
5
Mutasi 7 Polisi Polrestabes Surabaya Disorot, Buntut Penangkapan 3 Legislator Partai Gerindra
Umum
23 jam yang lalu
Mutasi 7 Polisi Polrestabes Surabaya Disorot, Buntut Penangkapan 3 Legislator Partai Gerindra
6
Senator Dailami: Polri Bersama Masyarakat Jangan Hanya Slogan
Hukum
17 jam yang lalu
Senator Dailami: Polri Bersama Masyarakat Jangan Hanya Slogan
Home  /  Berita  /  Badminton
Sumut Nomor 1 Peredaran Narkoba

Pengamat: Beranikah Jokowi Seperti Presiden Filipina dalam Pemberantasan Narkoba

Pengamat: Beranikah Jokowi Seperti Presiden Filipina dalam Pemberantasan Narkoba
Presiden Joko Widodo. (Google)
Selasa, 20 September 2016 11:53 WIB
Penulis: Yusuf Ahmad
MEDAN - Munculnya tanggapan dari Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sumatera Utara Brigjen Pol Andi Loedanto yang menyebutkan, Sumatera Utara masuk peringkat pertama peredaran narkoba tertinggi di Indonesia. Ditanggapi serius pengamat sosial, Shohibul Anshor Siregar. 

Menurutnya, kejadian tersebut bersumber dari penegak hukum sendiri. "Karena oknum penegak hukum itu banyak dan seringnya bermain mata dengan Bandar Narkoba sehingga dari situ mereka mendapatkan pulus," kata Shohibul kepada GoSumut, Selasa (20/9/2016).

Menurutnya, kalau benar Aparat penegak hukum itu menjalankannya tugasnya, tidak akan begini Sumut ini. "Saran saya harus ada sikap yang tegas dari Kapolri dan Presiden Jokowi," ujarnya.
Sebab Presiden Filipina yang baru, lanjut Shohibul punya target enam bulan menghabisi bandar narkoba dari Philipina dan mengambil sikap tegas dengan tembak ditempat terhadap bandar narkoba walaupun dia dituduh melanggar HAM dan dia tidak perduli yang penting menyelamatkan negaranya.
"Sekarang presiden Jokowi kita minta berani apa tidak membuat target seperti itu, dalam satu Jokowi harus bisa menyelesaikan masalah Narkoba di Indonesia," tegas Shohibul.

Editor:Arif
Kategori:Badminton, Beladiri, PON
wwwwww