Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Mabes Polri Cek Kabar Penangkapan Jenderal Bintang Empat di Mako Brimob Terkait Isu Penyadapan
Umum
9 jam yang lalu
Mabes Polri Cek Kabar Penangkapan Jenderal Bintang Empat di Mako Brimob Terkait Isu Penyadapan
2
Soroti RUU Perampasan Aset di Parlemen, Jamdatun Peringatkan Potensi Penyalahgunaan Wewenang Negara
Umum
11 jam yang lalu
Soroti RUU Perampasan Aset di Parlemen, Jamdatun Peringatkan Potensi Penyalahgunaan Wewenang Negara
3
BMKG Prakirakan Sebagian Jabodetabek Berpotensi Hujan Ringan pada Sore Hari Ini
Metropolitan
19 jam yang lalu
BMKG Prakirakan Sebagian Jabodetabek Berpotensi Hujan Ringan pada Sore Hari Ini
4
Gibran Tak Penuhi Syarat Wapres Usai Putusan MA, Bola Panas Kini di Tangan Prabowo
Umum
12 jam yang lalu
Gibran Tak Penuhi Syarat Wapres Usai Putusan MA, Bola Panas Kini di Tangan Prabowo
5
Sashenka Ukir Sejarah, Pejudo Pertama dan Penyumbang Medali Pertama Indonesia
Olympic
7 jam yang lalu
Sashenka Ukir Sejarah, Pejudo Pertama dan Penyumbang Medali Pertama Indonesia
6
KPK Geledah PT Djarum Kudus, Dugaan Manipulasi Cukai Belasan Tahun Rugikan Negara Triliunan
Hukum
14 jam yang lalu
KPK Geledah PT Djarum Kudus, Dugaan Manipulasi Cukai Belasan Tahun Rugikan Negara Triliunan
Home  /  Berita  /  Badminton

Innalillahi, Mantan Rois Syuriah PBNU dan Panutan Ummat Islam di Pekalongan, Kyai Syarifuddin Tutup Usia

Innalillahi, Mantan Rois Syuriah PBNU dan Panutan Ummat Islam di Pekalongan, Kyai Syarifuddin Tutup Usia
KH Raden Mas Syarifuddin ZA. (istimewa)
Rabu, 30 November 2016 00:56 WIB
PEKALONGAN - Masyarakat Kabupaten Pekalongan patut berduka lantaran kehilangan salah satu ulama yang menjadi panutan semasa hidupnya. Ya, KH Raden Mas Syarifuddin ZA, Pengasuh/Mursyid Thoriqoh Qodiriyah Wanaqsabandiyyah PP Tarbiyatul Mubtadiin Wonopringgo Peklongan, Minggu (27/11/2016) meninggal dunia di usianya yang ke 99 tahun.

Mantan Rois Syuriah dua periode 1987-1997 ini dikenal dengan jasanya yang sangat besar bagi organisasi NU. Kyai sepuh ini memberi kesan bagi kaum nahdliyin, dalam keberaniannya melawan kemapanan politik warga NU, yaitu dengan menyosialisasikan Khittah NU 1926 sebagai keputusan Muktamar NU th 1984 ke 27.

Kemapanan politik warga NU saat itu bahwa PPP adalah identik dengan NU,  karena sejak pemilu ke 2 pada orba (1977) jamiyyah NU beraviliasi dengan PPP.

Di luar politik, ulama yang lahir di Cirebon dan diketahui masih keturunan Sunan Gunung Jati tersebut berjasa dalam organisasi NU. Sebab, ia adalah ulama pertama yang memperkenalkan NU secara jamiyah (organisasi) di daerah pelosok Kabupaten Pekalongan, seperti di Talun, Kandangserang, Petungkriyono, Paninggaran dan Doro. Meskipun pada waktu itu kondisi masyarakat setempat sudah berkultur NU.

Sehingga wajar, masyarakat Kabupaten Pekalongan, khususnya kaum nahdliyin, merasa kehilangan kyai kharismatik yang hingga akhir hayatnya menetap di Desa Rowokembu, Wonopringgo, Pekalongan.

Sekretaris PCNU Kabupaten Pekalongan, H Lukman Hakim MSI mengatakan, Kyai Syarif yang saat ini sebagai Mustasyar (Dewan Penasehat) di kalangan NU, selalu memberikan nasihat-nasihat baik bagi para jamiyah maupun organisasi.

"Kami berharap, sepeninggalannya beliau, akan ada laki ulama-ulama pengganti di Kabupaten Pekalongan yang setingkat dengan beliau. Yang bisa memajukan jamiyah Nu dengan ikhlas dan berani," ungkapnya seperti dikutip GoNews.co dari Radar Pekalongan. ***

Editor:Muslikhin Effendy
Sumber:radarpekalongan.
Kategori:Badminton, PON, Olympic, Jawa Tengah
wwwwww