Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Negara Harus Lindungi PMI ABK, Jangan Pas Ada Kasus Baru Kelihatan Sibuk
Pemerintahan
23 jam yang lalu
Negara Harus Lindungi PMI ABK, Jangan Pas Ada Kasus Baru Kelihatan Sibuk
2
Bangun Ribuan Titik Jaringan Wi-Fi, Gus Jazil: Langkah Konkret GBB Membantu Pendidikan Masyarakat di Masa Pandemi
Politik
23 jam yang lalu
Bangun Ribuan Titik Jaringan Wi-Fi, Gus Jazil: Langkah Konkret GBB Membantu Pendidikan Masyarakat di Masa Pandemi
3
Persiapan Mendekati Final, MPR Siap Gelar Sidang Tahunan MPR 2020
Politik
23 jam yang lalu
Persiapan Mendekati Final, MPR Siap Gelar Sidang Tahunan MPR 2020
4
Kampungnya Marak Korupsi, Jadi Alasan Iyeth Bustami Maju Pilkada Bengkalis
Politik
24 jam yang lalu
Kampungnya Marak Korupsi, Jadi Alasan Iyeth Bustami Maju Pilkada Bengkalis
5
Hari Ini, Eks Bendahara Umum Partai Demokrat M Nazaruddin Resmi Bebas dari Penjara
Peristiwa
24 jam yang lalu
Hari Ini, Eks Bendahara Umum Partai Demokrat M Nazaruddin Resmi Bebas dari Penjara
6
Viral Buat Status Video Porno, Anggota DPRD Riau Klaim WA-nya Diretas
Peristiwa
24 jam yang lalu
Viral Buat Status Video Porno, Anggota DPRD Riau Klaim WA-nya Diretas
Home  /  Berita  /  Lingkungan

Informasi Penyakit Antraks Meresahkan, DPR Minta Pemerintah Umumkan Hasil Penelitian ke Publik

Informasi Penyakit Antraks Meresahkan, DPR Minta Pemerintah Umumkan Hasil Penelitian ke Publik
Wakil Ketua Komisi III DPR, Saleh Partaonan Daulay. (istimewa)
Senin, 23 Januari 2017 14:50 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Pemerintah didesak untuk memastikan dugaan menyebarnya virus antraks di Kulom Progo, DIY. Pasalnya, berita penyebaran virus tersebut telah menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Apalagi, virus itu dikabarkan telah menalan korban jiwa.

"Kabar yang kita dengar, kemenkes telah melakukan penelitian. Sampelnya telah diteliti di laboratorium. Hanya saja, pengumuman resmi belum disampaikan. Tentu ini tetap menimbulkan tanda tany," ujar Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, FPAN, Dapil Sumut II, Saleh Partaonan Daulay, Senin (23/1/2017) di Jakarta.

Dugaan penyebaran virus antraks ini tidak boleh dianggap remeh. Apalagi, sampai saat ini penularan virus anthrax ini belum begitu jelas. Kalau itu betul, tentu ini bisa menimbulkan kekhawatiran dan kecemasan.

"Dunia medis kita belum begitu familiar dengan anthrax. Termasuk obat dan alat-alat yang dibutuhkan untuk menyembuhkan korban," paparnya.

Jika betul bahwa ada penyebaran anthrax di Kulon Progo, pemerintah diminta segera melakukan langkah-langkah yang diperlukan. Selain upaya pengobatan bagi yang terduga terjangkit, pemerintah juga diminta untuk melakukan langkah-langkah antisipatif. Termasuk melakukan sosialisasi terkait gejala, penyebab, diagnosa, pengobatan, dan cara pencegahan.

"Masyarakat perlu diberi penjelasan yang akurat soal virus ini. Dengan begitu, masyarakat bisa menghindari dan melakukan hal-hal yang diperlukan jika ada dugaan penyebaran virus itu di lingkungannya," tandasnya.

Selain itu, pemerintah juga diminta untuk mempelajari kasus-kasus penyebaran anthrax yang pernah terjadi di negara lain.  Perlu juga ditelusuri cara pengobatan yang mereka lakukan.

Karena anthrax ini sudah dianggap sebagai wabah berbahaya, tentu WHO juga sudah memiliki penelitian-penelitian terkait. Hasil penelitian mereka bisa saja dijadikan sebagai referensi awal.

"Kalau tidak salah, tahun 2002 lalu,  ilmuwan di Universitas Rockefeller, New York, Amerika Serikat, pernah mengklaim menemukan obat untuk mengatasi anthrax. Antibiotik yang diberi nama PlyG Lysin telah pernah diujicobakan dan berhasil. Tetapi tidak diketahui kelanjutan hasil penelitian tersebut. Mungkin, itupun perlu ditelusuri," tegas Saleh. ***


wwwwww