Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Jokowi Hadir di Sidang PN Jaktim, Bawa Ijazah Asli UGM Patahkan Tudingan Roy Suryo
Hukum
24 jam yang lalu
Jokowi Hadir di Sidang PN Jaktim, Bawa Ijazah Asli UGM Patahkan Tudingan Roy Suryo
2
Naskah UU Ketenagakerjaan Tak Jelas, Serikat Pekerja Peringatkan Ancaman Perselisihan Hubungan Industrial
Umum
21 jam yang lalu
Naskah UU Ketenagakerjaan Tak Jelas, Serikat Pekerja Peringatkan Ancaman Perselisihan Hubungan Industrial
3
Ketua Umum KONI Pusat Minta PB ABTI Satukan Indonesia Melalui Bola Tangan
KONI
18 jam yang lalu
Ketua Umum KONI Pusat Minta PB ABTI Satukan Indonesia Melalui Bola Tangan
4
BPS Umumkan Angka Pengangguran Terbaru, Sektor Pertanian dan Perdagangan Jadi Penyelamat Tenaga Kerja Nasional
Umum
22 jam yang lalu
BPS Umumkan Angka Pengangguran Terbaru, Sektor Pertanian dan Perdagangan Jadi Penyelamat Tenaga Kerja Nasional
5
NOC Indonesia Jadikan YOG Dakar 2026 Panggung Diplomasi Peluang Tuan Rumah Kualifikasi Olimpiade LA 2028
KOI
18 jam yang lalu
NOC Indonesia Jadikan YOG Dakar 2026 Panggung Diplomasi Peluang Tuan Rumah Kualifikasi Olimpiade LA 2028
6
‎Adi Kurnia Setiadi: Bongkar Tuntas Penyadapan Ilegal Presiden Prabowo
Hukum
23 jam yang lalu
‎Adi Kurnia Setiadi: Bongkar Tuntas Penyadapan Ilegal Presiden Prabowo
Home  /  Berita  /  PON
Potret Kemiskinan di Tapanuli Selatan

Nyaris Roboh, Satu Keluarga ini Tempati Rumah tak Layak

Nyaris Roboh, Satu Keluarga ini Tempati Rumah tak Layak
Kondisi rumah yang dihuni Melisa dan keluarganya dan terbilang sangat jauh dari layak di Desa Paranjulu, Kecamatan Sipirok, Tapanuli Selatan.
Senin, 06 Februari 2017 20:51 WIB
Penulis: Reza
TAPANULI SELATAN - Rumah yang dihuni Amran Ritonga (45) bersama istri dan anaknya terbilang sangat tidak layak. Selain memprihatinkan, rumah keluarga di Desa Paranjulu, Kecamatan Sipirok  yang selama tiga tahun ditempati ini terlihat kumuh dan nyaris roboh.

Melisa Siregar (40), istri dari Amran Ritonga mengatakan, sekitar tiga tahun yang lalu mereka sudah menempati rumah yang merupakan peninggalan keluarga mereka. Waktu itu, kata Melisa, kondisinya belum separah ini. Namun akibat keterpurukan ekonomi, rumah yang sudah berusia tua itu berangsur-angsur rubuh dan tak sanggup untuk memperbaikinya.

"Kami sudah tiga tahun tinggal di sini, bersama suami dan satu orang anak kami. Baru setahun ini kondisinya begini, mau dibetulin gak ada duit," ujar Melisa baru-baru ini dan mengaku suaminya hanya bekerja sebagai pemulung.

Cerita Melisa, meskipun belum memiliki uang, ia dan keluarganya tetap bertahan di rumah tersebut. Sebab, hanya rumah itu yang digunakan mereka sebagai tempat tinggal.

"Ini rumah warisan, kalau ditinggalkan mau di mana lagi kami tinggal. Suami pun kerjanya tukang panjal (pemulung, RED). Penghasilan pun jauh dari cukup," jelasnya pasrah.

Lukman, salah seorang warga dari desa lain yang mengetahui kondisi rumah warga tersebut juga mengaku miris dan prihatin. Apalagi, lokasinya berada di Kecamatan yang menjadi pusat Pemerintahan Kabupaten Tapsel. Dengan masih ditemukannya rumah seperti ini, dia berharap, baik pemerintah, warga maupun donatur dari pihak lainnya bersimpati dan rela untuk memperbaiki rumah Melisa.

"Kita sangat prihatin dan miris. Artinya, pemerintah harus peka dengan masalah seperti ini, sebab ini bisa menjadi tolak ukur maju, baik dan berkembangnya satu daerah. Mudah-mudahan ada pihak yang simpatik dan terbuka, dan rela memperbaiki rumah keluarga ini," harapnya.

Editor:Fatih
Kategori:Voli, Olympic, PON
wwwwww