Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Ubed Akui Waktu Mepet dan Richie Ingin Hasil Terbaik
Badminton
17 jam yang lalu
Ubed Akui Waktu Mepet dan Richie Ingin Hasil Terbaik
2
Asael, Michelelle, dan Miftaqul Masih Berada di Jalur Positif
Olympic
18 jam yang lalu
Asael, Michelelle, dan Miftaqul Masih Berada di Jalur Positif
3
Seragam Kontingen Indonesia Hasil Kolaborasi Sarinah dan Mills Menggandeng Brand Lokal
Olympic
18 jam yang lalu
Seragam Kontingen Indonesia Hasil Kolaborasi Sarinah dan Mills Menggandeng Brand Lokal
4
Kebutuhan Industri Melonjak, BPS Catat Nilai Impor Nasional Naik 19,67 Persen Sepanjang 2026
Ekonomi
23 jam yang lalu
Kebutuhan Industri Melonjak, BPS Catat Nilai Impor Nasional Naik 19,67 Persen Sepanjang 2026
5
Mutasi 7 Polisi Polrestabes Surabaya Disorot, Buntut Penangkapan 3 Legislator Partai Gerindra
Umum
23 jam yang lalu
Mutasi 7 Polisi Polrestabes Surabaya Disorot, Buntut Penangkapan 3 Legislator Partai Gerindra
6
Senator Dailami: Polri Bersama Masyarakat Jangan Hanya Slogan
Hukum
17 jam yang lalu
Senator Dailami: Polri Bersama Masyarakat Jangan Hanya Slogan
Home  /  Berita  /  Metropolitan

Kecewa, Abbas Tolak Temui Wapres AS

Kecewa, Abbas Tolak Temui Wapres AS
Presiden Palestina, Mahmoud Abbas [Reuters]
Minggu, 10 Desember 2017 08:21 WIB

YERUSSALEM - Presiden Palestina Mahmoud Abbas tidak mau bertemu dengan Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Mike Pence saat kunjungan Pence ke wilayah tersebut bulan ini. Langkah AS klaim Yerusalem Ibu Kota Israel mengecewakan.

Menurut Menteri Luar Negeri Palestina, pengakuan AS bahwa Yerusalem merupakan Ibu Kota Israel merupakan sebuah penghinaan bagi bangsa Palestina, Sabtu, (9/12/2017).

Kekerasan meletus pada hari ketiga di Gaza. Ini dampak dari pengumuman Presiden Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel. Trump mengubah kebijakan AS di Timur Tengah yang telah dilaksanakan selama beberapa dekade.

Serangan udara Israel menewaskan dua orang Palestina pada hari Sabtu setelah gerilyawan Palestina menembakkan roket ke Israel pada hari Jumat. Hari Jumat disebut "Hari Kemarahan" oleh faksi-faksi di Palestina yang kecewa dengan langkah Trump.

Pengakuan Trump terhadap Yerusalem jadi Ibu Kota Israel telah membuat marah dunia Arab dan membuat marah sekutu Barat. Ini merupakan pukulan bagi upaya perdamaian dan berisiko memicu lebih banyak kekerasan di wilayah tersebut.

Pemerintah Israel menyatakan, seluruh Yerusalem adalah ibu kotanya. Warga Palestina menginginkan Yerusalem Timur sebagai ibu kota negara merdeka mereka di masa depan.

Sebagian besar negara menganggap Yerusalem Timur—yang dianeksasi Israel setelah perang tahun 1967—nasibnya harus diputuskan oleh negosiasi Israel-Palestina di masa depan.

Administrasi Trump mengatakan, pihaknya masih berkomitmen untuk melakukan pembicaraan dengan Palestina-Israel. Ibu Kota Israel akan berada di Yerusalem dengan rencana perdamaian yang serius. Perundingan yang hampir mati dapat dihidupkan kembali dengan menghapus kebijakan yang sudah ketinggalan zaman.

Menteri Luar Negeri Palestina Riyad al-Maliki mengatakan, warga Palestina akan mencari mediator pembicaraan damai baru, dan bukan AS. Palestina akan meminta Resolusi Dewan Keamanan PBB atas keputusan Trump.

"Kami akan mencari mediator baru dari saudara-saudara Arab kami dan masyarakat internasional," Maliki mengatakannya kepada wartawan di Kairo sebelum pertemuan Liga Arab untuk membahas keputusan Yerusalem yang diserukan oleh Trump.

Editor:TAM
Sumber:Jawapos.com
Kategori:Metropolitan
wwwwww