Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Jupiter Soroti Makna Demokrasi AS, Suara Rakyat Tak Boleh Dibeli
Umum
14 jam yang lalu
Jupiter Soroti Makna Demokrasi AS, Suara Rakyat Tak Boleh Dibeli
2
BMKG Ramalkan Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini
Metropolitan
20 jam yang lalu
BMKG Ramalkan Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini
3
Tak Ingin Hanya Fokus Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Nasional
Ekonomi
11 jam yang lalu
Tak Ingin Hanya Fokus Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Nasional
4
Antarkan Tim Asia Raih Emas FEI Continental, Dinov Berjuang di Invidual Jumping
Olympic
9 jam yang lalu
Antarkan Tim Asia Raih Emas FEI Continental, Dinov Berjuang di Invidual Jumping
5
Pemuda LIRA Desak Polri Terapkan Pasal Hukuman Mati Penyadap Presiden
Hukum
19 jam yang lalu
Pemuda LIRA Desak Polri Terapkan Pasal Hukuman Mati Penyadap Presiden
6
Hadiri Pelantikan PP Hikmahbudhi, Menpora Erick Ajak Pemuda Fokus Peguatan SDM dan Ekonomi
Kemenpora
8 jam yang lalu
Hadiri Pelantikan PP Hikmahbudhi, Menpora Erick Ajak Pemuda Fokus Peguatan SDM dan Ekonomi
Home  /  Berita  /  Riau

Cerdasnya Syamsuar Melihat Peluang Pertumbuhan Ekonomi dari Pabrik Tapioka di Kandis

Cerdasnya Syamsuar Melihat Peluang Pertumbuhan Ekonomi dari Pabrik Tapioka di Kandis
Calon Gubernur Riau nomor 1, Drs H Syamsuar MSi
Sabtu, 14 April 2018 16:20 WIB
Penulis: Ira Widana
PEKANBARU - Satu-satunya pabrik tapioka di Riau ada di Kecamatan Kandis, Kabupaten Siak yang berdiri di masa kepemimpinan Syamsuar sebagai Bupati Siak. Lokasi pabrik ini tepatnya berada di simpang Gelombang arah Petapahan.

Bupati yang kini mencalonkan diri sebagai Gubernur Riau nomor urut 1 ini melihat peluang ekonomi yang bagus dari berdirinya pabrik tapioka milik PT Asrindo Citrasubur Makmur (ACM).

Selain dapat meningkatkan PAD Kabupaten Siak, keberadaan Pabrik Tapioka yang baru beroperasi 5 April 2018 dengan produksi 125 ton Tapioka perhari ini juga akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

Masyarakat bisa menjadi pekerja di pabrik tersebut dengan upah yang layak sesuai dengan Upah Minimum Kabupaten Siak, selain itu juga masyarakat Riau yang memiliki kebun singkong tidak perlu menjual singkongnya jauh-jauh ke Medan.

"Alhamdulillah sejak beroperasi, pabrik ini dapat memproduksi 150 ton singkong perhari. Ditargetkan nanti Agustus bisa mencapai 500 ton perhari. Dan kami perlu 3.500 hektar panen singkong pertahun," kata Hasan Basri yang merupakan Ketua Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) wilayah Riau.

Diceritakan Juragan Singkong yang rela mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Camat Mandau dan juga Aparatur Sipil Negara ini, pertama niat ingin membangun pabrik tapioka ini adalah di Duri, Kecamatan Mandau dan Balairaja Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis.

"Karena terbentur kawasan hutan, maka proses 6 bulan itu stag. Dan PT ACM berjumpa denga Bupati Siak, Syamsuar dan menyampaikan idenya membangun pabrik tapioka dengan dana yang tidak sedikit yakni mencapai Rp 100 miliar. Hebatnya respon pak Syamsuar bagus dan izin cepat keluar," sebut Hasan Basri lagi.

Seluruh Dinas terkait dikumpulkannya untuk membantu proses percepatan administrasi izin pabrik tersebut. Syamsuar juga mengumpulkan kelompok tani dan masyarakat yang memiliki kebun sawit yang harus dilakukan replanting.

"Bagi pak Syamsuar kala itu solusi menanam singkong selama replanting dilakukan sangat bagus. Apalagi lagi pabrik tapioka akan dibangun di Kandis. Begitu pabrik selesai, warga sudah bisa panen singkong dan jual hasil panennya ke pabrik tapioka ACM Kandis," kata Mantan Camat Mandau ini.

Terbukti pabrik Tapioka di Siak berkembang cukup bagus, Pemkab Bengkalis juga berkeinginan pabrik tapioka dari PT Berkah Cassava Indonesia Makmur segera berdiri di wilayah Kabupaten Bengkalis.

"Saat ini di Bengkalis juga sedang proses Amdal, Bupati Bengkalis juga ingin pabrik tapioka berdiri di Duri. Namun cepatnya respon pak Syamsuar menarik investor membuka peluang usaha di Siak memang tidak kita pungkiri," sebut Hasan lagi.

Keberadaan pabrik tapioka di Kandis ini juga akan sangat membantu perusahaan PUPL dan Paper di Provinsi Riau dalam memenuhi bahan pemutih kertas sebanyak 6.000 ton perbulannya, seperti yang biasa mereka import dari Thailand.

"Jadi tidak hanya membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat Siak, keberadaan pabrik ini juga sangat membantu perusahaan kertas di Riau. Inilah kenapa saya menyebut pak Syamsuar sangat cerdas dalam melihat peluang pertumbuhan ekonomi untuk masyarakat Siak," sebutnya lagi. ***

Kategori:Metropolitan, Riau, PON
wwwwww