Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Hadiri Pelantikan PP Hikmahbudhi, Menpora Erick Ajak Pemuda Fokus Peguatan SDM dan Ekonomi
Kemenpora
22 jam yang lalu
Hadiri Pelantikan PP Hikmahbudhi, Menpora Erick Ajak Pemuda Fokus Peguatan SDM dan Ekonomi
2
Direktur LBH JARAK Sebut "Genk Solo" Mainkan Issue Diversion
Umum
21 jam yang lalu
Direktur LBH JARAK Sebut Genk Solo Mainkan Issue Diversion
3
Antarkan Tim Asia Raih Emas FEI Continental, Dinov Berjuang di Invidual Jumping
Olympic
24 jam yang lalu
Antarkan Tim Asia Raih Emas FEI Continental, Dinov Berjuang di Invidual Jumping
4
PDS HB Jassin Masuk MOWCAP, Warisan Sastra Jakarta Diakui Dunia
Metropolitan
22 jam yang lalu
PDS HB Jassin Masuk MOWCAP, Warisan Sastra Jakarta Diakui Dunia
5
Kecerdikan Igor Tolic Baca Arah Permainan Melbourne Victory
Sepakbola
23 jam yang lalu
Kecerdikan Igor Tolic Baca Arah Permainan Melbourne Victory
6
Timnas Indonesia Gelar Pemusatan Latihan di Bali pada FIFA Matchday November
Sepakbola
21 jam yang lalu
Timnas Indonesia Gelar Pemusatan Latihan di Bali pada FIFA Matchday November
Home  /  Berita  /  Riau

DPRD Riau Sayangkan Minimnya Serapan Anggaran, Noviwaldy: Birokrasi Panjang dan Berbelit-Belit..

DPRD Riau Sayangkan Minimnya Serapan Anggaran, Noviwaldy: Birokrasi Panjang dan Berbelit-Belit..
Selasa, 17 April 2018 18:04 WIB
Penulis: Winda Mayma Turnip
PEKANBARU - DPRD Riau menyayangkan minimnya serapan anggaran yang selalu terjadi dari tahun ke tahun dari APBD yang ada, padahal bulan ini sudah merupakan triwulan kedua. Tidak hanya terjadi di Provinsi Riau, namun juga terjadi di seluruh provinsi di Indonesia.

Hal itu disampaikan Wakil Ketua DPRD Riau Noviwaldy Jusman, yang menyesalkan birokrasi di Indonesia terlalu panjang dan berbelit- belit. Akibatnya, serapan anggaran minim karena program - program yang dirancang belum dapat di realisasikan oleh Pemprov Riau.

"Setiap tahun selalu seperti ini, walaupun APBD sudah kita sahkan dari jauh hari, tapi tetap saja untuk penyerapannya perlu proses - proses lain lagi. Jadinya ya, program-program itu belum bisa dijalankan, karena masih harus menunggu proses dalam birokrasi itu," ujarnya, Selasa, (17/4/2018).

Noviwaldy menyebutkan, akibat birokrasi yang bertele-tele ini, program - program yang 'tersendat' itu baru mulai bisa dijalankan pada triwulan ke dua. Meskipun, belum diketahui sudah berapa persen dana yang terserap dalam triwulan pertama 2018 ini.

"Kita kan harus mengikuti aturan, makanya program - program itu baru bisa dijalankan pada triwulan kedua ini. Birokrasinya lama," tegasnya.

Sementara itu, dari informasi yang beredar dana APBD 2018 sampai triwulan pertama diantaranya telah diserap untuk belanja pegawai. ***

wwwwww