Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Michelle Ukir Sejarah, Renang Sumbang Medali Ketiga Indonesia
Olympic
21 jam yang lalu
Michelle Ukir Sejarah, Renang Sumbang Medali Ketiga Indonesia
2
Aira Pertama Kali Rasakan Triathlon Kelas Dunia
Olympic
21 jam yang lalu
Aira Pertama Kali Rasakan Triathlon Kelas Dunia
3
Prakiraan Cuaca BMKG Jabodetabek, Hujan Berpeluang Turun Mulai Sore hingga Malam Hari Ini
Metropolitan
12 jam yang lalu
Prakiraan Cuaca BMKG Jabodetabek, Hujan Berpeluang Turun Mulai Sore hingga Malam Hari Ini
4
Jelang Jeda Internasional, Persib Bidik Kemenangan Hadapi Java United FC
Sepakbola
21 jam yang lalu
Jelang Jeda Internasional, Persib Bidik Kemenangan Hadapi Java United FC
5
Messidoro Puas Jadi Pemain Terbaik Usai Tumbangkan PSIM
Sepakbola
21 jam yang lalu
Messidoro Puas Jadi Pemain Terbaik Usai Tumbangkan PSIM
6
Dijamu PSS, Bhayangkara FC Berharap Bisa Curi Gol Lebih Dulu
Sepakbola
21 jam yang lalu
Dijamu PSS, Bhayangkara FC Berharap Bisa Curi Gol Lebih Dulu
Home  /  Berita  /  Badminton

Cak Imin Imbau Masyarakat Desa Manfaatkan Bandara Kertajati

Cak Imin Imbau Masyarakat Desa Manfaatkan Bandara Kertajati
Rabu, 30 Mei 2018 14:48 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
MAJALENGKA - Wakil Ketua MPR RI Abdul Muhaimin Iskandar mengimbau masyarakat desa di Kabupaten Majalengka memanfaatkan keberadaan Bandara Kertajati, yang sudah mulai beroperasi sejak 24 Mei 2018 lalu.

Menurut Muhaimin alias Cak Imin, dengan mengaktifkan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes), masyarakat punya peluang mengembangkan ekonomi kreatif yang khas, serta berdaya saing tinggi, guna menarik turis domestik dan asing.

"Butuh strategi dan setting. Keberadaan bandara bukan jadi beban bagi masyarakat, tapi pendorong kemajuan desa," ujar Cak Imin dalam acara Jelajah Desa yang masih merupakan rangkaian program Safari Cinta (Cak Imin untuk Indonesia), di Majalengka, Jawa Barat, pada Rabu (30/5).

Cak Imin mengatakan, saat ini masyarakat sudah diberi kebebasan melakukan pembangunan fisik dan ekonomi, sesuai amanah Undang-undang Desa Nomor 6 Tahun 2014. Sehingga, desa tak lagi berposisi sebagai objek, melainkan subjek pembangunan.

Kondisi itu, lanjutnya, berbeda dari kebijakan zaman orde baru, di mana desa didikte oleh pusat. Sehingga tak heran, partisipasi masyarakat di tingkat bawah terkesan pasif.

"Dengan cara itu, kita semua bisa mendorong kemajuan lebih cepat dan mendetail, serta menyesuaikan dengan perubahan yang serba cepat," terang Cak Imin.***

wwwwww