Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Riko Simanjuntak Minta Maaf Kepada Fans PSS Sleman
Sepakbola
23 jam yang lalu
Riko Simanjuntak Minta Maaf Kepada Fans PSS Sleman
2
Alasan Bernando Tavares Tunjuk Yuran Fernandes Jadi Eksekutor
Sepakbola
23 jam yang lalu
Alasan Bernando Tavares Tunjuk Yuran Fernandes Jadi Eksekutor
3
Francisco Rivera Unjuk Kualitas Dalam Alirkan Bola dan Ambil Keputusan
Sepakbola
23 jam yang lalu
Francisco Rivera Unjuk Kualitas Dalam Alirkan Bola dan Ambil Keputusan
4
Darije Kalezic Ungkap Kunci Hentikan Tren Cetak Gol Bhayangkara FC
Sepakbola
24 jam yang lalu
Darije Kalezic Ungkap Kunci Hentikan Tren Cetak Gol Bhayangkara FC
5
Pelatih Borneo FC Soroti Banyak Peluang Terbuang
Sepakbola
23 jam yang lalu
Pelatih Borneo FC Soroti Banyak Peluang Terbuang
6
Madura United FC Raih Tiga Penghargaan Bulan September 2026
Sepakbola
23 jam yang lalu
Madura United FC Raih Tiga Penghargaan Bulan September 2026
Home  /  Berita  /  Badminton

Ketua DPR: Demokratisasi Harus Berpijak pada Akar Budaya Nasional

Ketua DPR: Demokratisasi Harus Berpijak pada Akar Budaya Nasional
Acara buka bersama Ketua DPR RI, Bambang Soesatyo dengan Koordinatoriat Wartawan Parlemen. (GoNews.co)
Sabtu, 09 Juni 2018 11:17 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Demokratisasi tidak boleh mengeliminasi semua akar budaya nasional. Jangan juga menunggangi kebebasan berbicara, termasuk mengritik, untuk merusak rasionalitas publik.

Hal ini diungkapkan Ketua DPR RI, Bambang Soesatyo saat menggelar silaturahmi dan ramah tamah serta buka bersama dengan Koordinatoriat Wartawan Parlemen, Jumat (8/6/2018) di kediamannya.

"Akar budaya nasional tentang kesantunan dan rasionalitas harus tetap tegak agar harmoni dalam hidup berbangsa dan bernegara yang sudah terwujud tidak rusak," ujarnya.

Hal ini kata Bamsoet, sangat penting bagi semua elemen masyarakat untuk saling mengingatkan lagi akan urgensi merawat perilaku ramah dan santun yang sejatinya adalah akar budaya nasional.

Dari perilaku ramah dan santun yang melekat pada semua suku dan golongan itulah terbangun pondasi harmoni kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Keramahan dan semangat saling menghormati itu mendorong masyarakat Indonesia mewujudkan saling pengertian dalam menyelesaikan banyak persoalan atau musyawarah untuk mufakat. Jangan lupa bahwa sejak dahulu, komunitas internasional sudah menerima fakta tentang keramahan dan kesantunan sebagai ciri khas masyarakat Indonesia," tandasnya.

Selain santun tambah Mantan Ketua Komisi III DPR ini, masyarakat Indonesia juga dikenal sebagai komunitas yang agamis dan bersemangat gotong royong.

"Kini, demokratisasi pada semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara boleh saja terus berproses. Tetapi, semua tahapan proses demokratisasi itu tidak boleh merusak akar budaya nasional, utamanya keramahan dan kesantunan itu. Masyarakat Indonesia tidak boleh tercerabut dari akar budayanya sebagai salah satu elemen penting kehidupan," bebernya.

Kalau masyarakat dibiarkan mengingkari akar budayanya kata dia, yang akan terjadi adalah disharmoni. Masing-masing merasa paling benar dan ingin menang sendiri. Disharmoni yang berlarut-larut – apalagi jika salah kelola – akan menimbulkan kerusakan yang bisa saja sulit dikalkulasi.

"Ada relevansinya jika setiap elemen masyarakat mengingatkan lagi akan pentingnya untuk selalu berpijak pada akar budaya nasional yang telah ditanamkan dari generasi ke generasi oleh para leluhur," urainya.

Lunturnya keramahan dan kesantunan sebagai ciri khas bangsa sudah dirasakan dalam satu-dua dekade terakhir. Persoalan ini bahkan sering menjadi materi obrolan di berbagai kesempatan.

"Di ruang publik, masyarakat kehilangan panutan. Akhir-akhir ini, perilaku sejumah figur publik sama sekali tidak mencerminkan sosok yang ramah dan santun. Memilih kata-kata kasar saat merilis pernyataan publik. Tak hanya menyerang komunitas atau lembaga lain, tetapi juga individu serta mempertontonkan sikap bermusuhan dan nafsu menghancurkan," cerita politisi Golkar ini.

Bahkan ujar Bamzoet, tanpa disadari, muncul semangat merasa diri dan lembaganya paling hebat. "Paling bersih dan sikap arogansi yang berlebihan. Sikap ini sangat berbahaya dan jauh dari budaya santun Indonesia," pungkasnya. ***

wwwwww