Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Kasus Sadap Terungkap, Ical Syamsudin: Kontra Intelijen Prabowo Berjalan
Hukum
19 jam yang lalu
Kasus Sadap Terungkap, Ical Syamsudin: Kontra Intelijen Prabowo Berjalan
2
Jika Presiden Diduga Disadap Ilegal, SGY Pertanyakan Perlindungan Privasi Rakyat
Hukum
15 jam yang lalu
Jika Presiden Diduga Disadap Ilegal, SGY Pertanyakan Perlindungan Privasi Rakyat
3
Mantan Presiden SBY Soroti Penyadapan Prabowo Subianto, Tiga Jenderal Polisi Resmi Ditahan
Umum
16 jam yang lalu
Mantan Presiden SBY Soroti Penyadapan Prabowo Subianto, Tiga Jenderal Polisi Resmi Ditahan
4
Asael dan Sashenka Buktikan Atlet Muda Indonesia Berpotensi Bersaing di Panggung Dunia
Olympic
12 jam yang lalu
Asael dan Sashenka Buktikan Atlet Muda Indonesia Berpotensi Bersaing di Panggung Dunia
5
KJP Plus dan KJMU Mulai Cair 3 November, Total Anggaran Capai Rp164,67 Miliar
Metropolitan
11 jam yang lalu
KJP Plus dan KJMU Mulai Cair 3 November, Total Anggaran Capai Rp164,67 Miliar
6
Ketua Umum PB KAMI Dukung Langkah Tegas Kapolri Bersihkan Institusi
Hukum
21 jam yang lalu
Ketua Umum PB KAMI Dukung Langkah Tegas Kapolri Bersihkan Institusi
Home  /  Berita  /  Badminton
Asian Para Games 2018

Buntut Kasus Jannah, Federasi Judo Internasional Diharapkan Lentur Dalam Aturan

Buntut Kasus Jannah, Federasi Judo Internasional Diharapkan Lentur Dalam Aturan
Menpora Imam Nahrawi bersama pejudo putri Indonesia, Miftahul Jannah yang terkena diskualifikasi di Asian Para Games III. (INAPGOC)
Selasa, 09 Oktober 2018 17:19 WIB
Penulis: Azhari Nasution

JAKARTA – Pejudo putri Indonesia, Miftahul Jannah jadi trending topic di media sosial. Penyebabnya adalah dia enggan membuka hijab jelang tampil di kelas 53 kg putri blind judo Asian Para Games III.

Berbagai reaksi mengalir dari kalangan masyarakat di tanah air. Banyak yang mempertanyakan regulasi terkait pemakaian atribut di kepala bagi judoka. Miftah yang seharusnya bertanding melawan judoka Mongolia, Oyun Gantulga, Senin (9/10), menolak melepas hijab. Dia pun akhirnya didiskualifikasi.

Pro dan kotra pun merebak setelah itu. Namun, sesuai regulasi, memang ada aturan cabang olahraga judo yang tidak memperbolehkan judoka mengenakan penutup kepala.

Fakta itu diakui Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi dalam jumpa pers di GBK Arena, Selasa (9/10). Pria asal Bangkalan ini memahami keputusan Miftah yang enggan melepas hijab terkait prinsip.

“Sebagai perwakilan pemerintah, kami menghormati keputusan Miftah yang memegang teguh prinsip. Apa yang dilakukan judoka putri kita ini harus sangat diapresiasi,” kata Imam.

“Mengenai regulasi, ini yang harus kita perhatikan. Agar, ke depan tidak ada lagi kejadian seperti ini. Semua pihak, termasuk dari NPC harus memperhatikan aturan.”

Pernyataan Imam beralasan karena Miftah didiskualifikasi diawali kesalahpahaman dari tim pelatih. Itu ditegaskan Ketua Umum Komite Paralimpiade Nasional (NPC) Indonesia Senny Marbun terkait pelatih judo yang kurang menguasai bahasa Inggris hingga keliru mengartikan regulasi yang ada.

“Kami berharap, ke depannya Federasi Judo Internasional bisa membuat regulasi yang lentur. Misalnya, penggunaan jilbab bagi atlet muslimah dengan desain yang tidak membahayakan seperti pada cabang olahraga lainnya,” Imam menjelaskan.

Dalam cabang olahraga bela diri lain seperti pencak silat, karate, dan taekwondo, penggunaan penutup kepala diperbolehkan oleh federasi internasionalnya. Sedangkan judo melarang atlet mengenakan penutup kepala seperti hijab karena alasan keselamatan dan keamanan. Larangan Federasi Judo Internasional terkait atribut atau busana di kepala memang beralasan. Pasalnya, judo berbeda dengan karate atau taekwondo. Pergerakan antaratlet di judo lebih dekat. Alhasil, dengan pemakaian hijab, dikhawatirkan bakal membuat judoka tercekik lehernya yang tentu dapat membahayakan.***

wwwwww