Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
KJP Plus dan KJMU Mulai Cair 3 November, Total Anggaran Capai Rp164,67 Miliar
Metropolitan
23 jam yang lalu
KJP Plus dan KJMU Mulai Cair 3 November, Total Anggaran Capai Rp164,67 Miliar
2
Asael dan Sashenka Buktikan Atlet Muda Indonesia Berpotensi Bersaing di Panggung Dunia
Olympic
23 jam yang lalu
Asael dan Sashenka Buktikan Atlet Muda Indonesia Berpotensi Bersaing di Panggung Dunia
3
PP FTI Prihatin dan Kecewa Triathlon Tak Dipertandingkan di SEA Games 2027
SEA Games
22 jam yang lalu
PP FTI Prihatin dan Kecewa Triathlon Tak Dipertandingkan di SEA Games 2027
4
NOC Indonesia Cermati Sejumlah Cabor Unggulan Tak Dipertandingkan di SEA Games 2027
SEA Games
23 jam yang lalu
NOC Indonesia Cermati Sejumlah Cabor Unggulan Tak Dipertandingkan di SEA Games 2027
5
Kalahkan Jeon Hyeok Jin, Ginting Melaju ke Babak 16 Besar
Sepakbola
20 jam yang lalu
Kalahkan Jeon Hyeok Jin, Ginting Melaju ke Babak 16 Besar
6
‎Sarana Jaya Gandeng BPKP Perkuat Tata Kelola dan Pengawasan Perusahaan
Ekonomi
23 jam yang lalu
‎Sarana Jaya Gandeng BPKP Perkuat Tata Kelola dan Pengawasan Perusahaan
Home  /  Berita  /  Badminton

Mahyudin: Waspadai Proxy War

Mahyudin: Waspadai Proxy War
Senin, 03 Desember 2018 19:37 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Wakil Ketua MPR Mahyudin mengakui revolusi mental belum berjalan dengan maksimal. Ini bisa dilihat dari mental kita yang mudah diadu-domba, ujaran kebencian serta hoax.

"Mental-mental itu harus diubah dengan mental produktif," kata Mahyudin dalam pengantar Sosialisasi Empat Pilar MPR kepada warga kelurahan Muara Rapak, kota Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (3/12/2018).

Sosialisasi ini merupakan kerjasama MPR dengan Forum Masyarakat Peduli Lingkungan (FMPLB) kota Balikpapan.

Mahyudin mengingatkan sasaran revolusi mental adalah perubahan menjadi mental-mental produktif, bukan mental malas, mudah diadu-domba, menyebar hoax dan ujaran kebencian.

Salah satu kekhawatiran Mahyudin adalah mental generasi muda yang mudah dirusak dengan narkoba. Untuk merusak sebuah bangsa, kata Mahyudin, tidak perlu dengan serangan militer.

"Cukup dengan cara merusak generasi muda. Kalau generasi muda rusak, hancurnya sebuah bangsa hanya menunggu waktu," ujarnya.

Bukan hanya dengan narkoba, mental generasi muda juga dirusak dengan budaya asing melalui teknologi semisal game online. Content game online yang berisi kekerasan bahkan pornografi tidak sesuai dengan nilai luhur bangsa.

"Itulah perang asimetris atau perang proxy war. Perang yang diwakili. Perang modern ini bukan hanya perang dengan senjata, termasuk perang ideologi, perang dagang. Semua ingin dirusak oleh bangsa asing," jelasnya.

Untuk itu, lanjut Mahyudin, MPR turun ke bawah sampai ke kelurahan mensosialisasikan Empat Pilar MPR.

"Empat Pilar MPR inilah yang menjadi alat pemersatu bangsa untuk membentengi dari proxy war itu," ujarnya. ***

wwwwww