Gempa Mentawai Sabtu Kemarin Dekat Zona Megathrust, BMKG Minta Warga Sumbar Tingkatkan Kewaspadaan

Gempa Mentawai Sabtu Kemarin Dekat Zona Megathrust, BMKG Minta Warga Sumbar Tingkatkan Kewaspadaan
ilustrasi
Minggu, 03 Februari 2019 20:40 WIB
PADANG - Gempa yang terjadi di zona subduksi Mentawai perlu diwaspadai, karena terjadi dekat zona megathrust yang masih menyimpan energi sangat besar. Rentetan gempa bumi bisa saja mengganggu keseimbangan segmen-segmen patahan megathrust yang berada dekat pusat gempa.

Gempa tektonik di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat (Sumbar), terjadi Sabtu (2/3) lalu pukul 16.27 WIB dengan kekuatan 6,1 Skala Richter (SR). Pusat gempa pada kedalaman 26 kilometer.

Gempa paling kuat berpusat di laut pada jarak 105 kilometer arah Tenggara Kota Tua Pejat, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumbar. Gempa ini diikuti 52 kali gempa susulan. Namun hanya ada lima aktivitas gempa yang guncangannya dirasakan warga.

Gempa ini masuk klasifikasi gempa dangkal akibat aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia. Tepatnya di zona megathrust segmen Pagai yang merupakan zona subduksi lempeng yang berada di Samudra Hindia sebelah barat Sumatra.

Konvergensi kedua lempeng tersebut membentuk zona subduksi yang menjadi salah satu kawasan sumber gempa bumi yang sangat aktif di wilayah Sumatra. "Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa ini dipicu oleh penyesaran naik (thrust fault)," ujar Deputi Bidang Geofisika BMKG, Muhamad Sadly, Minggu (3/2) di Jakarta seperti dilansir tribunnews.com.

Meski gempa Sabtu lalu tidak merusak dan tidak ada korban jiwa, namun ahli geologi Sumbar, Ade Edward, mengimbau warga meningkatkan kewaspadaan. Karena rentetan gempa bisa saja mengganggu keseimbangan segmen-segmen patahan megathrust yang ada dekat pusat gempa.

"Jika benar demikian, tidak menutup kemungkinan mengganggu stabilitas equilibrium (keseimbangan) sehingga terpicu untuk melepas kunciannya yang dapat menyebabkan terjadinya gempa susulan berikutnya. Gempa bumi megathrust Sabtu lalu bertipe slow earthquake, gempa yang dirasa mengayun," ujar Ade Edward.

Perihal apakah gempa itu merupakan gempa pembuka, Ade berpendapat, sebaiknya dianggap saja sebagai gempa pembuka, sehingga bisa lebih waspada. Apalagi, beberapa kali guncangan yang cukup lama durasinya dialami oleh segmen-segmen di sekitar pusat gempa tadi.

"Bisa saja memicu gempa pada segmen patahan di sebelahnya. Kejadian seperti ini sudah umum. Tidak ada yang bisa tahu sampai seberapa pengaruh guncangan itu terhadap segmen patahan di sekitar pusat gempa. Sementara kondisi megathrust Mentawai ibarat sudah gelas retak," tutur Ade. (rin/vva/tnc)

Editor:arie rf
Sumber:tribunnews.com
Kategori:GoNews Group, Peristiwa, Sumatera Barat

wwwwww