Loading...    
           
Pergerakan Politik Pemilu 2019-The Real Election

Membaca Jejak Propagandis yang Mengancam Pemilu 2019

Membaca Jejak Propagandis yang Mengancam Pemilu 2019
Selasa, 26 Februari 2019 16:31 WIB
Penulis: Muhammad Dzulfiqar
JAKARTA - Proses Pemilu serentak 2019 tengah berlangsung. Berbagai peristiwa dipotret sebagai bentuk agenda politik kelompok-kelompok Propagandis dengan tujuan untuk menggagalkan Pemilu atau setidaknya merongrong pemerintahan sang pemenang Pemilu 17 April mendatang.

Hal tersebut diungkap oleh Pengamat Politik dari Etos Indonesia Institute (EII), Iskandarsyah kepada GoNews.co, Senin (25/02/2019). Iskandarsyah menuturkan, kelompok propagandis telah bergerak sejak lama dan terbilang semi berhasil-dengan begitu mudahnya karena tengah menyusup ke tubuh dua kubu petarung Pemilu 2019.

"Mereka ada di dua kubu. Yang nggak pengen ada Pemilu. Yang nggak pengen Jokowi atau Prabowo jadi Presiden," kata Iskandarsyah.

Dalam bincang santai dengan GoNews.co di salah satu markas Tim Kampanye Nasional (TKN) 01, Jokowi-Amin yang berlokasi di sekitaran Taman Proklamasi, Jakarta Pusat itu, Iskandarsyah mengatakan, kelompok propagandis yang tengah menjadi parasit di tubuh TKN maupun BPN Prabowo-Sandi itu telah bergerak sejak lama.

"Dari kasusnya Ratna Sarumpaet, pembakaran bendera dan atributnya Demokrat, pembakaran bendera hitam (liwa/rayah), berentet itu. Itu semua skenarionya mereka. Pilok (vandalisme) Jokowi PKI di Lampung, penolakan-penolakan capres-cawapres; KMA masuk Garut ditolak, Prabowo masuk Jawa Tengah ditolak. Itu semua mainan dia," tutur Iskandarsyah.

Termasuk, kata Iskandarsyah, peristiwa pembakaran-pembakaran mobil warga di Semarang dan viralnya video Ibu-Ibu di Karawang yang seolah kalau Jokowi menang maka Islam akan dirugikan.

Sebetulnya, kata Iskandarsyah, meski pergerakan kelompok propagandis terbilang senyap, tapi isu yang dikembangkan masih mudah untuk dibaca. Isu agama dan kesejahteraan, menjadi tajuk rencana para penggagal Pemilu itu.

"Dan paling dominan itu Agama. Karena Indonesia ini paling besar mayoritas Islamnya, kedua Pakistan," kata Iskandarsyah.

Media sosial maupun pers (tanpa disadari), kata Iskandar, tengah menjadi ruang gema pergerakan mereka. "Kelompoknya ini pokonya hebat, main di dua kaki; baik di 01 maupun 02. 02 lempar bola panas, disambut ama 01. 01 lempar bola panas, disambut ama 02,".

Pergerakan kelompok propagandis ini, kata Iskandarsyah, secara terus-menerus menggempur Prabowo Soebianto dan Jokowi. "Diadu terus. Pendukung yang fanatik pun akhirnya menjadi berang. Tanpa disadari, itu ada yang main di dalem,".

Jika Pemilu gagal, lalu terjadi kerusuhan, kata Iskandarsyah, saat itulah kelompok Propagandis menang dan perubahan sistem negara Indonesia yang menjadi hajat mereka pun, kian dekat untuk tercapai.

"Tujuannya memang itu. Karena kalau Pak Jokowi jadi presiden, Pak Prabowo jadi presiden, kita tetap berdasarkan pada Pancasila dan UUD 1945. Mereka nggak mau berafiliasi ke Pancasila dan UUD 1945-mereka menentang," tukas Iskandarsyah.

Saat ditanya, siapakah kelompok propagandis yang menjadu parasit politik tersebut, Iskandarsyah mengatakan, "Kelompok kiri, tar saya salah. Kelompok Islam, tar saya salah,"

Namun yang pasti, tegas Iskandarsyah, kelompok tersebut memiliki pemimpin yang bukan kelas orang-orang biasa melainkan, sosok-sosok yang sangat punya pengaruh.

"Gak mungkin misalnya, ngomong ke Pak Jokowi, Pak Jokowi langsung Acc. Atau ngomong ke Pak Prabowo, Pak Prabowo langsung Oke, Acc," kata Iskandar, seolah pimpinan kelompok propagandis itu bersentuhan langsung dengan Calon Presiden yang ada saat ini.

Peran Intelijen

Iskandarsyah meyakini, Badan Intelijen Negara (BIN) telah sangat mengetahui keberadaan dan pergerakan propagandis yang menjadi parasit politik di kubu BPN 02 dan TKN 01 ini.

"Kalau saya lihat gerakannya, intelijen main-intelijen ada di belakang itu. Intelijen pasti paham," kata Iskandarsyah.

Ia mengungkapkan, pergerakan politik senantiasa bersentuhan dengan pergerakan intelijen. "Karena setiap pergerakan politik, pasti ada permainan intelejennya, pasti,".

Operasi intelijen di pergerakan politik pun, dinilai Iskandar memang wajar terjadi. " Maen dong, karena kan punya kepentingan (tugas mengamankan negara, red). Sekarang kan lagi melobi; ayo 01 mau ngasih berapa? Mau ngasih 100 ribu US, Ok. Ke 02, 02 mau ngasih berapa? Mau ngasih 200 ribu US. Ya belain 02, dimainin,".

BIN, diharap Iskandarsyah, dapat membuka data kelompok propagandis baik kepada Jokowi, maupun Prabowo, termasuk sosok pimpinannya yang terpotret dekat dengan para Capres tersebut, sebelum agenda propaganda membuat babak belur Indonesia.

"Ada lah analisa saya, tapi saya gak mungkin juga dong. Kalo saya dah jadi Kepala BIN, saya ceritain," kata Iskandarsyah saat ditanya apakah dirinya telah meng-capture sosok pemimpin kelompok Propagandis.

"Saya tahu orangnya, tapi saya nggak mau ngomong. Yang punya kapasitas untuk ngomong itu kepala BIN. Kalau detailnya, tanya ama Budi Gunawan! Kan dia Kepala BIN. Kecuali saya gantiin Budi Gunawan, saya ngomong. Budi Gunawan mau nggak diganti ama saya?" ujar Iskandarsyah.

Jika Golput Tinggi, Agenda Propagandis Sukses 80 Persen



Pengamatan Iskandarsyah menyebutkan, agenda kelompok propagandis yang menjadi parasit politik di tubuh TKN 01 dan BPN 02, telah mencapai angka 60 persen. Jika angka Golput dalam Pemilu serentak 2019 tinggi, maka ini menyumbang 20 persen terhadap capaian agenda Propagandis.

"Nah di saat pemilih bingung ini, agenda Golput masuk," kata Iskandarsyah menjelaskan bahwa Propagandis bekerja dengan mengombang-ambing pikiran pemilih.

Tapi, kata Iskandarsyah, tidak semua orang Golput bisa dikatakan terlibat atau menjadi bagian dari tubuh kelompok propagandis.

"Saya pengen suatu aksi, nggak mungkin langsung saya yang mimpin. Saya punya temen-temen, saya punya junior-junior. Junior saya aja yang disuruh lempar bola panas di media. Nih aksinya ya! Kita Golput, kita segala macam. Orang gak tahu saya," paparnya mencontohkan.

Seperti diketahui, hasil analisis isu golput yang dilakukan oleh Laboratorium Big Data Analysis Departemen Politik dan Pemerintahan (DPP) Universitas Gadjah Mada (UGM) pada periode 27 Januari hingga 19 Februari 2019 menyebutkan, Dari 2.840 percakapan dengan basis data twitter dan media online, sebanyak 269 percakapan ditujukan untuk mengkampanyekan golput.

Deklarasi terbuka bahwa Golput sebagai sikap politik pun, bukan sekali terjadi di masa proses Pemilu 2019. Teranyar, sekelompok mahasiswa mendekkarasikan Milenial Golput di Kopi Politik, Jl Pakubuwono VI, Jakarta Selatan pada Selasa (15/1/2019).

Ada juga deklarasi fiktif Mimbar Ekspresi Saya Golput di Taman Aspirasi, Jakarta yang ketika didatangi sama sekali tak ada aktivitas. Terlihat hanya tempat parkir polisi untuk gelaran doa bertajuk Malam Munajat 212.

Dan ada juga deklarasi: Saya Golput melalui platform daring, medium.com dengan "tertanda" berbunyi "isi dengan nama mu sendiri". Laman ini diawali dengan sambutan, "Memilih untuk tidak memilih atau menjadi golongan putih (golput) merupakan bagian dari hak politik yang dilindungi oleh UUD NRI 1945, UU Hak Asasi Manusia, dan Kovenan Internasional Hak-Hak Sipil dan Politik,".

Dari sosok elit, pendiri Lokataru Indonesia, Haris Azhar yang meskipun GoNews.co belum merekam aktivitas langsungnya mengkampanyekan Golput untuk Pemilu 2019, Haris tampak tidak menyalahkan para pemilih Golput.

Melalui akun twitter @haris_azhar bernama PilihNo.3, elit pejuang HAM ini mencuit, "debat berikut harus ada pihak ketiga, pihak Golput. biar seru. yg nolak ide ini, itu artinya, paslonnya katro,".(Zul)

Editor:Muslikhin Effendy
Kategori:DKI Jakarta, Politik, Pemerintahan, Peristiwa

       
        Loading...    
           
wwwwww