Loading...    
           

Ketika Wanita 'Curhat' di Dunia Maya

Ketika Wanita Curhat di Dunia Maya
Gambar: KATIE HORWICH/BBC
Senin, 08 Juli 2019 14:11 WIB
JAKARTA - Sebuah curhatan anonim di Facebook menjadi perhatian banyak orang dan ditulis ulang oleh media. Curhatan itu, mengisahkan tentang perang batin seorang perempuan-yang dikira sebagai orang Asia-terkait dengan dunia sosialnya.

"Saya tak pernah berpikir bahwa ketika saya menulis tentang perasaan kesepian saya di media sosial, saya akan mendapat tanggapan dari seluruh dunia. Tiba-tiba, banyak orang memberi saya nasihat dan menawarkan diri untuk menjadi kawan saya, dan banyak dari mereka mengatakan bahwa mereka juga merasakan hal yang sama, dari waktu ke waktu," demikian dikutip dari BBCIndonesia pada Senin (8/7/2019).

"Saya merasa benar-benar putus asa ketika menulis sebuah curhatan anonim di grup Facebook bernama Subtle Asian Traits (Sifat Halus Orang Asia). Saya merasa bahwa orang-orang di grup itu akan bisa memahami saya, karena kami semua berasal dari latar belakang budaya yang mirip," aku si penulis curhatan itu.

Berikut ini adalah curhatan (Curhat=Curahan Hati) yang menarik perhatian itu

Hai, sesama orang Asia!

Saya benar-benar sedang membutuhkan nasihat! Saat ini saya sama sekali tidak tahu apa yang harus saya lakukan.

Situasinya adalah orang tua saya sangat mengekang dan overprotektif terhadap saya sepanjang hidup saya dan saya ingat ketika tidak diizinkan bermain ke rumah teman di masa kanak-kanak...

Saya berdarah Australia-Tionghoa, dan saya merasa bahwa latar belakang imigran entah bagaimana membuat orang tua kami benar-benar keras dalam membesarkan kami, terutama anak perempuan.

Saya mencintai mereka tetapi saya pikir cara mereka membesarkan saya benar-benar mempengaruhi siapa saya sekarang. Saya pemalu, tertutup, dan sulit untuk berteman.

Saya merasa kesepian selama masa remaja dan bisa dibilang lebih kesepian sekarang karena jauh lebih sulit untuk mendapatkan teman sebagai orang dewasa, ketika semua orang sudah memiliki lingkaran persahabatan yang kuat.

Saya ingin punya teman.

Saya pindah dari rumah orang tua saya tahun lalu, tetapi saya hampir tidak tahu apa-apa tentang dunia dan bagaimana cara kerjanya, atau cara "bermain" di tempat kerja, atau ketika berkencan, dan dalam kehidupan sosial saya.

Saya merasa secara mental lima tahun lebih muda dari usia saya.

Saya akan segera berusia 25 dan saya merasa seperti baru saja keluar dari cangkang saya. Saya ingin membuat perubahan, tetapi saya tidak yakin bagaimana memulainya.

Sampai saya pindah, saya masih harus mematuhi jam malam. Akan selalu ada pertanyaan: "Dengan siapa kamu pergi? Bagaimana kamu bisa sampai di sana? Siapa yang menjemputmu?"

Ibu saya akan mengucapkan selamat tinggal di pintu sambil berkata, "Kembalilah sebelum jam sembilan atau aku akan memanggil polisi."

Ketika mendekati jam malam, ibu akan mengirimi saya banyak pesan teks. Pada saat bersamaan, ayah saya juga akan mengirim email. Tapi tidak ada yang memeriksa email saat mereka keluar, jadi saya baru akan melihatnya di kotak masuk saya pada hari berikutnya.

Ayah akan menulis hal-hal seperti, "Kenapa belum pulang!" Ketika ayah menggunakan tanda seru, saya tahu ia marah.

Atau ia bisa mencoba pendekatan yang lebih lembut, seperti "Makan malam sudah siap," untuk membujuk saya.

Ketika saya berusia 21 tahun, mereka benar-benar memanggil polisi. Saya telah pindah dari Canberra ke Sydney untuk bekerja sebagai pegawai magang selama tiga bulan. Orang tua saya memaksa saya untuk tinggal bersama teman-teman keluarga, yang memantau kedatangan dan kepergian saya.

Pada akhir masa magang, kami mengadakan pesta di tempat kerja, tetapi teman-teman keluarga menunggu dan memberi tahu orang tua saya.

Ibu dan Ayah terus mengirimi saya pesan, "Kenapa kamu tidak di rumah? Kamu harus kembali sekarang."

Saya mengirim sms kepada mereka bahwa saya berada di pesta kerja, dan suasananya berisik, tetapi ibu tidak berhenti menelepon.

Saya akhirnya mengangkat telepon, kemudian mendengarnya berteriak, "Bagaimana kami tahu kamu tidak sedang disandera dan si penculik yang mengetik di telepon untuk kamu?!"

Meskipun saya mengatakan kepadanya bahwa saya baik-baik saja, ibu histeris, berteriak, "Kamu telah diculik!"

Saya tidak pernah mendengar ibu saya semarah itu. Orang tua saya menepati ancaman mereka dan memanggil polisi — yang berkata bahwa mereka tidak dapat melakukan apa-apa karena saya berusia 21 tahun!

Malam Tahun Baru kemarin saya keluar untuk pesta sampai jam 1 pagi dan orang tua saya kembali melakukan itu, mengancam akan memanggil polisi.

Mereka berusaha menghubungi semua orang yang mereka tahu sedang bersama saya. Itu mengecewakan karena sangat jarang bagi saya untuk pergi ke pesta, dan saya tidak bisa bersenang-senang karena orang tua saya tidak henti-hentinya menelepon saya.

Saya terlalu tua untuk diperlakukan seperti ini.

Saya merasa perilaku orang tua saya betul-betul berperan dalam mencegah saya membina persahabatan yang baik.

Mereka tidak mengizinkan saya pergi ke rumah teman di sekolah dasar karena mereka percaya bahwa anak perempuan tidak boleh keluar — itu akan "memberikan kesan yang salah".

Mereka harus selalu tahu setiap detail tentang teman sekelas saya. Mereka memercayai saya untuk bergaul dengan seorang gadis Vietnam karena mereka mengenal orang tuanya. Teman lain adalah gadis Lebanon karena orang tua saya memandangnya sebagai pribadi yang rajin belajar. Setiap teman saya haruslah perempuan.

Ketika usia saya 13 tahun, mereka melacak semua orang yang saya ajak bicara di dunia maya. Pada suatu waktu mereka menelusuri seluruh email di kotak masuk saya, sambil menghapus ratusan email. Ketika usia saya 15 tahun, ibu saya masih memegang tangan ketika saya menyeberang jalan.

Dari kami semua, kakak laki-laki saya adalah yang paling terpengaruh oleh perilaku orang tua saya. Usianya hampir 30 tahun dan belum pernah punya pekerjaan. Ia tidak pernah meninggalkan rumah, hanya bermain video gim sepanjang hari.

Ia menyalahkan orang tua saya, karena sebagai anak sulung, ia menanggung beban harapan mereka. Ia bisa mendapatkan skor tes 96/100 dan kemudian dimarahi karena tidak cukup baik. Ia pergi ke universitas yang bagus dan meraih gelar Master, tetapi terlalu bangga untuk menerima pekerjaan admin yang dibayar rendah, dan ibu kami mendukung sikap ini.

Ayah saya mencoba memberinya pekerjaan apa saja - menjadi sopir, pegawai retail, atau pegawai di restoran cepat saji - tetapi ibu menentangnya karena "Ia punya gelar Master!"

Ibu saya lebih suka kakak saya bergantung pada mereka, meskipun usianya 29 tahun.

Ia tidak bisa menerima penolakan dan tidak memiliki kapasitas emosional atau keterampilan komunikasi untuk berfungsi di dunia.

Saking konyolnya, jika orang tua saya pergi berlayar, mereka akan membawanya. Ia selamanya anak-anak.

Kakak kedua saya mendapat nilai buruk di sekolah sehingga tekanannya berkurang. Ia tidak kuliah, mulai bekerja dari usia 16 tahun dan sekarang memiliki gaji di atas rata-rata sebagai analis keuangan. Ia berusia 27 tahun sekarang dan tidak dekat dengan orang tua kami.

Adik perempuan saya adalah yang termuda dan dia tahu cara menjilat orang tua saya. Ia belajar cara berbohong sehingga bisa memiliki sedikit kebebasan. Ia menjadi mahir memanipulasi mereka karena ia mengamati bagaimana orang tua kami memperlakukan kami semua.

Suatu kali saya bertanya kepada ibu saya secara langsung, "Sampai kapan ibu akan berhenti mengawasi saya?"

Ia menjawab, "Usiamu bisa di atas 40 tahun dan saya akan tetap melakukannya."

Ia benar-benar serius. Ia berasumsi bahwa saya akan melajang seumur hidup saya.

Dalam film, saya melihat bahwa anak perempuan punya kelompok pendukung untuk mengobrol tentang pekerjaan atau berkencan dan berbagi saran. Jika saya punya teman seperti itu, saya rasa saya tidak akan membuat begitu banyak kesalahan dalam upaya menjalin hubungan romantis.

Sejak mengunggah tulisan saya, banyak orang telah menulis kepada saya dan saya telah merespons secepat yang saya bisa. Saya bahkan tidak bisa menggambarkan betapa senangnya saya karena ini.

Seorang pria mengatakan kepada saya bahwa orang tuanya juga keras, jadi dia memberontak. Ia keluar dan melakukan semua yang ia lewatkan - narkoba, alkohol, seks bebas.

Kami berbicara tentang bagaimana rasanya tidak punya harapan. Kami bicara di telepon selama dua jam. Saya pikir ia akan menjadi mentor saya.

Orang-orang merekomendasikan buku - buku self-help dan novel. Saya punya banyak poster di kamar saya jadi saya akan menempel rekomendasi mereka bersama dengan beberapa tips lainnya.

Ada satu pesan yang menurut saya cukup membantu, yaitu pergi menemui psikiater dan mengabaikan stigma seputar berbicara tentang kesehatan mental Anda kepada orang lain.

Saran lain adalah mencari suatu hobi, maka teman akan datang dengan sendirinya. Itu masuk akal meskipun tidak sesederhana kedengarannya.

Ketika saya masih kecil, saya bermain piano dan membuat karya seni, dan saya suka menjahit silang... tapi semua itu biasanya bukan aktivitas yang dilakukan bersama orang lain.

Saya juga sangat menyukai permainan papan - hal-hal ini membutuhkan orang lain untuk mulai melakukannya.

Sekarang ada banyak hal yang ingin saya coba, seperti tenis meja atau bulu tangkis.

Seandainya saya bisa pergi hiking bersama seseorang, pergi ke pantai, dan bertualang. Saya ingin sekali bepergian ke luar negeri.

Saya tahu saya harus keluar dari zona nyaman saya. Tujuan saya, pada akhirnya, adalah kebahagiaan, tetapi itu agak abstrak dan sulit dijabarkan. Tetapi jika tujuan saya adalah mengatasi tantangan, produk sampingannya bisa berupa kebahagiaan — dan teman-teman. Itu lebih mudah untuk dicapai.

Beberapa kiat yang diterima:

• Jika Anda suka suatu serial televisi, jangan ragu untuk mengontak komunitas penggemar! Mereka bersahabat, dan terobsesi tentang hal yang kamu sukai dengan orang lain akan membantu membangun koneksi.

• Satu trik dalam psikologi ialah untuk secara konsisten melakukan sesuatu dengan frasa konfirmasi. Saya menggunakan "percayalah" untuk orang tua saya, jadi ketika Anda memberi tahu mereka sesuatu, tambahkan "percayalah" di akhir. Juga cobalah mengangguk dan tersenyum ketika Anda meminta sesuatu.

• Menjadi relawan di badan amal, bergabung dengan klub buku, paduan suara, — apapun! Cobalah banyak hal meskipun Anda tidak merasa akan menyukainya. Semakin sering Anda terpapar dengan dunia, semakin banyak yang akan Anda pelajari dan Anda akan semakin berkembang sebagai pribadi.

• Beranikan diri dan ajak orang lain untuk pergi keluar rumah. Jika mereka menolak, jangan diambil hati.

• Jika Anda bukan seorang ekstravert, Anda akan kelelahan. Pelan-pelan saja, biarkan kedekatan (tempat kerja/kelompok minat/klub/kelas tambahan) dan waktu bekerja untuk Anda.

• Temukan siapa diri Anda sebenarnya. Ajak diri Anda sendiri keluar untuk kencan, traktirlah diri sendiri. Semakin Anda percaya diri dan nyaman dengan diri Anda, semakin Anda akan menarik orang-orang berpikiran sama.***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Sumber:BBC Indonesia
Kategori:DKI Jakarta, Lingkungan, Pendidikan, Umum, GoNews Group

       
        Loading...    
           
wwwwww