Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Jadi Ambasador University Leipzig, Nurul Sa'adah: Ayo Dapatkan Beasiswa di Luar Negeri
Olahraga
23 jam yang lalu
Jadi Ambasador University Leipzig, Nurul Saadah: Ayo Dapatkan Beasiswa di Luar Negeri
2
Jangan Kalah oleh Pandemi, Pemerintah Dorong Koperasi 'Go Digital'
Pemerintahan
9 jam yang lalu
Jangan Kalah oleh Pandemi, Pemerintah Dorong Koperasi Go Digital
3
Biarkan Ibu Melahirkan di Depan Rumahnya dan Pungut Bayaran Rp800.000, Izin Praktik Bidan SF Dicabut
Peristiwa
7 jam yang lalu
Biarkan Ibu Melahirkan di Depan Rumahnya dan Pungut Bayaran Rp800.000, Izin Praktik Bidan SF Dicabut
4
Pembukaan Kembali Sekolah, Orang Tua Bisa Pilih Anak Belajar di Rumah
Pemerintahan
9 jam yang lalu
Pembukaan Kembali Sekolah, Orang Tua Bisa Pilih Anak Belajar di Rumah
5
Diduga Aktris FTV Ditangkap Polisi, Keterangan Tunggu Kapolrestabes
Hukum
8 jam yang lalu
Diduga Aktris FTV Ditangkap Polisi, Keterangan Tunggu Kapolrestabes
6
Petugas Kebersihan KRL yang Kembalikan Rp500 Juta Milik Penumpang Diangkat Jadi Karyawan Tetap
Ekonomi
1 jam yang lalu
Petugas Kebersihan KRL yang Kembalikan Rp500 Juta Milik Penumpang Diangkat Jadi Karyawan Tetap
Home  /  Berita  /  GoNews Group

Dihantam Gelombang, Ratusan Pohon Cemara di Kawasan Konservasi Penyu Ampiang Parak Pesisir Selatan Tumbang

Dihantam Gelombang, Ratusan Pohon Cemara di Kawasan Konservasi Penyu Ampiang Parak Pesisir Selatan Tumbang
Terlihat beberapa pohon cemara laut tumbang di kawasan wisata konservasi penyu akibat dihantam gelombag.(foto: ist/covesia.com)
Selasa, 03 Desember 2019 19:17 WIB
PAINAN - Akibat gelombang tinggi yang terjadi sejak 15 hari lalu di kawasan Pantai Konservasi Penyu, Kenagarian Ampiang Parak, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat (Sumbar), ratusan pohon cemara laut di kawasan tersebut tumbang karena abrasi.

"Gelombang tinggi yang menghantam bibir pantai di kawasan tersebut terjadi sejak 15 hari lalu. Akibatnya, ratusan pohon cemara laut di kawasan tersebut roboh," kata Wali Nagari Ampiang Parak Yusmardi seperti dilasnir laman Covesia.com, Selasa (3/12/2019).

Dikatakannya, kondisi itu sudah terjadi sudah berulang kali. Gelombang tinggi terus mengikis bibir pantai di kawasan wisata konservasi penyu.

Padahal, kawasan tersebut adalah salah satu kawasan wisata konservasi penyu yang ada di Kabupaten Pessel, sebutnya.

Menurutnya, jika kondisi ini tidak segera ditangani, maka tidak tertutup kemungkinan salah satu kawasan wisata konservasi yang digadang-gadangkan itu akan hancur.

"Kita minta secepatnya ada penanganan oleh pemerintah daerah. Kalau tidak, kawasan itu bakal habis terkikis ombak," ucapnya

Sementara itu, Divisi Logistik Kelompok Pengawas Masyarakat Laskar Pemuda Peduli Lingkungan (LPPL), Jasman mengatakan, abrasi terus terjadi dan kondisi pantai semakin hari semakin parah.

"Memang sudah parah. Lebar abrasi sudah mencapai 40 meter. Sedangkan panjangnya ada sekitar 2 kilometer," katanya.

Ia menambahkan, pihaknya sudah beberapa kali mengusulkan ke pemerintah provinsi melalui anggota DPRD. Namun, hingga kini masih belum ada tanda-tanda akan ditangani.

"Dari informasinya, kondisi ini akan ditangani dan dikerjakan pada tahun 2020. Tapi kita belum tahu pasti," ujarnya.

Melihat kondisi pantai semakin hari semakin terkikis parah, dia selaku pengurus wisata konservasi penyu berharap kondisi ini segera ditangani.

Kalau tidak, ini akan berdampak buruk bagi kawasan konservasi penyu yang cukup terkenal dan diminati wisatawan serta para peneliti.

Diketahui, kawasan wisata Pulau Penyu merupakan salah satu kawasan bagi kelompok Pokmaswas Laskar Turtle Camp (LTC) melakukan konservasi dan menjaga biota laut langka itu.

Kelompok LCT yang diketuai Haridma, sudah berkembang sejak berapa tahun lalu dan sekarang cukup terkenal di Pessel.

Kelompok tersebut tidak hanya melakukan konservasi dan merawat penyu saja. Selain itu, LCT sedang membudidayakan bakau dan juga cemara laut. (cvs)

Editor:arie rh
Sumber:covesia.com
Kategori:GoNews Group, Peristiwa, Sumatera Barat

wwwwww