Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Ledakan di Lebanon Sebuah Serangan di Tengah Sulitnya Ekonomi?
Internasional
8 jam yang lalu
Ledakan di Lebanon Sebuah Serangan di Tengah Sulitnya Ekonomi?
2
Indonesia Terbilang Masuk Resesi Ekonomi karena...
Ekonomi
8 jam yang lalu
Indonesia Terbilang Masuk Resesi Ekonomi karena...
3
Total 115.056 Orang, 1.922 Kasus Baru Covid-19 Tersebar di 26 Provinsi, Ini Rinciannya
Kesehatan
24 jam yang lalu
Total 115.056 Orang, 1.922 Kasus Baru Covid-19 Tersebar di 26 Provinsi, Ini Rinciannya
4
Anaknya Alami Musibah, Spaso Belum Gabung Timnas Indonesia
Sepakbola
22 jam yang lalu
Anaknya Alami Musibah, Spaso Belum Gabung Timnas Indonesia
5
Jokowi dan Menteri Tak Pakai Masker Saat Rapat Penanganan Covid-19, Begini Penjelasan Kepala Setpres
Nasional
21 jam yang lalu
Jokowi dan Menteri Tak Pakai Masker Saat Rapat Penanganan Covid-19, Begini Penjelasan Kepala Setpres
Home  /  Berita  /  GoNews Group

DPR: Perang dagang Amerika-China Bakal Pengaruhi Ekonomi Indonesia

DPR: Perang dagang Amerika-China Bakal Pengaruhi Ekonomi Indonesia
Kamis, 05 Desember 2019 18:17 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Perang dagang antara China dengan Amerika Serikat diprediksi bakal mempengaruhi ekonomi global, termasuk Indonesia.

Demikian diungkapkan Ketua Komite IV DPD RI, Elviana saat menjadi narasumber Dialetika Demokrasi dengan tema ‘Mampukah Indonesia Menghadapi Ancaman Resesi Dunia 2020?’ di Media Center DPR RI, Gedung Nusantara III Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (5/12/2019).

"Resesi ekonomi Global dipastikan bakal berdampak kepada perekonomian Indonesia. Hanya saja, seberapa besar dampaknya itu, kita belum mengetahuinya," kata Elviana.

Sementara itu, Anggota Komisi VI DPR RI, Darmadi Durianto, yang juga menjadi narasumber menilai, pertumbuhan ekonomi dunia yang diperkirakan hanya 2,8% sampai 3%, menunjukkan gejala-gejala kurang baik dan kurang menggembirakan bagi Indonesia.

"Efek dari pada perang dagang China yang akibatnya juga akan berimbas kepada negara kita," kata Darmadi.

Untuk iotu, politisi PDIP ini berharap, persoalan ini bisa cepat bisa diantisipasi oleh pemerintahan Indonesia. "Sebenarnya kita harus lebih melihat apa yang harus dikerjakan oleh pemerintah Indonesia saat ini. Karena pertumbuhan ekonomi kita juga ternyata juga cukup berat sampai saat ini,” paparnya.

Darmadi berpendapat, pertama tidak mengandalkan pada market Indonesia sendiri. "Tentu ini juga bukan satu pekerjaan yang mudah. Apalagi di DPR terakhir terakhir ini, kita akan banyak membahas tentang kerjasama ekonomi," urainya.

Contoh sekarang yang sedang terjadi Indonesia – Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA). "Dari kajian-kajian kita sudah lihat, bahwa sebetulnya ini akan menambah banyak devisit buat kita. Dimana kemampuan ekspor Australia ke Indonesia jauh lebih besar dibanding kemampuan ekspor Indonesia ke Australia,".

Belum lagi dihitung mengenai pengaruh tarif terhadap kinerja ekspor. Setelah diteliti ternyata tidak ada pengaruh. Artinya kalau tarif diturunkan Indonesia ekpornya ke Australia tidak akan meningkat juga. Karena lebih banyak hambatan non tarif. "Artinya kesiapan eksportir kita untuk menembus Australia, itu juga untuk menembus badan karantina Australi, SPS nya dan sebagainya itu juga kurang begitu bisa memadai," tandas Darmadi.

Pemerintah kata Dia, harus betu-betul membatasi impor. "Industri-industri yang hasil produksinya tidak bisa diproduksi dalam negeri mestinya jangan di terbitkan izin impornya, itu dari sisi impor.***


wwwwww