Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
New Normal, MPR Kembali Gelar Pentas Seni Budaya Sunda dan Kuliner Lokal di 'Kota Hujan'
MPR RI
7 jam yang lalu
New Normal, MPR Kembali Gelar Pentas Seni Budaya Sunda dan Kuliner Lokal di Kota Hujan
2
Soal Kalung Corona Kementan, Ahli Epidemologi: Kecap dan Cuka juga Bisa Bunuh Virus, Tapi Jangan Sembarang Klaim
Kesehatan
6 jam yang lalu
Soal Kalung Corona Kementan, Ahli Epidemologi: Kecap dan Cuka juga Bisa Bunuh Virus, Tapi Jangan Sembarang Klaim
3
Implementasi 'New Normal' Butuh Serapan Anggaran, Bamsoet Ingatkan Subsidi Kuota Pelajar dan Biaya PCR
MPR RI
4 jam yang lalu
Implementasi New Normal Butuh Serapan Anggaran, Bamsoet Ingatkan Subsidi Kuota Pelajar dan Biaya PCR
4
KUR UMKM Penyelamatan Ekonomi Nasional Berperan Penting Saat Pandemi Covid-19
Pemerintahan
21 jam yang lalu
KUR UMKM Penyelamatan Ekonomi Nasional Berperan Penting Saat Pandemi Covid-19
5
Tak Setuju Dibubarkan, Wakil Ketua MPR RI: OJK Perlu Direformasi
Ekonomi
7 jam yang lalu
Tak Setuju Dibubarkan, Wakil Ketua MPR RI: OJK Perlu Direformasi
6
Sore Ini, Gus Jazil Jemput PMI Bebas dari Hukuman Mati di Bandara Soetta
Politik
7 jam yang lalu
Sore Ini, Gus Jazil Jemput PMI Bebas dari Hukuman Mati di Bandara Soetta
Home  /  Berita  /  GoNews Group

Aksi Damai Solidaritas Uighur, Ratusan Massa Geruduk Kedubes RRC

Aksi Damai Solidaritas Uighur, Ratusan Massa Geruduk Kedubes RRC
Jum'at, 20 Desember 2019 17:36 WIB
JAKARTA - Massa Aksi dama Solidaritas Rakyat Indonesia untuk Uighur (Solighur) sudah tiba di depan Kedutaan Besar (Kedubes) Republik Rakyat China (RRC), Jalan Mega Kuningan No.2, RT 05 RW 02, Kuningan Timur, Setia Budi, Jakarta Selatan, Jumat (20/12/2019).

Elemen masyarakat Solighur bergabung dengan Mahasiswa dari Universitas Islam As-Syafi'iah, dan mulai mneyuarakan kepedulian mereka terhadap nasib muslim Uighur di Xinjiang, Cina. Mahasiswa menuntut penjelasan pemerintah Cina atas 4 (empat) isu krusial yang terjadi di Uighur.

Marfa, salah seorang mahasiswa menyatakan, isu krusial yang diminta penjelasan salah satunya adalah diduga kuat pemerintah Cina tidak memperbolehkan adanya suasana Ramadhan di Uighur.

"Soal Ramadhan dan beberapa isu krusial mengenai kegiatan keagamaan lain," kata Marfa kepada RRI, Jumat (20/12/2019).

Untuk diketahui, muslim Uighur menempati wilayah otonomi Xinjiang, salah satu provinsi besar di Cina. Namun tidak seperti warga Cina pada umumnya, hak mereka kerap kali dibatasi, terutama yang menyangkut keagamaan, khususnya agama Islam.

Empat isu krusial yang diminta penjelasan dari aksi damai ini di antaranya:

1. Larangan Posting Konten Islami di Media Sosial

Pemuda Uighur ditangkapi akibat posting komentar di media sosial (sosmed) dan menonton video islami secara online. Oleh karena itu, koneksi internet diputus.

2. Dilarang Memakai Nama Islami

Pemerintah China diduga kuat melarang nama mulim di Uighur. Dari rumah ke rumah, pejabat keamanan berpesan kepada orang tua Uighur agar tidak menggunakan nama-nama islami untuk anak-anak mereka.

3. Pembatasan Ajaran Islam

Diduga kuat, pemerintah China merilis aturan bahwa tak seorangpun di Xinjiang diperbolehkan mengajar Alquran di luar Masjid. Hanya boleh mengajarkannya di dalam Masjid saja. Dan anak-anak serta remaja di bawah usia 18 tahun ditengarai tidak diperbolehkan masuk Masjid.

4. Tidak Mendukung Suasana Ramadhan

Selama bulan suci Ramadhan, restoran di Hotan tidak diperbolehkan tutup alias harus buka. Para pekerja di sana juga diduga dipaksa menelan ajaran atheisme. Pegawai pemerintah, mahasiswa, dan siapa saja yang bekerja untuk pemerintah diduga kuat dilarang keras mengikuti Ramadan.

Sementara itu, tokoh Tanah Abang, Haji Anton Umar mengatakan, apa yang terjadi di Uighur, Xinjiang, RRC, adalah sebuah tragedi dunia. Dan sebagai bagian dari masyarakat dunia, serta anggota PBB sekaligus anggota tidak tetap Dewan Keamanan maupun Dewan HAM dalam organisasi tersebut, Indonesia perlu menyuarakan hal ini.

"Ini untuk kemanusiaan secara menyeluruh dan sesama ummat Islam di Uighur pada khususnya," ujar Haji Anton saat dihubungi RRI, Jumat (20/12/2019).

Menurut Anton, pemerintah Indonesia sudah menjalankan tugas melalui diplomasi, dan masyarakat harus mendukungnya dengan suara. Namun ditekankan pada aksi damai, demi menunjukkan kepada dunia khususnya pemerintah RRC, bahwa islam adalah damai.

Seperti diberitakan RRI sebelumnya, Massa aksi damai Solidaritas Rakyat Indonesia untuk Uighur (Solighur) mulai berangkat menuju Kedutaan Besar (Kedubes) Republik Rakyat China (RRC), Kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, dari dua titik awal yakni Masjid Al-Makmur dan Masjid Said Naum, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat (20/12/2019).

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Solighur Ardian Permana mengatakan, berdasarkan perhitungan koordinator aksi, iring-iringan massa berjumlah 350 orang.

"Berangkat dari Masjid Al-Makmur dan Masjid Said Naum, Tanah Abang, total ada 350 orang," sebut Ardian kepada RRI di Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat (20/12/2019).

Mobil komando dan sepeda motor mengiringi konvoi massa menuju Kedubes RRC. Sedangkan koordinator aksi di lapangan tetap dipegang Maulana Saleh.

Akan tetapi, nantinya massa akan bergabung dengan kelompok-kelompok kecil lain yang saat ini sudah menunggu di kawasan Bundaran HI dan sekitarnya, untuk kemudian bersama-sama menuju Kedubes China.

"Mereka (massa di Bundaran HI dan sekitarnya) akan bergabung dengan kami dalam perjalanan," pungkas Ardian.***

Editor:Muslikhin Effendy
Sumber:RRI.co.id
Kategori:GoNews Group, Peristiwa, Pemerintahan, Politik, DKI Jakarta

wwwwww