Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Pandemi dan Persaingan Kerja Lulusan Baru
DPR RI
6 jam yang lalu
Pandemi dan Persaingan Kerja Lulusan Baru
2
Bertambah 1.893, Total Kasus Covid-19 di Tanah Air 125.396 Orang, 5.723 Meninggal
Kesehatan
23 jam yang lalu
Bertambah 1.893, Total Kasus Covid-19 di Tanah Air 125.396 Orang, 5.723 Meninggal
3
Jika Banyak 'Kotak Kosong' di Pilkada 2020
DPD RI
6 jam yang lalu
Jika Banyak Kotak Kosong di Pilkada 2020
4
Kapal Patroli Polairud Tenggelam, 3 Polisi Hilang
Peristiwa
19 jam yang lalu
Kapal Patroli Polairud Tenggelam, 3 Polisi Hilang
5
Ini Identitas 3 Polisi yang Hilang Akibat Karamnya Kapal Patroli Polairud
Peristiwa
18 jam yang lalu
Ini Identitas 3 Polisi yang Hilang Akibat Karamnya Kapal Patroli Polairud
6
Imbas Pandemi Covid 19, Persaingan Kerja Lulusan Baru Makin Ketat
DPR RI
5 jam yang lalu
Imbas Pandemi Covid 19, Persaingan Kerja Lulusan Baru Makin Ketat
Home  /  Berita  /  Lingkungan

Kepala BMKG: Bencana Longsor dan Banjir Bandang Masih Mungkin Terjadi Lagi di Sumbar

Kepala BMKG: Bencana Longsor dan Banjir Bandang Masih Mungkin Terjadi Lagi di Sumbar
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati saat menjawab pertanyaan wartawan, Senin (23/12/2019). (foto: TribunPadang.com/Rizka Desri Yusfita)
Senin, 23 Desember 2019 21:24 WIB
PADANG- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan, cuaca ekstrem masih membayangi sebagian besar wilayah Sumatera Barat (Sumbar). Hujan lebat berpotensi turun di Sumbar selama masa libur akhir tahun.
 

"Saat ini puncak musim hujan untuk wilayah Sumbar," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati kepada wartawan, Senin (23/12/2019) seperti dilansir laman TribunPadang.com.

Diungkapkannya, intensitas hujan tinggi terjadi ketika bencana di Solok Selatan, yakni mencapai 100 mm dalam waktu satu hari. Hal serupa masih berpotensi terjadi hingga satu minggu ke depan atau akhir tahun.

"Potensi longsor, banjir, dan banjir bandang masih mungkin terjadi. Oleh karena itu perlu kewaspadaan masyarakat," harap Dwikorita Karnawati.

Lebih lanjut dia menerangkan, banjir badang itu biasanya memiliki tanda-tanda. Tidak harus ada hujan di daerah banjir bandang. Hujan justru terjadi di hulu atau atas gunung.

Dia mengingatkan, kalau melihat awan di atas gunung gelap berarti sudah akan turun hujan. Masyarakat yang berada di bawah gunung harus wapada, jangan berada di dekat sungai. "Harus menjauh dari sungai," saran dia.

Menurutnya, semakin dekat banjir bandang, jika air sungai tiba-tiba menjadi keruh. Maka pihaknya mengimbau, bagi masyarakat yang sedang berenang, segera menyingkir.

"Banjir bandang itu dengan cepat terjadi, menyapu dan membawa kayu-kayu serta bongkahan," ujarnya.

Sementara pada Januari, BMKG memprakirakan curah hujan mencapai 200 hingga 300 mm dalam satu bulan, artinya curah hujan masih tinggi. Bahkan Maret meningkat lagi mencapai 400 mm dalam satu bulan.

"Mulai hari ini (Senin, 23/12/2019), hingga akhir Maret harus waspada potensi bencana hidrometeorologi dengan cara menghindar apabila ada potensi banjir bandang," imbuh Dwikorita Karnawati. (tpc)

 

Editor:arie rh
Sumber:tribunpadang.com
Kategori:GoNews Group, Peristiwa, Lingkungan, Sumatera Barat

wwwwww