Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
Metropolitan
14 jam yang lalu
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
2
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
Sepakbola
10 jam yang lalu
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
3
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
Ekonomi
16 jam yang lalu
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
4
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
Kemenpora
12 jam yang lalu
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
5
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
Non Olympic
10 jam yang lalu
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
6
BMKG: Cuaca Jabodetabek Hari Ini Berpotensi Hujan Ringan
Metropolitan
22 jam yang lalu
BMKG: Cuaca Jabodetabek Hari Ini Berpotensi Hujan Ringan
Home  /  Berita  /  Lingkungan

Kepala BMKG: Bencana Longsor dan Banjir Bandang Masih Mungkin Terjadi Lagi di Sumbar

Kepala BMKG: Bencana Longsor dan Banjir Bandang Masih Mungkin Terjadi Lagi di Sumbar
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati saat menjawab pertanyaan wartawan, Senin (23/12/2019). (foto: TribunPadang.com/Rizka Desri Yusfita)
Senin, 23 Desember 2019 21:24 WIB
PADANG- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan, cuaca ekstrem masih membayangi sebagian besar wilayah Sumatera Barat (Sumbar). Hujan lebat berpotensi turun di Sumbar selama masa libur akhir tahun.
 

"Saat ini puncak musim hujan untuk wilayah Sumbar," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati kepada wartawan, Senin (23/12/2019) seperti dilansir laman TribunPadang.com.

Diungkapkannya, intensitas hujan tinggi terjadi ketika bencana di Solok Selatan, yakni mencapai 100 mm dalam waktu satu hari. Hal serupa masih berpotensi terjadi hingga satu minggu ke depan atau akhir tahun.

"Potensi longsor, banjir, dan banjir bandang masih mungkin terjadi. Oleh karena itu perlu kewaspadaan masyarakat," harap Dwikorita Karnawati.

Lebih lanjut dia menerangkan, banjir badang itu biasanya memiliki tanda-tanda. Tidak harus ada hujan di daerah banjir bandang. Hujan justru terjadi di hulu atau atas gunung.

Dia mengingatkan, kalau melihat awan di atas gunung gelap berarti sudah akan turun hujan. Masyarakat yang berada di bawah gunung harus wapada, jangan berada di dekat sungai. "Harus menjauh dari sungai," saran dia.

Menurutnya, semakin dekat banjir bandang, jika air sungai tiba-tiba menjadi keruh. Maka pihaknya mengimbau, bagi masyarakat yang sedang berenang, segera menyingkir.

"Banjir bandang itu dengan cepat terjadi, menyapu dan membawa kayu-kayu serta bongkahan," ujarnya.

Sementara pada Januari, BMKG memprakirakan curah hujan mencapai 200 hingga 300 mm dalam satu bulan, artinya curah hujan masih tinggi. Bahkan Maret meningkat lagi mencapai 400 mm dalam satu bulan.

"Mulai hari ini (Senin, 23/12/2019), hingga akhir Maret harus waspada potensi bencana hidrometeorologi dengan cara menghindar apabila ada potensi banjir bandang," imbuh Dwikorita Karnawati. (tpc)

 

Editor:arie rh
Sumber:tribunpadang.com
Kategori:Badminton, Olympic, Lingkungan, Sumatera Barat
wwwwww