Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Memaknai Kesaktian Pancasila di Tengah Pandemi Corona
Politik
10 jam yang lalu
Memaknai Kesaktian Pancasila di Tengah Pandemi Corona
2
Basarah: Tunda Dulu New Normal di Sektor Pendidikan
Politik
10 jam yang lalu
Basarah: Tunda Dulu New Normal di Sektor Pendidikan
3
Jadikan Nilai-nilai Pancasila bagian Solusi dalam Menghadapi Masalah Bangsa
MPR RI
10 jam yang lalu
Jadikan Nilai-nilai Pancasila bagian Solusi dalam Menghadapi Masalah Bangsa
4
LaNyalla Siap Carikan Solusi bagi Nelayan Muncar yang Tak Punya Tempat Tinggal Layak Huni
DPD RI
9 jam yang lalu
LaNyalla Siap Carikan Solusi bagi Nelayan Muncar yang Tak Punya Tempat Tinggal Layak Huni
5
Hari Lahir Pancasila, Pimpinan DPD Ajak Semua Elemen Gelorakan Budaya Gotong Royong
Politik
9 jam yang lalu
Hari Lahir Pancasila, Pimpinan DPD Ajak Semua Elemen Gelorakan Budaya Gotong Royong
6
IMI Dukung Penerapan New Normal demi Menyelamatkan Ekonomi Nasional
Pemerintahan
9 jam yang lalu
IMI Dukung Penerapan New Normal demi Menyelamatkan Ekonomi Nasional
Home  /  Berita  /  Riau

Bakar Lahan 20x20 Meter untuk Tanam Ubi, Pria Berusia 69 Tahun di Pekanbaru Dituntut 4 Tahun Penjara dan Denda Rp3 Miliar

Bakar Lahan 20x20 Meter untuk Tanam Ubi, Pria Berusia 69 Tahun di Pekanbaru Dituntut 4 Tahun Penjara dan Denda Rp3 Miliar
Syarifudin saat menjalani proses persidangan di PN Pekanbaru. (foto istimewa)
Selasa, 21 Januari 2020 23:09 WIB
Penulis: Rizki Ganda Sitinjak
PEKANBARU - Syarifudin (69) dituntut jaksa penuntut umum dengan hukuman 4 tahun penjara dan denda Rp3 miliar gara-gara membakar lahan 20x20 meter miliknya yang akan dipergunakan untuk bercocok tanam demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Syarifudin dituntut dalam perkara Karhutla pada tahun 2019.

Melihat beratnya tuntutan jaksa terhadap Syarifudin, Penasehat Hukum Syafrudin, Andi Wijaya, dalam salah satu poin pledoinya yang disampaikan pada persidangan di Pengadilan Negri (PN) Pekanbaru pada hari Selasa (21/1/2020) sore tadi, meminta majelis hakim yang diketuai Abdul Aziz, membebaskan terdakwa dari segala tuntutan.

Karena menurut Andi, yang juga aktif di Lembaga Bantuan Hukum Pekanbaru ini, dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) tidak terbukti selama sidang berlangsung.

"Dengan tidak terbuktinya dakwaan yang didakwakan maka demi keadilan dan kebenaran, kami mohon kepada majelis hakim membebaskan terdakwa dari segela tuntutan," ungkap Andi dihadapan para majelis hakim.

Dengan usainya pembacaan pledoi oleh penasehat hukum terdakwa, maka persidangan pun ditunda dan dilanjutkan pada agenda replik atau jawaban JPU terhadap pledoi yang disampaikan terdakwa, yang akan dilaksanakan pekan depan di PN Pekanbaru.

Andi saat diwawancarai terpisah oleh GoRiau, Selasa malam menjelaskan rangkaian persidangan sudah dimulai sejak awal Oktober 2019 lalu, mulai dari agenda dakwaan, pembuktian dengan mendengarkan keterangan saksi dan menghadirkan bukti surat, sampai dengan pledoi pada hari ini.

Andi mengatakan ada beberapa kekurangan dari JPU. Salah satunya, saksi ahli lingkungan sebagaimana yang terdapat dalam berita acara pemeriksaan terdakwa, tidak pernah dihadirkan di persidangan. Padahal yang seharusnya kehadiran saksi ahli sangat penting terutama untuk mendukung pembuktian dakwaan.

Andi membeberkan, dalam hal ini, perbuatan terdakwa dinilai JPU sudah melampaui baku mutu udara ambien dan baku mutu kerusakan lingkungan, karena dia membakar lahan yang dikelolanya untuk ditanami ubi, kacang panjang dan lainnya.

"Keterangan ahli yang tidak dihadirkan dan bukti surat tidak punya kekuatan hukum," ucap Andi kepada GoRiau.com.

Andi menuturkan, perbuatan terdakwa dalam membersihkan lahan tanah mineral yang dikelolanya, sesuai dengan kearifan lokal. Bukan tanah jenis gambut. Saat itu terdakwa juga sangat menjaga agar api tidak membesar, dengan cara membuat semacam sekat di lahan yang dibakarnya. Apalagi luasannya kurang dari 2 hektare.

Dimana dalam kondisi tersebut terdakwa membakar lahan hanya untuk bercocok tanam, yang hasilnya akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

"Saya sampaikan selama proses penyidikan berlangsung, terdakwa tidak mendapatkan hak bantuan atau pendampingan hukum. Ini beda sama sekali dengan perusahaan yang disangka membakar lahan, jadi memang hukum itu tajam ke bawah," tegas Andi.

Untuk diketahui, peristiwa yang membawa Syarifudin ke permasalahan hukum itu terjadi sekitar bulan Maret 2019, Syafrudin saat itu membersihkan lahan mineral yang dikelolanya. Usai membersihkan tanah yang akan dipakai untuk bercocok tanam, Syafrudin menumpuk semak belukar dan kayu yang sudah dibersihkan, lalu membakarnya.

Dia pun membuat sekat agar api tak menyebar. Sambil menunggu, Syafrudin pun kembali ke rumah untuk melaksanakan shalat. Namun saat dia kembali untuk melihat ke lahan seluas 20x20 meter persegi yang dibersihkannya itu, dia pun kaget saat didatangi sejumlah polisi.

Saat itu Syarifudin langsung dibawa ke kantor polisi dan dilakukan penahanan, sementara ada 1 orang istri dan 6 anak yang harus ditinggalkan Syarifudin selama ia mendekam di sel tahanan. ***

Kategori:Riau, Hukum

wwwwww