Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Tak Setuju hanya 95%, Komisi VIII DPR Minta BPKH Kembalikan 100% Dana Haji ke JCH
Politik
22 jam yang lalu
Tak Setuju hanya 95%, Komisi VIII DPR Minta BPKH Kembalikan 100% Dana Haji ke JCH
2
Ada Lonjakan Tagihan Listrik, PLN Pusat Minta Maaf Alasan Pembayaran Dihitung Rata-rata Tiga Bulan
Ekonomi
24 jam yang lalu
Ada Lonjakan Tagihan Listrik, PLN Pusat Minta Maaf Alasan Pembayaran Dihitung Rata-rata Tiga Bulan
3
Syarief Hasan Ajak Masyarakat Teladani Dua Prajurit TNI AL yang Relakan Gaji dan THR untuk Beli Sembako
MPR RI
17 jam yang lalu
Syarief Hasan Ajak Masyarakat Teladani Dua Prajurit TNI AL yang Relakan Gaji dan THR untuk Beli Sembako
4
Mahfuz: Gelora Indonesia Partai Terbuka dan Kekuatan Politik Baru
Politik
9 jam yang lalu
Mahfuz: Gelora Indonesia Partai Terbuka dan Kekuatan Politik Baru
5
Sumbangkan Gaji dan THR untuk Covid-19, Dua TNI AL Diganjar Penghargaan dari Pimpinan MPR
Peristiwa
24 jam yang lalu
Sumbangkan Gaji dan THR untuk Covid-19, Dua TNI AL Diganjar Penghargaan dari Pimpinan MPR
6
Sepasang PNS Bukan Suami-Istri Pingsan Tanpa Busana dalam Mobil di Pinggir Jalan
Peristiwa
20 jam yang lalu
Sepasang PNS Bukan Suami-Istri Pingsan Tanpa Busana dalam Mobil di Pinggir Jalan
Home  /  Berita  /  DPD RI

LaNyalla: Urusan Dunia harus Selaras dengan Kepentingan Akhirat

LaNyalla: Urusan Dunia harus Selaras dengan Kepentingan Akhirat
Minggu, 03 Mei 2020 17:49 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattaliti, dalam video pendek "Berkah Ramadan" episode ke 10 mengingatkan, agar kita selalu menyelaraskan antara kepentingan dunia dan akhirat.

"Sebagai manusia, khususnya umat Islam, kita dituntut mengisi waktu untuk lebih bertawazul. Atau seimbang antara beribadah dengan bekerja, berdagang atau apapun kegiatan di dunia," ujar LaNyalla, Minggu (3/5/2020).

Dengan demikian kata LaNyalla, maka kepentingan duniawi akan selaras dengan kepentingan akhirat. Begitu juga dengan kesuksesan seseorang, menurutnya juga harus digapai dengan cara menyelaraskan dua hal, yakni antara usaha atau ikhtiar dengan Doa.

"Sukses tidak akan datang bagi mereka yang hanya menunggu, tapi, kesuksesan akan tercapai jika kita memperjuangkan dan berusaha menggapainya," tegasnya.

Mengutip pernyataan Ibnu Amr, kita semua juga diingatkan agar akhirat juga tetap menjadi prioritas dalam mengarungi kehidupan. Sebab, bila Allah SWT telah berkehendak, ajal dapat menghampiri siapa saja tanpa mengenal umur, waktu, tempat, dan lain-lain.

"Gemerlap dunia kerap menyilaukan mata dan menggoda hasrat manusia. Tak sedikit dari mereka yang berlomba-lomba dalam menggapai kebahagiaan dunia tanpa pernah mengingat bahwa ada akhirat menanti. Berusahalah untuk duniamu seakan-akan kau akan hidup selamanya. Dan berusahalah untuk akhiratmu seakan-akan kau akan mati besok."

Islam bukan hanya agama yang mengurus ibadah bersifat maghdhah, seperti shalat, zakat, dan puasa. Tetapi, Islam juga mempunyai bentuk ibadah yang bersifat umum, seperti bekerja, menafkahi keluarga. Jika dilakukan karena mengharap Ridhonya, maka akan melahirkan pahala dan berkah tersendiri.

Soal keseimbangan akhirat dan dunia, juga pernah diajarkan Rasulullah dalam hadis yang diriwayatkan Anas ra, "Bukanlah yang terbaik diantara kamu orang yang meninggalkan urusan dunia karena mengejar urusan akhirat, dan bukan pula orang yang terbaik orang yang menhinggalkan akhiratnya karena mengejar urusan dunianya, sehingga ia memperoleh kedua-duanya, karena dunia itu adalah perantara yang menyampaikan ke akhirat, dan janganlah kamu menjadi beban orang lain."

Hadist di atas menjelaskan tentang kehidupan manusia yang seharusnya, yaitu kehidupan yang berimbang, kehidupan dunia harus diperhatikan disamping kehidupan di akhirat.

Karena Islam, tidak memandang baik terhadap orang yang hanya mengutamakan urusan dunia saja, tapi urusan akhirat dilupakan. Sebaliknya Islam juga tidak mengajarkan umat manusia untuk konsentrasi hanya pada urusan akhirat saja sehingga melupakan kehidupan dunia.

Dunia adalah sarana yang akan mengantarkan ke akhirat. Kita hidup didunia memerlukan harta benda untuk memenuhi hajatnya, manusia perlu makan, munum, pakaian, tempat tinggal, berkeluarga dan sebagainya, semua ini harus kita cari dan kita usahakan.

Untuk itu, umat Islam tidak boleh bermalas-malasan, apalagi malas bekerja untuk mencari nafkah, sehingga mengharapkan belas kasihan orang lain untuk menutupi keperluan hidup sehari-hari.***


wwwwww