Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
Nasional
23 jam yang lalu
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
2
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
Sepakbola
23 jam yang lalu
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
3
Optimalisasi Kemampuan Multiposisi Rizky Ridho
Sepakbola
23 jam yang lalu
Optimalisasi Kemampuan Multiposisi Rizky Ridho
4
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
Metropolitan
12 jam yang lalu
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
5
Pieter Huistra Akui Aspek Pertahananan PSS Perlu Perbaikan
Sepakbola
23 jam yang lalu
Pieter Huistra Akui Aspek Pertahananan PSS Perlu Perbaikan
6
Stjepan Fokus Laga Berikutnya, Nadeo Ucapkan Terima Kasih kepada Jakmania
Sepakbola
23 jam yang lalu
Stjepan Fokus Laga Berikutnya, Nadeo Ucapkan Terima Kasih kepada Jakmania
Home  /  Berita  /  PON

Jika Hidup harus Berdampingan dengan Covid-19, Seberapa Bahaya Virus Ini bagi Nyawa Manusia?

Jika Hidup harus Berdampingan dengan Covid-19, Seberapa Bahaya Virus Ini bagi Nyawa Manusia?
Ilsutrasi Covid-19. (Gambar: Shutterstock)
Selasa, 19 Mei 2020 15:56 WIB
JAKARTA - "Faktanya, pemerintah menyebut kita harus berdampingan hidup dengan Covid dan mungkin kita akan selamanya hidup dengan covid. Jadi, menurut Anda, virus Covid-19 ini membunuh manusia atau tidak?" pertanyaan itu terlontar dari seorang wartawan di Komunitas KLC, dan menjadi dialektika singkat.

Aktivis Kemanusiaan, Nukila Evanty, berpendapat, virus Covid-19 memang secara tidak langsung akan membunuh manusia. "Sama dengan virus lainnya (SARS, flu burung), jika kita tidak mempunyai daya tahan/imun yang baik,".

"Artinya, preventive measure on health harus ada dan currative measures (langkah-langkah pengobatan) harus ada pula," kata Nukila dalam diskusi komunitas Koalisi Lawan Corona, Selasa (19/5/2020).

Sembari mengikuti Zoom meeting dengan kantor regional UN Bangkok, Nukila menjelaskan, upaya preventif harus dioptimalkan oleh setiap orang masing-masing. Sementara currative dengan universal access to health, menjadi tugas negara berdasarkan UU Kesehatan, UU Kekarantinaan Kesehatan, dan UU Jamkesmas.

Sementara itu, faktanya, dalam upaya menanggulangi pandemi Covid-19 di Indonesia, negara menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). PSBB berdampak secara otomatis pada aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat, tapi tidak berdampak langsung pada nyawa keberlangsungan nyawa manusia.

"Kalau protokol kesehatan dipatuhi dengan disiplin tinggi masyarakat dan juga diimbangi dengan kebijakan yang baik, transparan, akuntabel untuk kemanusiaan, bisa berdampak. Beberapa negara di Asia sudah ada best practice-nya seperti Thailand dan Taiwan," kata Nukila.

PSBB sedianya bukan kebijakan yang melanggar perundangan, karena juga menjadi salah satu opsi bagi pemerintah berdasarkan UU 6/2018. Tapi mengenai kenapa PSBB yang dipilih, Nukila berujar, "I don't know ya. Yang pasti our goverment sudah atau seharusnya punya kajian social and economic impacts,".

Di forum berbeda, Fred, seorang jurnalis dari salah satu media nasional menyatakan pada anggota komunitas KLC, bahwa secara sosilogis, "pandemi merubah tatanan sosial masyarakat,".

"Silaturrahim lebaran akan banyak berlangsung secara virtual, interaksi penjual dan pembeli juga daring," kata Fred.

Sekedar pengingat, Presiden Joko Widodo sebagai pemimpin tertinggi pemerintah Republik Indonesia pada Jumat pekan lalu, telah menyatakan, "Informasi terakhir dari WHO yang saya terima bahwa meskipun kurvanya sudah agak melandai atau nanti menjadi kurang, tapi virus ini tidak akan hilang. Artinya kita harus berdampingan hidup dengan Covid,".***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Kategori:DKI Jakarta, Badminton, Nasional, PON
wwwwww