Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Jupiter Soroti Makna Demokrasi AS, Suara Rakyat Tak Boleh Dibeli
Umum
8 jam yang lalu
Jupiter Soroti Makna Demokrasi AS, Suara Rakyat Tak Boleh Dibeli
2
BMKG Ramalkan Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini
Metropolitan
14 jam yang lalu
BMKG Ramalkan Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini
3
Pemuda LIRA Desak Polri Terapkan Pasal Hukuman Mati Penyadap Presiden
Hukum
13 jam yang lalu
Pemuda LIRA Desak Polri Terapkan Pasal Hukuman Mati Penyadap Presiden
4
Tak Ingin Hanya Fokus Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Nasional
Ekonomi
6 jam yang lalu
Tak Ingin Hanya Fokus Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Nasional
5
KPK Panggil Direktur PT Bela Parahiyangan Terkait Korupsi Lahan Kementerian ATR/BPN
Hukum
7 jam yang lalu
KPK Panggil Direktur PT Bela Parahiyangan Terkait Korupsi Lahan Kementerian ATR/BPN
6
Massa Turunkan Foto Gibran di DPRD DIY, Guntur Romli Sebut Bukti Kemarahan Rakyat
Umum
7 jam yang lalu
Massa Turunkan Foto Gibran di DPRD DIY, Guntur Romli Sebut Bukti Kemarahan Rakyat
Home  /  Berita  /  Beladiri

Arogansi Polisi bisa Picu Kerusuhan seperti di AS

Arogansi Polisi bisa Picu Kerusuhan seperti di AS
Kerusuhan di AS. (Gambar: Ist. via Instagram)
Jum'at, 05 Juni 2020 14:42 WIB
JAKARTA - Kapolri Idam Azis dinilai perlu mengevaluasi jajarannya dalam upaya mencegah kerusuhan dan kekacauan di Indonesia tanah air. Menurut Ind. Police Watch (IPW), apa yang terjadi di AS berpotensi juga terjadi di Indonesia saat ini.

Kekacauan yang terjadi di AS, sebagaimana diketahui, adalah akibat sikap anggota polisi yang mengedepankan arogansi. Tewasnya warga kulit hitam George Floyd di Minneapolis, AS, akibat ulah anggota polisi yang semena-mena dan tidak mengindahkan hak asasi manusia.

"Di Indonesia sikap polisi yang semena-mena, arogan, melakukan krimialisasi, berpihak, tidak peka, dan mencederai rasa keadilan masyarakat sudah menjadi rahasia umum yang sering terjadi. Berbagai keluhan yang disampaikan masyarakat ke IPW, terutama dari daerah, yang kemudian disampaikan ke elit elite kepolisian sering kali tidak cepat disikapi secara promoter. Padahal, sikap seperti ini bisa menjadi api dalam sekam yang memicu kekacauan seperti yang terjadi di tahun 1998," kata Neta kepada wartawan, Jumat (5/6/2020).

Neta kemudian menyinggung soal Kapolda dan Kapolres yang mengkriminalisasi hak hak ulayat atau mengkriminalisasi pengusaha lokal dengan tujuan tertentu, atau diperalat pihak tertentu untuk mencederai rasa keadilan publik, atau tidak becus bekerja secara promoter.

"(Yang seperti itu, Red) harus dicopot dari jabatannya dan dimasukkan ke dalam 'kotak' dan 'kotaknya digembok tiga'" kata Neta.

Neta melanjutkan, terjadinya krisis ekonomi sebagai dampak pandemik Covid-19 harus diwaspadai Polri agar tak meluas menjadi krisis sosial dan politik.

"Jika dalam multi krisis ini jajaran polri tidak promoter dan lebih mengedepankan arogansi, seperti apa yang dialami Goerge Floyd, bukan mustahil kekacauan seperti di AS akan terjadi di Indonesia, apalagi persoalan di Indonesia sangat kompleks dan pelik," kata Neta.***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Kategori:Beladiri, Metropolitan, Nasional, Badminton, DKI Jakarta
wwwwww