Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Hasil Survei SMRC: PKS dan Suku Minang Dominasi Kesadaran akan Isu Kebangkitan PKI
Nasional
14 jam yang lalu
Hasil Survei SMRC: PKS dan Suku Minang Dominasi Kesadaran akan Isu Kebangkitan PKI
2
KAMI Bakal Gelar Deklarasi di Riau 16 Oktober 2020
Politik
3 jam yang lalu
KAMI Bakal Gelar Deklarasi di Riau 16 Oktober 2020
3
Gedung DPR RI Resmi Diasuransikan
DPR RI
9 jam yang lalu
Gedung DPR RI Resmi Diasuransikan
4
Bus Pariwisata Tabrak 6 Kendaraan, 4 Orang Tewas dan 20 Terluka
Peristiwa
22 jam yang lalu
Bus Pariwisata Tabrak 6 Kendaraan, 4 Orang Tewas dan 20 Terluka
5
Sunat Masa Hukuman Anas Urbaningrum 6 Tahun, Ini 9 Alasan MA
Nasional
14 jam yang lalu
Sunat Masa Hukuman Anas Urbaningrum 6 Tahun, Ini 9 Alasan MA
6
Moeldoko Peringatkan Gatot Nurmantyo: Jangan Coba-coba Ganggu Stabilitas Politik
Politik
6 jam yang lalu
Moeldoko Peringatkan Gatot Nurmantyo: Jangan Coba-coba Ganggu Stabilitas Politik
Home  /  Berita  /  Hukum

Arogansi Polisi bisa Picu Kerusuhan seperti di AS

Arogansi Polisi bisa Picu Kerusuhan seperti di AS
Kerusuhan di AS. (Gambar: Ist. via Instagram)
Jum'at, 05 Juni 2020 14:42 WIB
JAKARTA - Kapolri Idam Azis dinilai perlu mengevaluasi jajarannya dalam upaya mencegah kerusuhan dan kekacauan di Indonesia tanah air. Menurut Ind. Police Watch (IPW), apa yang terjadi di AS berpotensi juga terjadi di Indonesia saat ini.

Kekacauan yang terjadi di AS, sebagaimana diketahui, adalah akibat sikap anggota polisi yang mengedepankan arogansi. Tewasnya warga kulit hitam George Floyd di Minneapolis, AS, akibat ulah anggota polisi yang semena-mena dan tidak mengindahkan hak asasi manusia.

"Di Indonesia sikap polisi yang semena-mena, arogan, melakukan krimialisasi, berpihak, tidak peka, dan mencederai rasa keadilan masyarakat sudah menjadi rahasia umum yang sering terjadi. Berbagai keluhan yang disampaikan masyarakat ke IPW, terutama dari daerah, yang kemudian disampaikan ke elit elite kepolisian sering kali tidak cepat disikapi secara promoter. Padahal, sikap seperti ini bisa menjadi api dalam sekam yang memicu kekacauan seperti yang terjadi di tahun 1998," kata Neta kepada wartawan, Jumat (5/6/2020).

Neta kemudian menyinggung soal Kapolda dan Kapolres yang mengkriminalisasi hak hak ulayat atau mengkriminalisasi pengusaha lokal dengan tujuan tertentu, atau diperalat pihak tertentu untuk mencederai rasa keadilan publik, atau tidak becus bekerja secara promoter.

"(Yang seperti itu, Red) harus dicopot dari jabatannya dan dimasukkan ke dalam 'kotak' dan 'kotaknya digembok tiga'" kata Neta.

Neta melanjutkan, terjadinya krisis ekonomi sebagai dampak pandemik Covid-19 harus diwaspadai Polri agar tak meluas menjadi krisis sosial dan politik.

"Jika dalam multi krisis ini jajaran polri tidak promoter dan lebih mengedepankan arogansi, seperti apa yang dialami Goerge Floyd, bukan mustahil kekacauan seperti di AS akan terjadi di Indonesia, apalagi persoalan di Indonesia sangat kompleks dan pelik," kata Neta.***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Kategori:Hukum, Politik, Nasional, GoNews Group, DKI Jakarta
wwwwww