Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Dapat Gelar Doktor, Gus Jazil Minta Menteri Halim Terus Perjuangkan Masyarakat Desa
Politik
9 jam yang lalu
Dapat Gelar Doktor, Gus Jazil Minta Menteri Halim Terus Perjuangkan Masyarakat Desa
2
Skandal Jiwasraya, Bamsoet Desak OJK Dibubarkan
MPR RI
12 jam yang lalu
Skandal Jiwasraya, Bamsoet Desak OJK Dibubarkan
3
Terdampak Pandemi, Pimpinan MPR Desak Pemerintah Cairkan Anggaran untuk Pesantren
Pendidikan
12 jam yang lalu
Terdampak Pandemi, Pimpinan MPR Desak Pemerintah Cairkan Anggaran untuk Pesantren
4
Dukung Startup Buatan Budak Melayu, Gubernur Syamsuar Resmi Launching JualBuy.com
Ekonomi
9 jam yang lalu
Dukung Startup Buatan Budak Melayu, Gubernur Syamsuar Resmi Launching JualBuy.com
5
Ridho Manfaatkan Waktu Berbagi Ilmu dengan SSB di Pekalongan
Sepakbola
9 jam yang lalu
Ridho Manfaatkan Waktu Berbagi Ilmu dengan SSB di Pekalongan
6
Andri Muladi Siap Penuhi Panggilan Borneo FC
Sepakbola
10 jam yang lalu
Andri Muladi Siap Penuhi Panggilan Borneo FC
Home  /  Berita  /  Politik

Rapit Test Berbayar, Gus Jazil: Jangan Tambah Lagi Beban Masyarakat

Rapit Test Berbayar, Gus Jazil: Jangan Tambah Lagi Beban Masyarakat
Wakil Ketua MPR RI, Jazilul Fawaid. (Istimewa)
Rabu, 24 Juni 2020 17:59 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Beredar informasi mengenai masyarakat yang melakukan rapid test dengan mengeluarkan biaya tinggi ditanggapi secara serius oleh Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid.

Politisi dari PKB ini berharap, agar Gugus Tugas Covid-19, Kementerian Kesehatan, dan lembaga yang terkait dengan penanganan pandemi Covid-19 memperhatikan masalah ini.

"Masyarakat sekarang berada dalam kondisi susah sehingga jangan dibebani lagi dengan biaya-biaya yang lain," ujar Jazilul Fawaid kepada wartawan, Selsa (26/6/2020) di Jakarta.
 
Pria yang akrab dipanggil Guz Jazil itu heran, sebelumnya memang pemerintah memberi bantuan kepada masyarakat berupa sembako guna menghadapi masa PSBB namun selanjutnya dalam masalah rapid test, masyarakat kok dikenai biaya.

"Kemarin diberi sembako tetapi sekarang disuruh membayar rapid test," ujar pria asal Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, itu keheranan.

Hal demikian membuat Jazilul Fawaid berseloroh, "ya itu namanya sama saja, tidak ada yang dibantu".
 
Soal rapid test, dirinya meminta agar pemerintah menghitung kembali skema rapid test kepada masyarakat.

"Seharusnya disediakan dengan cara yang murah," tuturnya.

Biaya murah kata Dia, bisa saja sebab dirinya sudah mendengar jika Indonesia sejatinya bisa membikin produk sendiri. "Saya dengar produk dalam negeri sudah ditemukan. Mestinya kan murah itu," ungkapnya.
 
Koordinator Nasional Nusantara Mengaji itu mengatakan, perlu adanya sosialisasi dalam kegiatan rapid test. Petugas yang berada di lapangan diharap mengetahui mana orang yang mampu atau tidak membayar rapid test. "Bila tidak mampu ada qualifikasinya," ucapnya.

Intinya kata Dia, jangan lagi masyarakat yang sudah susah ditambah lagi bebannya. Biaya rapid test dikatakan bisa buat belanja masyarakat kecil untuk hidup setengah bulan. Dirinya sepakat rapid test digelar namun dengan biaya yang murah.

"Caranya ya beri subsidi bagi masyarakat kecil. Misalnya rapid test digelar di Puskesmas, maka Puskesmas itu mendapat subsidi," pungkasnya.***


wwwwww