Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Jokowi Hadir di Sidang PN Jaktim, Bawa Ijazah Asli UGM Patahkan Tudingan Roy Suryo
Hukum
17 jam yang lalu
Jokowi Hadir di Sidang PN Jaktim, Bawa Ijazah Asli UGM Patahkan Tudingan Roy Suryo
2
Naskah UU Ketenagakerjaan Tak Jelas, Serikat Pekerja Peringatkan Ancaman Perselisihan Hubungan Industrial
Umum
14 jam yang lalu
Naskah UU Ketenagakerjaan Tak Jelas, Serikat Pekerja Peringatkan Ancaman Perselisihan Hubungan Industrial
3
BPS Umumkan Angka Pengangguran Terbaru, Sektor Pertanian dan Perdagangan Jadi Penyelamat Tenaga Kerja Nasional
Umum
14 jam yang lalu
BPS Umumkan Angka Pengangguran Terbaru, Sektor Pertanian dan Perdagangan Jadi Penyelamat Tenaga Kerja Nasional
4
Iwan Bule Dukung Kapolri Suyudi Usut Tuntas Kasus Penyadapan Presiden Prabowo
Hukum
18 jam yang lalu
Iwan Bule Dukung Kapolri Suyudi Usut Tuntas Kasus Penyadapan Presiden Prabowo
5
Ketua Umum KONI Pusat Minta PB ABTI Satukan Indonesia Melalui Bola Tangan
KONI
11 jam yang lalu
Ketua Umum KONI Pusat Minta PB ABTI Satukan Indonesia Melalui Bola Tangan
6
NOC Indonesia Jadikan YOG Dakar 2026 Panggung Diplomasi Peluang Tuan Rumah Kualifikasi Olimpiade LA 2028
KOI
11 jam yang lalu
NOC Indonesia Jadikan YOG Dakar 2026 Panggung Diplomasi Peluang Tuan Rumah Kualifikasi Olimpiade LA 2028
Home  /  Berita  /  MPR RI

Minimnya Perhatian Pemerintah, Nasib Pesantren Kian Menyedihkan saat Pandemi

Minimnya Perhatian Pemerintah, Nasib Pesantren Kian Menyedihkan saat Pandemi
Wakil Ketua MPR RI Jazilul Fawaid.
Sabtu, 27 Juni 2020 22:19 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
CIANJUR - Minimnya perhatian pemerintah terhadap Pondok Pesantren khususnya saat Pandemi Covid-19, bisa mengancam generasi bangsa.

Betapa tidak, jika Pondok Pesantren banyak yang tutup karena tidak bisa mencukupi kebutuhan operasional, dampaknya akan banyak generasi muda yang akan kehilangan asupan pendidikan agama.

Meskipun pelajaran Agama tetap ada di Sekolah umum, namun tidak selengkap dan detil seperti di pesantren. Demikian diungkapkan Wakil Ketua MPR RI Jazilul Fawaid, Sabtu (27/6/2020) di Pondok Pesantren Al Ittihad, Karangtengah, Cianjur, Jawa Barat.

"Bisa dibayangkan, Pondok Pesantren yang selama ini mencerdaskan anak bangsa kemudian tutup karena tak sanggup untuk melanjutkan poses belajar mengajar," ujarnya.

"Berapa banyak generasi muda kita yang akan kehilangan asupan pendidikan Agama Islam," timpalnya.

Untuk itu, Koordiantor Nasional Nusantara Mengaji itu, mendesak Pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama, segera turun tangan melihat langsung apa yang terjadi di Pesantren saat Pandemi. "Selama ini Pesantren itu seperti anak ayam yang kehilangan induk. Pesantren dianggap tidak penting dan bisa hidup sendiri, sehingga tidak diperhatikan sama sekali," tukasnya.

Ia juga menilai, Menteri Agama saat ini tidak memiliki sensitifitas untuk membantu Pesantren. "Melihat anggaran yang ada. Ini memang sepertinya tidak ada niatan untuk membantu dunia Pendidikan Pedantren. Jangan hanya melihat Pondok Pesantren di Kota yang besar dan megah. Coba cek ke Daerah-daeah khusunya di pelosok, banyak pesantren udah mau tutup," tandasnya.

Padahal kata Gus Jazil, sejarah berdirinya Pesantren adalah untuk melayani yang tidak mampu. "Jadi ini yang harus jadi fokus Pemerintah. Pesantren ini tidak punya akses anggaran. Jadinya dibiarkan hidup seperti rumput Alang-alang saja. Sampai saat ini, tidak ada tuh Pesantren yang ditanya berapa kerugian akibat pandemi, nasib guru, Ustaz, Kyai bagaimana, itu sama sekali tidak menjadi perhatian serius," urainya.

Sebelumnya, Gus Jazil juga menyoroti perhatian pemerintah di sektor pendidikan selama pandemik kali ini dinilai sangat kurang. Dia mencontohkan anggaran untuk kegiatan pendidikan keislaman seperti pesantren yang hanya dialokasikan sebesar Rp 2,3 triliun di era kenormalan baru (new normal). Alokasi tersebut dinilai sangat kecil dibanding jumlah pesantren yang disebutnya mencapai 28.000 pesantren.

"Kalau cuma Rp 2,3 triliun untuk pesantren tidak cukup. Terus dimana prioritas peningkatan SDM (sumber daya manusia) itu?" kata Jazilul, Rabu (17/6/2020).

Lebih lanjut dirinya menilai besaran dana untuk kalangan pesantren yang hanya diplot Rp 2,3 Triliun menunjukkan sektor pendidikan tidak menjadi prioritas perhatian pemerintah di era pandemi ini.

"Pandemi ini menjadi ancaman pendidikan ke depan. Jadi harus dapat prioritas utama. Jangan hanya pikir sistem keuangan dan pemulihan ekonomi. Tetapi, kemudian tidak kita sadari generasi kita lemah. Maka, bagaimana rumusannya menangani pendidikan," ungkap Jazilul.

"Pendidikan jarak jauh (virtual) itu apakah efektif? Terus bagaimana yang tinggal di daerah jauh, kan (akses) internet nggak bagus. Jadi, anggaran Rp 2,3 triliun itu harus ditambah," tambahnya.

Jazilul menambahkan apalagi alokasi anggaran tersebut tidak hanya untuk pesantren, tapi juga kegiatan keagamaan Islam lainnya. "Anggaran itu kecil sekali. Apalagi untuk lembaga pendidikan agama Islam yang lain. Untuk pesantren saja nggak cukup maka Rp 2,3 triliun itu ada gunanya. Pesantren saja ada 28 ribu," katanya.***

wwwwww