Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Arema FC Luncurkan Program Inovatif Memeriahkan Hari Ulang Tahun
Sepakbola
13 jam yang lalu
Arema FC Luncurkan Program Inovatif Memeriahkan Hari Ulang Tahun
2
Belasan Tahun Raih WTP, DPD Targetkan Zero Temuan Tahun Depan
Nasional
22 jam yang lalu
Belasan Tahun Raih WTP, DPD Targetkan Zero Temuan Tahun Depan
3
Waspadai Covid 19, Zohri Tiba di Jakarta, 12 Agustus 2020
Olahraga
14 jam yang lalu
Waspadai Covid 19, Zohri Tiba di Jakarta, 12 Agustus 2020
4
BAZNAS Luncurkan Logo Peduli Covid-19
Umum
15 jam yang lalu
BAZNAS Luncurkan Logo Peduli Covid-19
5
KONI Pusat Cek Kesiapan Semua Bidang PB PON XX Papua 2021
Olahraga
16 jam yang lalu
KONI Pusat Cek Kesiapan Semua Bidang PB PON XX Papua 2021
6
Azis Syamsuddin Minta Pemda Sumut dan BNPB Proaktif Bantu Warga Sinabung
DPR RI
16 jam yang lalu
Azis Syamsuddin Minta Pemda Sumut dan BNPB Proaktif Bantu Warga Sinabung
Home  /  Berita  /  Politik

Supaya Tak Bergantung dari China, Wakil Ketua DPD: Kita harus jadi Produsen

Supaya Tak Bergantung dari China, Wakil Ketua DPD: Kita harus jadi Produsen
Wakil Ketua DPD RI, Nono Sampono saat duduk berdampingan dengan Menkopolhukam Mahfud MD. (GoNews.co)
Selasa, 07 Juli 2020 19:27 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Hingga saat ini, Indonesia masih kalah agresif dalam memperluas pasar maupun investasi di kawasan Asia Tenggara dibandingkan dengan negara-negara anggota Asean yang lain seperti Singapura, Malaysia, Thailand, bahkan Vietnam.

Sebagai negara dengan wilayah terluas dan memiliki area yang menjadi penghubung sebagian besar negara di Asia Tenggara, Indonesia harus mengoptimalkan peluang strategis di kawasan tersebut tidak hanya ekspor produk barang maupun jasa, namun juga investasi. Investasi ini tidak hanya akan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional tapi juga memperkuat integrasi antar kawasan.

Demikian diungkapkan Wakil Ketua DPD RI, Nono Sampono, saat memenuhi undangan Menkopolhukam, Mahfud MD, untuk menjadi pembicara tunggal di hadapan pejabat Eselon I dan II di lingkungan Kementerian Polhukam, Selasa (7/7/2020) sore.

"Kita harus akui, saat ini barang-barang dari China misalnya, itu sudah kemana mana, banyak Negara sudah ketergantungan dengan China, termasuk negara kita," urainya.

"Bisa kita bayangkan, dari kita bangun tidur, mandi sampai berangkat kerja kita hampir menggunakan barang China. Demikian juga perabotan dan asesoris rumah tangga juga dari China," timpalnya.

Sementara lanjut Nono, negara pesaingnya seperti Amerika belum mampu bersaing dengan China. "Kalau Amerika saja belum mampu, apalagi kita. Dari segi Politik, saat ini kita hanya bisa mempertahankan segala macam keragaman sumber daya alam yang kita miliki," tukasnya.

Saat ini kata Senator asal Maluku ini, Indonesia hanya bertumpu pada kesepakatan perdagangan bebas Asean atau Asean Free Trade Agreement (AFTA) beserta kesepakatan Asean dengan negara mitra (Asean-China FTA/ACFTA, Asean-Korea FTA/AKFTA, Asean-Japan CEP/AJCEP, Asean-India FTA/AIFTA dan Asean Australia New Zealand FTA-AANZFTA), namun penetrasi pasar masih sangat minim.

Kondisi ini harus berubah jika Indonesia menginginkan pertumbuhan ekonomi yang signifikan di tengah-tengah perang dagang AS-China. "Kita harus bisa menghadapi persaingan dalam perdagangan global yang saat ini mereka kuasai. Karena, 90 persen perdagangan dunia itu melalui laut dan melintasi Indonesia. Ini Yang perlu kita manfaatkan. Jangan sampai kita hanya menjadi konsumen atau Pasar saja. Tapi, kita juga harus bisa menjadi produsen," tegasnya.

Untuk itu kata Nono, Kita tidak boleh terperovokasi dengan ancaman-ancaman keamanan dari luar, yang bertujuan untuk mengacaukan konsentrasi bangsa Indonesia untuk mengimbangi persaingan dagang negara-negara kuat.  "Kita jangan terkecoh, termasuk provokasi Natuna. Ingat kita ini Poros Maritim Dunia Lho, jadi yang megang kendali itu kita," tegasnya.

Untuk itu, Nono menawarkan berbagai hal dalam konteks Asean. Pertama kata Dia, Indonesia tidak bisa berfikir atau ingin maju sendiri, namun harus berfikir maju bersama dengan negara-negara Asean. "Kemudian, kita harus menghindari konflik dan fokus menjaga arus pelayaran khususnya di kawasan laut China Selatan. Kemudian kita juga harus secepatnya melakukan diplomasi-diplomasi Maritim. Kenapa? Ya karena arus perdagangan akan lebih banyak melintasi laut," urainya.

Terakhir, kata Nono, adalah memperkuat militer. "Untuk bersaing dan merebut perdagangan global itu, kita juga tidak bisa abaikan kekuatan militer. Jadi selain kekuatan ekonomi, pertahanan militer kita juga harus diperkuat," tandasnya.

Indonesia kata Nono, sebenarnya memiliki keunggulan bukan hanya dari sumber daya alam (SDA) namun juga posisi geografis strategis di kawasan Asean. Posisi tersebut perlu dimanfaatkan secara optimal baik untuk jalur perdagangan maupun jalur logistik yang memungkinkan proses investasi berjalan lebih baik lagi.

Berbagai macam sektor yang tersedia di kawasan Asia Tenggara sangat potensial untuk dimanfaatkan Indonesia. Kerjasama (partnership) dengan pengusaha lokal di masing-masing negara juga terbuka lebar.

"Investasi di kawasan Asean akan membantu Indonesia untuk mengurangi tekanan sebagai dampak dari perang dagang Amerika Serikat-China. Selain itu, kehadiran Indonesia di kawasan Asia Tenggara dalam jangka panjang akan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara signifikan. Investasi dan pemanfaatan akses pasar Asean oleh Indonesia akan meningkatkan peran di kawasan tersebut secara lebih elegan," tegasnya.

Ia juga mengingatkan, Indonesia harus mewaspadai perkembangan lingkungan strategi kawasan Asia Pasifik yang berpengaruh terhadap pergeseran Geo Politik, Geo Ekonomi dan Geo Strategi. "Yang bakal terpengaruh oleh perkembangan lingkungan strategi kawasan Asia Pasifik sebenarnya bukan hanya kita (Indonesia, red), tapi secara keseluruhan akan menimpa Negara-negara Asean," pungkasnya.***


wwwwww