Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Terlalu Riskan PB Perpani Tetap Ngotot Singkirkan Tiga Pemanah Elit
Olahraga
23 jam yang lalu
Terlalu Riskan PB Perpani Tetap Ngotot Singkirkan Tiga Pemanah Elit
2
Fahri: Keberagaman di Nusantara Bisa Jadi Format bagi Indonesia untuk Mempersatukan Dunia
Politik
10 jam yang lalu
Fahri: Keberagaman di Nusantara Bisa Jadi Format bagi Indonesia untuk Mempersatukan Dunia
3
Hetifah Harap Arahan Presiden Diterjemahkan dalam Program-program Nyata
DPR RI
23 jam yang lalu
Hetifah Harap Arahan Presiden Diterjemahkan dalam Program-program Nyata
4
DPR Berharap Revisi UU Penanggulangan Bencana Selesai di Masa Sidang saat Ini
DPR RI
5 jam yang lalu
DPR Berharap Revisi UU Penanggulangan Bencana Selesai di Masa Sidang saat Ini
5
Batalkan Pesanan, Takmir Masjid Dipukul dan Kemaluannya Ditarik Pengusaha Pasir
Hukum
23 jam yang lalu
Batalkan Pesanan, Takmir Masjid Dipukul dan Kemaluannya Ditarik Pengusaha Pasir
6
Aksi Tolak Omnibus Law Chaos di Yogyakarta
Peristiwa
23 jam yang lalu
Aksi Tolak Omnibus Law Chaos di Yogyakarta
Home  /  Berita  /  Pemerintahan

Jaga Perekonomian, Presiden: Jangan Ada Lagi Beli dari Luar

Jaga Perekonomian, Presiden: Jangan Ada Lagi Beli dari Luar
Presiden RI Joko Widodo dalam Rapat Terbatas (Ratas) Percepatan Penyerapan Anggaran di Istana Negara, Jakarta, Selasa (7/7/2020) yang dipublikasikan BPMI pada Rabu (8/7/2020). (Gambar: Tangkapan layar virtual)
Kamis, 09 Juli 2020 08:08 WIB
JAKARTA - Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), menegaskan kondisi ekonomi Indonesia dalam kondisi mengkhawatirkan. Kondisi demikian, juga dialami oleh negara-negara lain.

Dalam Rapat Terbatas (Ratas) Percepatan Penyerapan Anggaran di Istana Negara, Jakarta, Selasa (7/7/2020) lalu, Presiden Jokowi menyatakan bahwa dalam situasi seperti ini hanya Belanja Pemerintah yang bisa menggerakkan ekonomi. "Nggak ada yang lain, kecuali Belanja Pemerintah,".

Oleh sebab itu, lanjut Presiden, "saya minta semuanya dipercepat. Terutama yang anggarannya gede-gede,".

"Kalau nggak, ngeri saya. Terus terang saya ngeri. Di kuartal ketiga ini, ini kuncinya di kuartal ketiga," kata Jokowi yang sebelumnya menyebut, pertumbuhan ekonomi kuartal ke II saat ini dirediksi kuat juga melemah, lantaran pandemi.

Dalam Ratas tersebut, Kepala Negara hanya mengundang para pembantunya yang memiliki anggaran besar. Jokowi pun menyebut setidaknya 5 kementerian beserta besaran anggarannya.

Kemenhan Rp 117,9 triliun, Kemensos Rp 104,4 triliun, Kemendikbud Rp 70, 7 triliun, Polri Rp 92,6 triliun, dan Kemenhub Rp 32,7 triliun.

Kepada kementerian dengan anggaran jumbo itu, Kepala Negara meminta dengan tegas percepatan belanja dan hanya membeli produk lokal.

"Saya titip, beli produk dalam negeri. Misalnya di Kemenhan, bisa saja beli di Dirgantara Indonesia (DI), beli di Pindad, beli di PAL, yang bayar cash di sini dengan APBN. Kepolisian juga sama, saya kira belanja-belanja yang dulu belanja ke luar, rem dulu. Beli, belanja produk-produk kita. Agar apa? Ekonomi kena trigger dan bisa memacu growth kita," kata Jokowi.

Termasuk pemenuhan kebutuhan obat-obatan, lanjut Jokowi, "kalau perlu stok nggak apa-apa tapi stok obat dalam negeri. PCR, beli dalam negeri, kita sudah bisa membuat PCR. Rapid Test, beli dalam negeri karena kita sudah bisa membuat semuanya. Jangan ada lagi beli yang dari luar,".***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Kategori:Ekonomi, Pemerintahan, Nasional, GoNews Group, DKI Jakarta

wwwwww