Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Negara Harus Lindungi PMI ABK, Jangan Pas Ada Kasus Baru Kelihatan Sibuk
Pemerintahan
23 jam yang lalu
Negara Harus Lindungi PMI ABK, Jangan Pas Ada Kasus Baru Kelihatan Sibuk
2
Bangun Ribuan Titik Jaringan Wi-Fi, Gus Jazil: Langkah Konkret GBB Membantu Pendidikan Masyarakat di Masa Pandemi
Politik
24 jam yang lalu
Bangun Ribuan Titik Jaringan Wi-Fi, Gus Jazil: Langkah Konkret GBB Membantu Pendidikan Masyarakat di Masa Pandemi
3
Persiapan Mendekati Final, MPR Siap Gelar Sidang Tahunan MPR 2020
Politik
23 jam yang lalu
Persiapan Mendekati Final, MPR Siap Gelar Sidang Tahunan MPR 2020
4
Tito Karnavian: Air Wudhu Tidak Membunuh Virus Corona
Pemerintahan
20 jam yang lalu
Tito Karnavian: Air Wudhu Tidak Membunuh Virus Corona
5
Kuatkan Komitmen Etika Bernegara, HNW Usul MPR Bentuk Mahkamah Kehormatan
Politik
24 jam yang lalu
Kuatkan Komitmen Etika Bernegara, HNW Usul MPR Bentuk Mahkamah Kehormatan
6
Guna Menggerakkan Ekonomi Nasional, DPR Dukung Program Subsidi Upah Senilai Rp37,7 Triliun
Ekonomi
23 jam yang lalu
Guna Menggerakkan Ekonomi Nasional, DPR Dukung Program Subsidi Upah Senilai Rp37,7 Triliun
Home  /  Berita  /  Pendidikan

Demi Anak Belajar Online, Orang Tua Jual Sawah untuk Beli HP, DPR Minta Mendikbud Turun Tangan

Demi Anak Belajar Online, Orang Tua Jual Sawah untuk Beli HP, DPR Minta Mendikbud Turun Tangan
Selasa, 28 Juli 2020 21:27 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
CIAMIS - Kasus yang dialami Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Desa Pasawahan, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat yang mengalami kesulitan belajar secara online akibat tidak mempunyai handphone dan sulit mendapatkan sinyal menjadi perhatian Legislator di Senayan.

Salahsatunya adalah Anggota Komisi X DPR, Zainudin Maliki. Ia mengaku miris dengan kejadian tersebut. Terlebih lagi ada orang tua wali murid yang harus merelakan sawahnya dijual untuk membeli HP.

"Harus kita akui, saat ini banyak orang tua yang kesulitan membeli peralatan untuk anaknya belajar online. Sementara PJJ masih jadi pilihan untuk tetap bisa belajar dengan segala keterbatasannya," ujarnya saat dihubungi GoNews.co, Selasa (28/7/2020).

Anggota DPR dari Fraksi PAN ini berharap, Kemendikbud bisa menetapkan skala prioritas alokasi anggaran dengan benar untuk menyiasati proses belajar daring.

"Kemendikbud harus turun tangan. Bantuan untuk pengadaan HP, pulsa, dan juga pelatihan penggunaannya perlu diprioritaskan," tegasnya.

Tidak hanya murid atau siswa, tapi sistem belajar online juga menjadi kendala tersendiri bagi para tenaga pengajar. "Kemendikbud sekali lagi, harus melatih guru untuk mengemas pembelajaran daring, supaya proses belajar mengajar ini efektif," tukasnya.

Siswi Kelas IX, Tuti Alawiah mengaku belajar di Pos Ronda karena tidak mendapatkan sinyal jika belajar secara online di rumah. Selain itu jika mengetahui ada tugas dari temannya karena tidak mempunyai handphone.

"Belajar tugas sekolah di rumah nggak ada sinyal. Yang ada di Pos Ronda," ucap Tuti di Ciamis, Senin (27/7/2020).

Diberitakan sebelumnya, selama belajar secara online, Tuti salah satu siswi di Ciamis mengaku meminjam handphone milik temannya agar bisa mengerjakan tugas sekolah. Kesulitan hal tersebut pernah disampaikan kepada gurunya.

"Kesulitan nggak punya HP, tahu ada tugas dari guru dari teman," kata dia.

Sementara itu, Siswi Kelas IX Julia mengaku orang tuanya kesulitan untuk membiayai kuota internet selama belajar secara online. Bahkan orang tuanya terpaksa menjual sawah untuk membeli handphone.

"Iya jual sawah untuk beli HP," ucap Julia.

Di sisi lain, Kepala SMP Plus Pasawahan Adi Durohman mengakui para siswa tidak mempunyai handphone untuk mendukung kegiatan belajar via daring. Sebab beberapa siswa di SMP Plus Pasawahan dari keluarga tidak mampu.

"Untuk proses pembelajaran kan harus daring kesulitannya alat dan sekolah ada di ujung Kabupaten Ciamis," ucap Adi.

Karena itu, Adi meminta Dinas Pendidikan Ciamis menerapakan belajar tatap muka untuk meringankan beban orang tua siswa. Kendala orang tua di Pasawahan yang penghasilan rata-rata Rp1 juta per bulan mengeluarkan uang banyak untuk kuota internet dan beli HP.

"Proses belajar daring memang beberapa wilayah susah sinyal maka kami minta belajar tatap muka," kata Adi.***


wwwwww