Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Lembaga Penyiaran harus Mampu Memperkuat Ideologi Bangsa
Politik
19 jam yang lalu
Lembaga Penyiaran harus Mampu Memperkuat Ideologi Bangsa
2
169 Tetangga HRS Rapid Test, Polisi: Hasilnya Nonreaktif Semua
Kesehatan
16 jam yang lalu
169 Tetangga HRS Rapid Test, Polisi: Hasilnya Nonreaktif Semua
3
RPP Badan Usaha Desa Akan Dibahas Lintas Kementerian
Ekonomi
23 jam yang lalu
RPP Badan Usaha Desa Akan Dibahas Lintas Kementerian
4
Pandemi, Penganguran di Indonesia Tembus 9,77 Juta Orang
Ekonomi
24 jam yang lalu
Pandemi, Penganguran di Indonesia Tembus 9,77 Juta Orang
5
Legislator Ini Ajak Tokoh dan Ustazah di Jakarta Berjuang Bersama
Politik
4 jam yang lalu
Legislator Ini Ajak Tokoh dan Ustazah di Jakarta Berjuang Bersama
Home  /  Berita  /  Politik

Waduh, RI Masuk Daftar Negara Tingkat Kelaparan Serius

Waduh, RI Masuk Daftar Negara Tingkat Kelaparan Serius
Kamis, 30 Juli 2020 17:44 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengingatkan para pemangku kepentingan untuk serius membenahi sektor pangan di Tanah Air. Ia menekankan, Indonesia harus memiliki kedaulatan pangan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan menghindari kelaparan.

"Mencukupi kebutuhan pangan kepada 267 juta penduduk, sebenarnya bukanlah hal sulit. Mengingat Indonesia dianugerahi tanah yang subur untuk pertanian, laut yang luas untuk perikanan, maupun udara segar untuk perkebunan. Tak ada yang tak bisa ditanam di sini. Tinggal bagaimana kita mengelolanya secara bijak. Karena itu, gagasan Presiden Joko Widodo merealisasikan food estate dengan membuka lahan pertanian seluas 165.000 hektare di Kalimantan Tengah patut didukung," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Kamis (29/7/2020).

Bamsoet memaparkan, laporan The Global Hunger Index (2019) menempatkan Indonesia di peringkat ke-130 dari 197 negara dengan tingkat kelaparan serius. Diperkirakan 8,3 persen populasi tak mendapat gizi cukup, serta 32,7 persen anak balita mengalami stunting. Hal itu harusnya menjadi pengingat agar segera membenahi sektor pangan.

"Jika di masa normal saja kondisi pangan bisa sesulit itu, apalagi di kondisi pandemi COVID-19. Badan Pangan Dunia (FAO) sudah memperingatkan adanya krisis pangan dunia akibat terganggunya jalur supply karena pandemi Covid-19. Kejadian tersebut menjadi cambuk bagi Indonesia untuk serius membenahi sektor pangan. Pembangunan desa harus digenjot sehingga para pemuda tak lagi melakukan urbanisasi. Pemuda harus bangga menjadi petani," terang Bamsoet.

Dengan luas lahan mencapai 570.000 km persegi, sambung Bamsoet, sektor pertanian belum mampu mempersembahkan yang terbaik. Salah satu penyebabnya, yakni karena impor yang merajalela. Indonesia masih mengimpor beras sejak 1960an, dan mengimpor jagung sejak 1989.

"Padahal pemajuan sektor pertanian juga akan berdampak luas terhadap penerimaan devisa negara, serta mampu membuka banyak lapangan pekerjaan, yang pada akhirnya akan menanggulangi kemiskinan. Pandemi COVID-19 telah membawa pelajaran besar agar kita tak lagi meninggalkan sektor pangan," pungkas Bamsoet.***

wwwwww