Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Pembahasan Omnibuslaw Ciptaker di Hotel sesuai Tatib, Parlemen Menjelaskan
DPR RI
16 jam yang lalu
Pembahasan Omnibuslaw Ciptaker di Hotel sesuai Tatib, Parlemen Menjelaskan
2
Akhirnya, Polisi Bekuk Pelaku Vandalisme Musola di Tangerang, Ternyata Berstatus Mahasiswa
Peristiwa
11 jam yang lalu
Akhirnya, Polisi Bekuk Pelaku Vandalisme Musola di Tangerang, Ternyata Berstatus Mahasiswa
3
Kemendagri Dorong Kampanye Pilkada Menunjang Prokes
Pemerintahan
11 jam yang lalu
Kemendagri Dorong Kampanye Pilkada Menunjang Prokes
4
Kutuk Aksi Vandalisme Musolla, Korpolkam DPR Imbau Masyarakat Tak Terprovokasi
GoNews Group
9 jam yang lalu
Kutuk Aksi Vandalisme Musolla, Korpolkam DPR Imbau Masyarakat Tak Terprovokasi
5
Duh... Anggota DPRD Dari Partai Golkar Ini Jadi Bandar Narkoba
Hukum
13 jam yang lalu
Duh... Anggota DPRD Dari Partai Golkar Ini Jadi Bandar Narkoba
6
Ketua DPR Minta Peserta Pilkada Tak Mobilisasi Massa saat Kampanye
Politik
14 jam yang lalu
Ketua DPR Minta Peserta Pilkada Tak Mobilisasi Massa saat Kampanye
Home  /  Berita  /  Politik

Jelang Pilkada, Pejabat dan Ulama Wajib Duduk Bersama

Jelang Pilkada, Pejabat dan Ulama Wajib Duduk Bersama
Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid. (GoNews.co)
Sabtu, 12 September 2020 00:36 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy

KONAWE SELATAN - Wakil Ketua MPR RI,  Jazilul Fawaid menegaskan, bangsa Indonesia didirikan para leluhur dengan air mata darah dan harta.

Untuk itulah seyogyanya generasi penerus saat ini tidak boleh menyia-nyiakan pengorbanan dari para leluhur bangsa ini.

Demikian diungkapkan Jazilul Fawaid saat memberikan materi Sosialisasi Empat Pilar MPR RI, di hadapan ratusan masyarakat dan warga NU Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, Jumat (11/9/2020) malam di Rumah Jabatan Bupati Konsel.

"Kita tidak boleh menyia-nyiakan perjuangan para pendiri bangsa. Bapak-ibu saat ini berada di Konawe Selatan, adalah hasil dari kemerdekaan yang direbut para pendahulu kita dari penjajah," urainya.

Lahirnya UUD 45 dan Pancasila kata Gus Jazil  sapaan akrab Jazilul Fawaid, adalah berkat kerjasama para tokoh yang berlatar belakang suku, agama yang berbeda. "Hanya saja, saat itu lebih banyak peran ulama kita yang mencetuskan UUD dan Pancasila. Bahkan saat merumuskan Sila Pertama Pancasila yakni Ketuhanan yang maha esa, sempat menjadi perdebatan sengit. Akhirnya para ulama lah yang mengalah dengan menghilangkan point piagam Jakarta, dan sepakat untuk menggunakan kalimat "Ketuhanan yang Maha Esa". Artinya, pendahulu kita paham betul, bahwa dasar negara kita harus mengakomodir semua agama untuk menyatukan pulau-pulau di Indonesia dalam bingkai NKRI," ujarnya.

Jika tidak demikian kata Gus Jazil, kemungkinan sampai sekarang Konawe Selatan tidak akan ada. "Konawe Selatan ini daerah, wilayah, yang muaranya adalah NKRI. Jadi setelah UUD tercipta, diperkuat dengan dasar negara, kemudian diikat dengan bingkai NKRI, maka muncullah penguat pemersatu semua suku yakni Bhineka Tunggal Ika, meski berbeda kita tetap satu bangsa Indonesia," tandasnya.

Konawe Selatan kata Gus Jazil, dianugerahi hasil bumi dan kekayaan melimpah. Di Kabupaten hasil pemekaran ini juga dihuni warga yang berlatar belakang suku dan agama yang berbeda. "Alhamdulillah meski di sini ada beragam suku, agama, tetap aman, kondusif, kerukunan selalu terjaga, ini yang perlu kita pertahankan," ajaknya. 

Menjelang Pilkada, kata Pria asal Pulau Bawean Gresik, Jawa Timur itu, Dirinya secara khusus meminta seluruh jajaran Pemda, TNI Polri, untuk tetap menciptakan kedamaian di Konawe Selatan.

"Panas jelang Pilkada itu wajar, beda pilihan itu wajar, tapi jangan sampai terjadi kericuhan. Jikapun kericuhan atau gesekan tidak bisa dihindarkan, disinilah peran pemerintah daerah dan ulama sangat dibutuhkan. Duduk lah satu meja, untuk mengantisipasi hal-hal yang bisa memicu pergolakan," tandasnya.

Jika pemerintah dan Ulama duduk satu meja, Koordiantor Nasional Nusantara mengaji itu yakin, Konawe Selatan khusunya, dan Indonesia pada umumnya akan aman dan damai," pungkasnya.***

wwwwww