Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
Metropolitan
11 jam yang lalu
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
2
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
Ekonomi
13 jam yang lalu
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
3
BMKG: Cuaca Jabodetabek Hari Ini Berpotensi Hujan Ringan
Metropolitan
19 jam yang lalu
BMKG: Cuaca Jabodetabek Hari Ini Berpotensi Hujan Ringan
4
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
Sepakbola
7 jam yang lalu
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
5
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
Kemenpora
9 jam yang lalu
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
6
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
Non Olympic
6 jam yang lalu
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
Home  /  Berita  /  Kriminal

Sejarah Panjang dan Keberlanjutan Revolusi Mental

Sejarah Panjang dan Keberlanjutan Revolusi Mental
Rabu, 23 September 2020 12:25 WIB
JAKARTA - Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Puan Maharani, menegaskan pentingnya revolusi mental sebagai syarat mencapai kemajuan bangsa.

Dalam perayaan HUT ke-56 Provinsi Sulawesi Utara dan pembukaan Gebyar Milenial Revolusi Mental 2020 yang digelar di Manado, Rabu (23/9/2020), Puan mengisahkan sejarah revolusi mental yang dimulai sejak zaman Bung Karno.

Pada 1957 Presiden Sukarno memperkenalkan konsep Revolusi Mental kepada bangsa Indonesia. Bung Karno mengatakan, Revolusi Mental adalah gerakan hidup baru untuk menggembleng manusia Indonesia menjadi manusia baru yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, dan berjiwa api.

Lalu, tutur Puan, pada tahun 2014 Revolusi Mental menjadi gerakan nasional yang menekankan pada tiga nilai utama; yaitu integritas, etos kerja, dan gotong royong.

"Dengan mewujudkan Revolusi Mental, sejatinya kita sedang mewujudkan Indonesia yang berdaulat, berdikari, dan berkepribadian," ujar Puan.

Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan itu mengapresiasi langkah Menko PMK saat ini, Muhadjir Effendi, yang melanjutkan program revolusi mental.

"Sekarang kita menghadapi pandemi Covid-19, membutuhkan Revolusi Mental untuk menghadapinya dalam bentuk percepatan perubahan perilaku, disiplin protokol kesehatan," kata Puan.

Di DPR, Ia melanjutkan, gotong royong sebagai salah satu nilai dalam revolusi mental tetap berjalan efektif, "berbagai RUU terus dibahas secara mendalam dengan berbagai elemen masyarakat, dan bahkan beberapa sudah disahkan menjadi Undang-Undang,". Meskipun, parlemen harus bekerja dengan mengadaptasi kebiasaan baru dan memberlakukan protokol kesehatan.

Kekinian, dan bagi generasi muda, Puan menegaskan bahwa revolusi mental harus menjadi bagian dari kehidupan dan refleks bagi generasi muda. Karenanya, Politisi PDIP itu mengapresiasi peluncuran Aplikasi Assessment Milenial Revolusi Mental di Sulawesi Utara yang berlangsung Rabu.

Karena sejatinya, kata Puan, "Revolusi Mental masih terus berjalan, Revolusi Mental belum selesai,".***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Kategori:Sulawesi Utara, DKI Jakarta, Badminton, Kriminal, Nasional
wwwwww