Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
Metropolitan
20 jam yang lalu
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
2
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
Nasional
8 jam yang lalu
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
3
‎SGY Dukung Tiket Pantai Ancol Gratis, Minta Pemprov DKI Kaji Ulang Kebijakan Tiket Masuk
Metropolitan
18 jam yang lalu
‎SGY Dukung Tiket Pantai Ancol Gratis, Minta Pemprov DKI Kaji Ulang Kebijakan Tiket Masuk
4
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
Nasional
8 jam yang lalu
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
5
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
Nasional
9 jam yang lalu
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
6
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
Nasional
8 jam yang lalu
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
Home  /  Berita  /  MPR RI

Terima Pengurus KWP, Bamsoet Ingatkan Pentingnya Uji Kompetensi Wartawan

Terima Pengurus KWP, Bamsoet Ingatkan Pentingnya Uji Kompetensi Wartawan
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo saat menerima Pengurus Koordinatoriat Wartawan Parlemen. (Foto: Istimewa)
Senin, 16 November 2020 20:39 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menyambut hangat kepengurusan wartawan koordinatoriat MPR/DPR/DPD RI (Press Room Parlemen) periode 2020-2022 yang dipimpin Ketua Marlen Erikson Sitompul, Sekretaris Jenderal Ariawan dan Bendahara Kiswondari.

Dirinya turut mendukung program kerja pengurus dalam memasifkan sertifikasi kompentensi wartawan bagi para jurnalis yang bertugas di komplek Parlemen.

"MPR RI siap memfasilitasi anggota press room Parlemen untuk mengikuti ujian kompetensi wartawan. Sehingga mereka bisa semakin meningkatkan kemampuan dirinya di bidang jurnalistik. Ujian kompetensi ini juga sesuai Peraturan Dewan Pers Nomor 01/Peraturan-DP/X/2018 tentang Standar Kompetensi Wartawan, yang salah satu tujuannya untuk menjaga kehormatan profesi wartawan," ujar Bamsoet saat menerima Pengurus Wartawan Koordinatoriat MPR/DPR/DPD RI (Press Room Parlemen) periode 2020-2022, di Ruang Kerja Ketua MPR RI, Senin (16/11/20).

Pengurus Press Room yang hadir antara lain Ketua Marlen Erikson Sitompul, Sekjen Ariawan, Wasekjen Johan Oktavianus Tallo, Bendahara Kiswondari, Wabendum Poppy Rahmawati, Wakil Ketua I Charlie Lopulua, Wakil Ketua II Carlos Kartika Yudha Paath, Wakil Ketua III Farid Kusuma, Wakil Ketua IV Chaerul Umam, Wakil Ketua V Mahedra Dewa Nata, dan Wakil Ketua VI  Mokhamad Munib.

Ketua DPR RI ke-20 ini juga mengingatkan anggota Press Room Parlemen mewaspadai 'deep fake', yang kini sedang meresahkan Amerika Serikat dan berbagai negara lainnya. Yakni berupa rekayasa video menyerupai seseorang yang dibuat menggunakan artificial intelligence.

Deep fake bisa memperlihatkan video seakan mantan Presiden Barack Obama sedang mengatakan sesuatu kepada rakyat Amerika, dengan gerak bibir yang nyaris sempurna. Padahal, 'orang' dalam video tersebut bukanlah Obama, bukan juga diperankan oleh seseorang yang mirip Obama. 'Orang' dalam video tersebut dibuat menggunakan artificial intelligence.

"Deep fake bisa menjadi sarana baru mengembangkan hoax dan hate speech. Sehingga bisa membuat kebingungan di masyarakat. Bahkan pada skala yang lebih besar, bisa membuat perpecahan di masyarakat. Antara benar dan salah, antara fakta dan ilusi, menjadi sangat tipis sekali perbedaannya. Saat ini Amerika Serikat dan berbagai negara maju lainnya sedang disibukan dengan deep fake. Tak menutup kemungkinan dalam waktu dekat Indonesia juga menghadapi masalah serupa," tandas Bamsoet.

Kepala Badan Bela Negara FKPPI yang juga mantan wartawan ini menekankan, disinilah letak pentingnya kehadiran media massa sebagai tempat acuan utama masyarakat dalam memperoleh informasi. Agar media massa bisa menyajikan informasi faktual yang sesuai fakta, butuh wartawan handal yang memiliki kompetensi.

"Wartawan harus bisa mencari dan mendalami sebuah kejadian secara cermat. Bisa memisahkan antara fakta dengan hoax, maupun antara hate speech dengan opini. Sehingga informasi yang disajikan kepada masyarakat tidak bias. Dengan demikian, tatkala masyarakat mendapatkan informasi melalui media sosial maupun sarana lainnya, mereka bisa mengkroscek kebenarannya ke media massa," pungkas Bamsoet.***

wwwwww