Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Penduduk Indonesia Dirilis Berjumlah 271.349.889 Jiwa, 17.463 Diantaranya Berusia 100-115 Tahun
Pemerintahan
16 jam yang lalu
Penduduk Indonesia Dirilis Berjumlah 271.349.889 Jiwa, 17.463 Diantaranya Berusia 100-115 Tahun
2
Iuran BPJS Kembali Naik, Syarif Hasan: Pemerintah Harusnya Bantu Masyarakat Bukan Mempersulit
MPR RI
17 jam yang lalu
Iuran BPJS Kembali Naik, Syarif Hasan: Pemerintah Harusnya Bantu Masyarakat Bukan Mempersulit
3
Sambangi Mendagri, Amerika Apresiasi Suksesnya Pilkada 2020
Nasional
21 jam yang lalu
Sambangi Mendagri, Amerika Apresiasi Suksesnya Pilkada 2020
4
4 Sektor Industri Nasional yang bisa Bertahan di Tengah Pandemi
Ekonomi
23 jam yang lalu
4 Sektor Industri Nasional yang bisa Bertahan di Tengah Pandemi
5
Sultan Najamudin: Polri Harus Bisa jadi Tonggak Utama Penegakan Hukum di Indonesia
Peristiwa
19 jam yang lalu
Sultan Najamudin: Polri Harus Bisa jadi Tonggak Utama Penegakan Hukum di Indonesia
6
Karena Kasus Ini, Komisi III DPR Desak Yasona Copot Liberty Sitinjak dari Kakanwilkumham DKI
Hukum
19 jam yang lalu
Karena Kasus Ini, Komisi III DPR Desak Yasona Copot Liberty Sitinjak dari Kakanwilkumham DKI
Home  /  Berita  /  Pendidikan

Siswi SMP Ini Minta Dinikahkan karena Bosan Belajar Daring

Siswi SMP Ini Minta Dinikahkan karena Bosan Belajar Daring
Prosesi akad nikah sepasang pengantin remaja di Lombok Tengah. (Inews/ema widiawati)
Jum'at, 04 Desember 2020 09:19 WIB

LOMBOK TENGAH - ES (15), seorang siswi SMP di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) meminta kepada orangtuanya untuk dinikahkan dengan alasan sudah bosan belajar dengan sistim daring (pembelajaran jarak jauh).

Permintaan remaja putri itu pun dipenuhi orangtuanya, sehingga berlangsunglah pernikahan sepasang remaja di Desa Aiq Berik, Kecamatan Batu Kliang Utara, Lombok Tengah, beberapa waktu lalu. Pasangan pengantin remaja itu adalah S (17) asal Kumbak Dalem dan ES asal Desa Aiq Berik.

''Saya bosan belajar online. Makanya putuskan menikah,'' ucap bocah kelas 3 SMP itu, Jumat (30/10/2020) lalu, seperti dikutip dari Inews.id.

Kepala Dusun Kumbak, Abdul Hanan mengaku sudah berupaya memediasi kedua pihak keluarga agar menunda pernikahan lantaran usia mereka masih di bawah umur.

''Kami sudah berusaha mencegah pernikahan dini ini, tapi mereka tetap memilih menikah,'' katanya.

Menanggapi hal itu, Plt Kepala Dinas Pendidikan Lombok Tengah, Moh Nazili mengatakan, kasus pernikahan dini itu menjadi perhatian semua pihak, apa lagi ini alasannya bosan belajar di rumah.

Nazili menjelaskan, sebagai langkah memberikan efek jera, sekolah dan komite telah berinisiatif agar anak sekolah yang menikah dikenakan denda. ''Salah satunya denda berbentuk uang Rp2 juta hingga Rp5 juta,'' katanya.

Meski pernikahan kedua remaja itu sah secara agama, mereka tidak diakui negara karena tidak tercatat di KUA lantaran faktor usia.

Hingga September 2020, jumlah remaja di Lombok Tengah yang mengajukan dispensasi menikah selama pandemi Covid-19 mencapai 117 orang. Jumlah itu naik drastis dibandingkan sebelum pandemi.

Selain karena faktor ekonomi, sebagian besar siswa yang memilih menikah dini karena bosan belajar online.***

Editor:hasan b
Sumber:inews.id
Kategori:Pendidikan
wwwwww