Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
Sepakbola
16 jam yang lalu
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
2
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
Metropolitan
20 jam yang lalu
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
3
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
Non Olympic
15 jam yang lalu
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
4
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
Kemenpora
17 jam yang lalu
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
5
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
Ekonomi
22 jam yang lalu
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
6
Demi Amankan Poin Hadapi Persija, Persita Lakukan Persiapan Matang
Sepakbola
13 jam yang lalu
Demi Amankan Poin Hadapi Persija, Persita Lakukan Persiapan Matang
Home  /  Berita  /  SEA Games
Opini

Butuh 'Nyali Egois Sosial' untuk Melawan Corona

Butuh Nyali Egois Sosial untuk Melawan Corona
Komunikolog Indonesia, Emrus Sihombing. (Foto: Istimewa)
Minggu, 24 Januari 2021 14:48 WIB
Penulis: Emrus Sihombing
PENANGANAN Pandemi Covid-19 diperlukan nyali sikap dan perilaku egois yang berdapak sosial, atau egois sosial.

Artinya, setiap individu bersikap dan berperilaku menyelamatkan diri sendiri dari pandemi Covid-19 dengan menggunakan semua protokol kesehatan secara ketat.

Kemudian, menghindari dan menjahui orang lain secara fisik dalam batas waktu hingga masalah Covid-19 dapat diatasi, dengan siapapun orang tersebut, yang tidak taat protokol kesehatan dalam setiap konteks dan kekerabatan sosial.

Namun relasi emosional antar individu harus tetap terjaga dengan menggunakan aplikasi dalam jaringan (daring).

Sebab, Covid-19 menyebar dari manusia ke manusia lain tanpa mengenal konteks dan hubungan kekerabatan antar manusia.

Tentu, untuk mewujudkan hal tersebut diperkukan strategi komunikasi persuasif, kreatif, inovatif, berkesinambungan, sistematis, masif dan terstruktur. Sangat tidak bisa dengan pola komunikasi sporadis.

Dengan demikian, setidaknya orang tersebut memperkecil kemungkinan dirinya dan orang lain tidak menjadi "korban" Covid-19.

Inilah yang saya sebut sebagai egois sosial, atau tindakan mementingkan diri sendiri tetapi berdampak sangat positif bagi orang lain di sekitarnya, termasuk dalam keluarga. Penulis: Emrus Sihombing, Komunikolog Indonesia

Editor:Muslikhin Effendy
Kategori:DKI Jakarta, SEA Games, PON
wwwwww