Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Kasus Sadap Terungkap, Ical Syamsudin: Kontra Intelijen Prabowo Berjalan
Hukum
19 jam yang lalu
Kasus Sadap Terungkap, Ical Syamsudin: Kontra Intelijen Prabowo Berjalan
2
Jika Presiden Diduga Disadap Ilegal, SGY Pertanyakan Perlindungan Privasi Rakyat
Hukum
15 jam yang lalu
Jika Presiden Diduga Disadap Ilegal, SGY Pertanyakan Perlindungan Privasi Rakyat
3
Mantan Presiden SBY Soroti Penyadapan Prabowo Subianto, Tiga Jenderal Polisi Resmi Ditahan
Umum
16 jam yang lalu
Mantan Presiden SBY Soroti Penyadapan Prabowo Subianto, Tiga Jenderal Polisi Resmi Ditahan
4
Asael dan Sashenka Buktikan Atlet Muda Indonesia Berpotensi Bersaing di Panggung Dunia
Olympic
12 jam yang lalu
Asael dan Sashenka Buktikan Atlet Muda Indonesia Berpotensi Bersaing di Panggung Dunia
5
KJP Plus dan KJMU Mulai Cair 3 November, Total Anggaran Capai Rp164,67 Miliar
Metropolitan
11 jam yang lalu
KJP Plus dan KJMU Mulai Cair 3 November, Total Anggaran Capai Rp164,67 Miliar
6
Ketua Umum PB KAMI Dukung Langkah Tegas Kapolri Bersihkan Institusi
Hukum
21 jam yang lalu
Ketua Umum PB KAMI Dukung Langkah Tegas Kapolri Bersihkan Institusi
Home  /  Berita  /  Metropolitan

Gelora Setuju Pilkada Diserentakkan di 2024

Gelora Setuju Pilkada Diserentakkan di 2024
Ilustrasi pilkada serentak. (gambar: ist. via liputan6.com)
Jum'at, 29 Januari 2021 16:30 WIB
JAKARTA - Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP Partai Gelora Indonesia, Mahfudz Siddiq menyatakan, Gelora setuju Pemilihan Kepala Daerah (pilkada) dilakukan serentak di tahun 2024. Di tahun ini, juga digelar Pilpres.

"(Ya, red) dengan segala plus minus dan konsekuensinya, karena itu sudah jadi keputusan politik pemerintah dan DPR di UU Pilkada," kata Mahfudz dalam keterangan yang dikutip GoNews.co, Jumat (29/1/2021).

Jika dilaksanakan pada 2022 dan 2023, Gelora khawatir pilkada memicu peningkatan laju penularan Covid-19, sementara keuangan negara yang dalam kondisi sulit pun harus fokus penanganan pandemi.

Kepada alinea, Mahfudz menyatakan bahwa dirinya memahami konsekuensi penggabungan pelaksanaan pilkada pada 2024 akan menyebabkan banyaknya penunjukkan penjabat sementara (pjs) kepala daerah. Apalagi, pjs tak memiliki kewenangan terhadap kebijakan strategis, seperti masalah anggaran.

Seperti diketahui, untuk menggelar Pilkada secara serentak di 2022-2023, perlu dilakukan revisi Undang-Undang (UU). Pembahasan Rancangan UU Pemilu di DPR juga bisa jadi urung dilanjutkan. Pasalnya, fraksi-fraksi di Komisi II DPR RI kini tak satu suara soal RUU tersebut.

Kamis (28/1/2021) kemarin, Ketua Komisi II DPR RI Ahmad Doli Kurnia Tandjung mengungkapkan, pihaknya akan menggelar rapat untuk melihat kelanjutan proses RUU Pemilu.

"Kami akan rapat kembali meminta ketegasan dari masing masing fraksi apakah ada pernyataan resmi dari partai politik untuk dilanjutkan atau tidak," kata Doli di DPR.

Sejauh ini, Fraksi PAN dan PPP telah menyatakan menolak untuk melanjutkan RUU Pemilu.***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Kategori:DKI Jakarta, Badminton, Nasional, Metropolitan
wwwwww