Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Minta Bantu Karena Tak Terima Diputus Pacar, Gadis Ini Malah Dicabuli Dukun
Hukum
21 jam yang lalu
Minta Bantu Karena Tak Terima Diputus Pacar, Gadis Ini Malah Dicabuli Dukun
2
Meraup Berkah di Tanjakan Maut Sitinjau Laut Melalui Akun Youtube
Umum
21 jam yang lalu
Meraup Berkah di Tanjakan Maut Sitinjau Laut Melalui Akun Youtube
3
Penagih Utang Tewas Dikeroyok di Cipondoh, 5 Warga Diamankan Polisi
Peristiwa
19 jam yang lalu
Penagih Utang Tewas Dikeroyok di Cipondoh, 5 Warga Diamankan Polisi
4
Menghilang 1,5 Bulan, Pria di Aceh Ditemukan Tinggal Kerangka Dekat Gubuk
Peristiwa
21 jam yang lalu
Menghilang 1,5 Bulan, Pria di Aceh Ditemukan Tinggal Kerangka Dekat Gubuk
5
Bawa 20 Paket Besar Ganja, Warga Kuranji Padang Dicokok Petugas
Hukum
21 jam yang lalu
Bawa 20 Paket Besar Ganja, Warga Kuranji Padang Dicokok Petugas
6
Pj Kepala Daerah 22/23 Kewenangan Siapa? Azis Syamsuddin Dorong Pembahasan
Politik
21 jam yang lalu
Pj Kepala Daerah 22/23 Kewenangan Siapa? Azis Syamsuddin Dorong Pembahasan
Home  /  Berita  /  Ekonomi

Hancur Sudah, Tak Cuma Beras dan Gula, Indonesia Juga Diserbu Tekstil Impor

Hancur Sudah, Tak Cuma Beras dan Gula, Indonesia Juga Diserbu Tekstil Impor
Ketua DPD RI saat tiba di bandara Sepinggan Balikpapan, Kalimantan Timur, Minggu (4/4/2021). (Foto: Istimewa)
Minggu, 04 April 2021 18:28 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Serbuan tekstil impor dan ilegal ke pasar dalam negeri menjadi masalah yang tak berkesudahan. Pelaku usaha sering berteriak soal kondisi semacam ini.

Padahal, Indonesia adalah produsen tekstil terbaik di Asia bahkan dunia. Kejadian ini pun sama dengan nasib beras, gula, hingga garam. Para petani hancur gara-gara masuknya barang impor.

Ketua Ikatan Ahli Tekstil Seluruh Indonesia Suharno Rusdi mengatakan importasi ilegal tekstil yang cukup marak dua tahun terakhir. Aksi ini menyebabkan kerugian negara mencapai triliunan.

"Dua tahun terakhir importasi ilegal tekstil cukup marak. Telah merugikan negara triliunan rupiah. Salah satu kasus fungsi PLB (pusat logistik berikat), kemudian terbongkarnya penyelundupan ratusan kontainer di suatu Pelabuhan. Ini jelas telah menghambat pertumbuhan industri TPT kita," katanya dalam paparan webinar beberapa waktu lalu.

Terkait dengan maraknya tekstil impor ke Indonesia, Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti angkat bicara. Iameminta pemerintah untuk memproteksi pasar demi melindungi pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) dari serbuan produk impor yang dipasarkan secara online.

Sebagaimana diketahui, pandemi Covid-19 membuat sejumlah pihak menggunakan jasa e-commerce untuk memasarkan produk mereka. Salah satunya adalah produk impor tekstil yang merajalela di pasaran.

Dampaknya tentu saja dirasakan pelaku IKM ditandai dengan menurunnya penjualan mereka. Mantan Ketua Umum Kadin Jawa Timur itu menilai e-commerce amat besar pengaruhnya terhadap produk-produk impor, baik konsumsi kebutuhan rumah tangga maupun pakaian jadi.

"Keluhan yang dirasakan di tengah-tengah program pemerintah terkait program pemulihan ekonomi nasional adalah pelaku usaha garmen merasakan sulitnya penjualan produk karena tidak mampu bersaing. Padahal harga terbilang lebih murah dan kualitas pun lebih baik," ujar LaNyalla sesaat setelah mendarat di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, Balikpapan, Kalimantan Timur, Minggu (4/4/2021).

"Saya meminta pemerintah untuk memproteksi pasar melalui regulasi yang melindungi pelaku usaha lokal. Jika hal ini dibiarkan, maka kita akan menghadapi kematian industri kecil menengah dan bersiap menghadapi permasalahan sosial yang besar," ujar LaNyalla.

Senator Dapil Jawa Timur itu mendesak pemerintah agar segera menyelesaikan regulasi yang memproteksi pasar. Pasalnya, alumnus Universitas Brawijaya Malang itu menilai hingga kini hal tersebut belum juga dirampungkan pemerintah. "Ini urgent dan harus menjadi prioritas hingga saatnya kita mampu bersaing di pasar bebas," tegas alumnus Universitas Brawijaya Malang tersebut.

Industri Kecil dan Menegah (IKM) tekstil mengalami penurunan penjualan disebabkan pandemi covid-19 dan banjir produk impor di pasaran.Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia menyebutkan produk impor tekstil tidak hanya terjadi di pasar swalayan, namun juga masuk ke marketplace.

Data Indotextiles yang menyebutkan, sepanjang 2020 produksi garmen IKM mencapai sekitar 641.000 ton. Di Jawa Barat banyak sekali produksinya, misalnya sentra rajut binong di Bandung. Mereka produksi terus-menerus dengan pekerja yang juga banyak. Miris ketika produknya tidak dapat bersaing dengan impor. Harganya jauh sekali tetapi kualitas lebih baik dibandingkan produk impor.***

wwwwww