Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Madura United Tampil dengan Jersey Berbeda
Sepakbola
22 jam yang lalu
Madura United Tampil dengan Jersey Berbeda
2
Pemain PSM Diminta Jaga Kebugaran Selama Libur
Sepakbola
21 jam yang lalu
3
Viral Anak Ditulis Pembantu dalam KK, Ini Penjelasan Dukcapil
Pemerintahan
17 jam yang lalu
Viral Anak Ditulis Pembantu dalam KK, Ini Penjelasan Dukcapil
4
Ada Celah Nih! Ombudsman RI Minta Kepala Daerah Awasi Pembayaran THR
Umum
16 jam yang lalu
Ada Celah Nih! Ombudsman RI Minta Kepala Daerah Awasi Pembayaran THR
5
HMI-MPO Cabang Bogor Tuntut Usut Tuntas Mafia Covid-19
Hukum
8 jam yang lalu
HMI-MPO Cabang Bogor Tuntut Usut Tuntas Mafia Covid-19
6
Joko Susilo Berburu Tiga Pemain Asing
Sepakbola
15 jam yang lalu
Joko Susilo Berburu Tiga Pemain Asing
Home  /  Berita  /  Peristiwa

Hari Kebebasan Pers Dunia, Jurnalis harus Tangguh

Hari Kebebasan Pers Dunia, Jurnalis harus Tangguh
Ilustrasi pers. (Foto: Internet)
Senin, 03 Mei 2021 23:55 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Hari Kebebasan Pers Dunia yang diperingati setiap 3 Mei, diharapkan bisa membuat para jurnalis semakin tangguh. Demikian harapan itu disampaikan Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti.

Anggota Dewan Penasehat PWI Jawa Timur, itu juga mengingatkan, pentingnya peran pers sebagai alat kontrol sosial.

"Selamat Hari Kebebasan Pers Sedunia atau World Press Freedom Day untuk seluruh insan media massa di tanah air. Sebagai pilar keempat dalam demokrasi, pers Indonesia harus bisa menjaga marwah untuk selalu objektif dalam pemberitaan," tuturnya, Senin (3/5/2021).

Senator asal Jawa Timur itu mengatakan, pers juga memiliki fungsi sebagai kontrol bagi kebijakan pemerintah. Oleh karena itu, pers dituntut selalu mengedepankan cover both side di setiap pemberitaan.

"Pers harus terbebas dari intervensi apapun, termasuk intervensi pemerintah. Karena media memiliki jaminan untuk menyampaikan pendapat atau freedom of the press. Dan di Indonesia, kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga negara dalam UU Nomor 40 tahun 1999," katanya.

Alumnus Universitas Brawijaya Malang ini mengatakan, pers harus terus mewartakan kebenaran. Insan media juga diharapkan untuk selalu independen, dan tidak terjebak pada arus politik.

"Kesetiaan pertama pers adalah untuk masyarakat. Jangan pernah lupa akan hal itu. Setiap jurnalis juga harus mendengarkan hati nuraninya saat membuat berita, dan pastikan agar teman-teman media bekerja sebagai pemantau kekuasaan dan penyambung lidah bagi mereka yang tertindas. Itulah prinsip-prinsip jurnalisme," tuturnya.

LaNyalla menambahkan, insan pers memiliki tantangan yang begitu besar di tengah gejolak pandemi Covid-19. Media massa memiliki batasan dalam meliput berita, akibat perlunya protokol kesehatan dijalankan sebagai upaya pencegahan penularan virus Corona.

"Saya berharap teman-teman media menjadi lebih tangguh di era pandemi ini. Saya yakin insan pers memiliki kreativitas yang tinggi dalam meliput berita sehingga masih tetap bisa menyampaikan informasi yang tepat dan akurat kepada khalayak," harapnya.

LaNyalla juga mendorong pemerintah untuk terus memperhatikan kesejahteraan insan pers di masa pandemi Covid. Sebab tidak sedikit pekerja media yang terkena imbas perekonomian dampak pandemi.

"Pemerintah sudah memberikan dukungan dengan menjadikan jurnalis sebagai sasaran prioritas vaksinasi. Pemerintah juga sudah memberi keringanan kepada para wartawan dengan membebaskan pajak penghasilan karyawan atau PPh 21 sampai Juni 2021. Saya berharap keringanan pajak ini bisa diteruskan setidaknya hingga akhir tahun," pungkasnya.***

wwwwww