Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
FASTA DKI-Sispala Desak Penegakan Hukum Karhutla Tanpa Kompromi
Lingkungan
12 jam yang lalu
FASTA DKI-Sispala Desak Penegakan Hukum Karhutla Tanpa Kompromi
2
Tolak Konser Andrea Bocelli di Jakarta, Dailami Minta Pemerintah Tegas
Hiburan
12 jam yang lalu
Tolak Konser Andrea Bocelli di Jakarta, Dailami Minta Pemerintah Tegas
3
Darije Kalezic Kecewa, Rizky Eka Tetap Minta Dukungan Suporter PSM
Sepakbola
7 jam yang lalu
Darije Kalezic Kecewa, Rizky Eka Tetap Minta Dukungan Suporter PSM
4
Kerapatan Adat Nagai Silaut Perjuangkan Keadilan Status Tanah
Hukum
7 jam yang lalu
Kerapatan Adat Nagai Silaut Perjuangkan Keadilan Status Tanah
5
Bikin Rame CFD Sudirman, Massa 'Geruduk' Imigrasi Jakbar
Umum
6 jam yang lalu
Bikin Rame CFD Sudirman, Massa Geruduk Imigrasi Jakbar
6
Pujian Cara Pemain Bali United Berjuang Raih Kemenangan Tandang Perdana
Sepakbola
7 jam yang lalu
Pujian Cara Pemain Bali United Berjuang Raih Kemenangan Tandang Perdana
Home  /  Berita  /  Nusantara

Pertumbuhan Ekonomi di 24 Provinsi Negatif, Ini Catatan Ketua DPD RI

Pertumbuhan Ekonomi di 24 Provinsi Negatif, Ini Catatan Ketua DPD RI
Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti.
Rabu, 19 Mei 2021 22:08 WIB
Penulis: Azhari Nasution
SURABAYA - Sebanyak 24 Provinsi mencatatkan pertumbuhan ekonomi negatif pada kuartal pertama 2021. Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, memberikan sejumlah catatan.

Untuk 24 provinsi itu, LaNyalla meminta untuk terus memacu kinerja. Menurutnya, kontribusi daerah sangat penting dalam mendorong pemulihan ekonomi nasional (PEN).

"Hasil di kuartal pertama tahun 2021 di mana pertumbuhan ekonomi nasional kita juga masih minus 0,74% saya harap bisa memotivasi teman-teman kepala daerah agar bisa memperbaiki strategi pemulihan ekonominya. Karena daerah berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional jadi ini kerja bersama yang harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab," jelasnya, Rabu (19/5/2021).

Dikatakan LaNyalla, perlu ada strategi khusus penanganan pandemi bagi daerah yang pertumbuhan ekonominya masih negatif. Pemda diingatkan agar lebih banyak mengalokasikan sarana dan prasarana kesehatan dan juga program-program jaring pengaman sosial.

"Penting juga diperhatikan berjalannya stimulus bagi UMKM sehingga percepatan penyerapan anggaran untuk mendorong PEN bisa segera terealisasi," kata LaNyalla.

Mantan Ketum PSSI tersebut juga meminta seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) segera membelanjakan dananya untuk membantu menggerakkan roda ekonomi daerah. Ini juga sebagai upaya meningkatkan daya beli masyarakat, yang akan berdampak pada tren positif pertumbuhan ekonomi.

"Memang perlu kerja keras agar perekonomian kita bisa keluar dari krisis. Gubernur, bupati dan wali kota juga harus bisa menggerakkan potensi daerah sesuai keunggulan di wilayahnya masing-masing, misalnya lewat sektor pertanian, perikanan, pariwisata, ekspor/impor, dan sebagainya," tuturnya.

Tak hanya itu, Ketua DPD RI juga meminta pemda mendorong perluasan investasi untuk pengelolaan potensi daerah. Dengan demikian, target pertumbuhan ekonomi nasional untuk kuartal kedua dengan angka positif di atas 7% dapat terealisasi.

Untuk periode ini, pemerintah melaporkan ada 10 provinsi dengan pertumbuhan ekonomi positif. Ke-10 provinsi itu adalah Riau (positif 0,41%), Papua (positif 14,285%), Sulawesi Tengah (positif 6,26%), Daerah Istimewa Yogyakarta (positif 6,4%), Sulawesi Utara (positif 1,87%).

Provinsi lainnya adalah Sulawesi Tenggara (positif 0,06%), NTT (positif 0,12%), Papua Barat (positif 1,47%), Bangka Belitung (positif 0,97%) dan Maluku Utara (positif 13,45%).

"Sebagai Ketua DPD RI, saya mengucapkan selamat atas prestasi 10 provinsi yang berhasil mencatatkan pertumbuhan ekonomi positif di kuartal I 2021," tutur LaNyalla.

Menurut senator Jawa Timur itu, tren pertumbuhan ekonomi positif 10 provinsi tersebut merupakan prestasi. Di saat kondisi masih dalam pandemi virus Corona (Covid-19), 10 pemerintah daerah (Pemda) mampu memberikan performa terbaik yang menumbuhkan perekonomian di wilayahnya. ***

wwwwww