Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Mulyanto: Satgas Indonesia-Singapura Harus Bongkar Jaringan Korporasi Perusak Lingkungan
Nasional
19 jam yang lalu
Mulyanto: Satgas Indonesia-Singapura Harus Bongkar Jaringan Korporasi Perusak Lingkungan
2
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
Kemenpora
21 jam yang lalu
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
3
Presiden Prabowo: Indonesia Harus Jadi Bangsa yang Menang
Kemenpora
21 jam yang lalu
Presiden Prabowo: Indonesia Harus Jadi Bangsa yang Menang
4
Presiden Prabowo Serahkan Bonus Atlet Peraih Medali Asian Games dan Asian Para Games 2026
Kemenpora
21 jam yang lalu
Presiden Prabowo Serahkan Bonus Atlet Peraih Medali Asian Games dan Asian Para Games 2026
5
Subsidi Klub Futsal Masih Menunggak, Tirta Lunggana: Kami Sangat Kecewa
Sepakbola
19 jam yang lalu
Subsidi Klub Futsal Masih Menunggak, Tirta Lunggana: Kami Sangat Kecewa
6
BMKG: Cuaca Jabodetabek Hari Ini Berpotensi Hujan Ringan
Metropolitan
10 jam yang lalu
BMKG: Cuaca Jabodetabek Hari Ini Berpotensi Hujan Ringan
Home  /  Berita  /  Metropolitan

Usai Gencatan Senjata Israel-Palestina, Anis Matta : Indonesia dan Turki Harus Berperan

Usai Gencatan Senjata Israel-Palestina, Anis Matta : Indonesia dan Turki Harus Berperan
Ketua Umum Partai Gelora, Anis Matta saat memberikan penjelasan.
Jum'at, 21 Mei 2021 19:09 WIB
Penulis: Azhari Nasution
JAKARTA - Ketua Umum Partai Gelora, Anis Matta menyarankan Indonesia bersama Turki memainkan peran untuk memediasi kelompok-kelompok perlawanan di Palestina usai pengumuman gencatan senjata hari ini, setelah 11 hari pertempuran Israel melawan Hamas menewaskan sedikitnya 240 orang termasuk anak-anak.

Saran itu disampaikan Anis Matta dalam acara halalbihalal dengan kalangan pers di kantor Media Center Gelora Jakarta, Jumat (21/5/2021). Bahkan, dia menyebut momen gencatan senjata itu harus dimanfaatkan dengan baik karena potensi kemerdekaan Palestina dari Israel kian terbuka karena kuatnya dukungan negara-negara Timur Tengah dan negara Barat.

Selama ini Eropa, terutama Jerman, kata Anis Matta, tidak bersikap tegas pada Israel karena dianggap menjadi korban dalam peristiwa Holocaust yang diberlakukan di zaman kepemimpin Hitler di Jerman. Kini, jelasnya, utang budi atas peristiwa Holocaust ketika jutaan orang Yahudi dibantai di Eropa sudah terbayarkan dengan pembantaian yang dilakukan oleh tentara Israel atas rakyat Palestina.

Oleh karena itu, sebutnya, dukungan negara-negara Eropa atas Israel mulai berkurang setelah menyaksikan kejadian terakhir di Gaza ketika banyak warga sipil terbunuh akibat serangan rudal Israel.

Atas alasan itulah, Anis menilai sebagai dua negara yang berpenduduk Islam terbesar, seharusnya Presiden Jokowi dan Presiden Turki, Recep Tayyib Erdogan bisa memainkan peran mediator di antara kelompok perlawanan seperti Hamas dan Fatah.

Sejauh ini Hamas lebih banyak melakukan perjuangan bersenjata dalam menghadapi Israel, sedangkan Fatah lebih memilih cara diplomasi. Upaya Fatah dalam diplomasi mencapai puncaknya saat dicapainya Perjanjian Oslo pada 2004 soal pendirian dua negara Israel dan Palestina yang hidup berdampingan secara damai.

“Momen gencatan senjata ini bisa dimamfaatkan Indonesia dan Turki untuk memainkan peran memediasi kelompok perlawanan yang sekarang kian terlihat mulai bersatu,” ujar Anis.

Dia menambahkan bahwa gencatan senjata yang diumumkan tersebut pada dasarnya merupakan kemenangan bagi Hamas yang telah membuat sistem pertahanan Israel kewalahan. Apalagi sistem pertahanan Iron Dome milik Israel tidak mampu menghadapi serangan roket Hamas meski korban tewas di pihak Hamas lebih banyak dari Israel. ***

wwwwww