Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
Umum
21 jam yang lalu
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
2
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
Kemenpora
14 jam yang lalu
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
3
Mulyanto: Satgas Indonesia-Singapura Harus Bongkar Jaringan Korporasi Perusak Lingkungan
Nasional
12 jam yang lalu
Mulyanto: Satgas Indonesia-Singapura Harus Bongkar Jaringan Korporasi Perusak Lingkungan
4
Presiden Prabowo: Indonesia Harus Jadi Bangsa yang Menang
Kemenpora
13 jam yang lalu
Presiden Prabowo: Indonesia Harus Jadi Bangsa yang Menang
5
Presiden Prabowo Serahkan Bonus Atlet Peraih Medali Asian Games dan Asian Para Games 2026
Kemenpora
14 jam yang lalu
Presiden Prabowo Serahkan Bonus Atlet Peraih Medali Asian Games dan Asian Para Games 2026
6
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
Umum
21 jam yang lalu
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
Home  /  Berita  /  Metropolitan

Prima Desak DPR Sahkan RUU PKS

Prima Desak DPR Sahkan RUU PKS
Jubir Prima, Minaria Chrystin. (foto: ist./prima)
Rabu, 23 Juni 2021 15:57 WIB
JAKARTA - Jubir Partai Rakyat Adil Makmur (Prima), Minaria Chrystin menyatakan, pihaknya mendorong DPR RI untuk serius membahas dan segera mensahkan RUU PKS menjadi UU.

Dalam pernyataan resminya, Rabu (23/6/2021), Ria menyatakan, kekerasan terhadap perempuan terjadi di manapun dan kapanpun di Indonesia. Ia menyinggung peristiwa di Maluku dimana remaja wanita mengalami kekerasan seksual justru lembaga kepolisian.

Terkait kekerasan seksual ini, Komnas Perempuan mencatat terdapat 299.911 kasus kekerasan terhadap perempuan sepanjang 2020. Angka tersebut menurun signifikan dibandingkan laporan tahun lalu yang tercatat sebanyak 431.471 kasus. Meski begitu, peristiwa yang terjadi di Maluku menggugah rasa kedaruratan.

"Banyak kasus kekerasan seksual yang sebagian besar korbannya perempuan, teman-teman di organisasi perempuan menyebut "Darurat Kekerasan Seksual," Ria sebagaimana dikutip GoNEWS.co.

Lebih lanjut Ria juga mengkritisi cara pandang masyarakat yang memandang kekerasan seksual terhadap perempuan secara tidak adil.

"Ada problem di penegak hukum; cara pandang yg bermasalah. Misalnya mereka bilang, kalau dua kali berarti menikmati, dan lain-lain, impunitas pelaku, dan beberapa aparat terlibat kasus kekerasan seksual seperti berita di yang beredar, dalam kasus demonstrasi, dan lain-lain," ujarnya.

Ria menjelaskan bahwa ada urgensi hadirnya sebuah UU untuk memerangi kekerasan seksual saat ini. Menurutnya, draf yang beredar sudah tepat untuk segera disahkan.

Dalam hal perlindungan perempuan Integrasi layanan untuk memastikan korban mendapatkan layanan pemulihan fisik, psikologis, materiil, hingga hukum secara bersamaan, adalah alasan lain kenapa RUU PKS sangat urgen untuk ditetapkan menjadi Undang-Undang.

Minar Juga memandang bahwa hukuman fisik saja tidak cukup untuk memberikan efek jera terhadap pelaku menurutnya perlu tambahan beban bagi pelaku (di samping hukumannya) berupa tanggungjawab menanggung biaya pemulihan korban.***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Kategori:DKI Jakarta, Nasional, Metropolitan
wwwwww