Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Mengenal Diri Bukan Mendiagnosis Diri, Pesan Fanny Ghassani dan Samanta Clara di IYS 2026
Kemenpora
10 jam yang lalu
Mengenal Diri Bukan Mendiagnosis Diri, Pesan Fanny Ghassani dan Samanta Clara di IYS 2026
2
Menpora Erick Serahkan Penghargaan Pemenang di IYS 2026
Kemenpora
10 jam yang lalu
Menpora Erick Serahkan Penghargaan Pemenang di IYS 2026
3
Gagasan Kehadiran Staf Khusus Presiden Bidang Keolahragaan Memperkuat Ekosistem Olahraga
Nasional
9 jam yang lalu
Gagasan Kehadiran Staf Khusus Presiden Bidang Keolahragaan Memperkuat Ekosistem Olahraga
4
Zlatko Runje Gantikan Igor Tolic Saat Jamu Kalteng FC
Sepakbola
7 jam yang lalu
Zlatko Runje Gantikan Igor Tolic Saat Jamu Kalteng FC
5
Makin Panas, Empat Tim Lolos Bersaing di Semifinal
Basket
12 jam yang lalu
Makin Panas, Empat Tim Lolos Bersaing di Semifinal
6
Lawan Persib, Mundari Karya Optimistis Curi Poin
Sepakbola
7 jam yang lalu
Lawan Persib, Mundari Karya Optimistis Curi Poin
Home  /  Berita  /  Olympic

Kemungkinan Terburuk, Covid-19 Digunakan sebagai Senjata dalam Konflik Geopolitik

Kemungkinan Terburuk, Covid-19 Digunakan sebagai Senjata dalam Konflik Geopolitik
Ketua Umum DPP Gelora Anis Matta. (Foto: Istimewa)
Senin, 05 Juli 2021 07:00 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Ketua Umum DPP partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta mengaitkan Virus Corona (COVID-19) dengan senjata biologi dalam konflik geopolitik.

Dia menyatakan sebuah kemungkinan COVID-19 digunakan sebagai senjata biologi. "Kemungkinan yang buruk, yaitu COVID-19 ini juga digunakan menjadi senjata dalam konflik geopolitik," ujar Anis Matta dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (4/7).

Anis Matta mengatakan COVID-19 ini datangnya dari Tiongkok dan Indonesia juga menggunakan vaksin dari negara tersebut.

Menurut dia, makna geopolitiknya adalah Indonesia sebagai korban dan pada waktu yang sama juga menjadi konsumen.

Anis kemudian mengajak publik untuk mulai menyadari adanya perlombaan luar biasa dari empat kekuatan utama dunia, yaitu Amerika Serikat (AS), Eropa, Rusia, China dalam memproduksi vaksin.

"Kita juga lihat di sini ada 'racing' atau perlombaan dari paling tidak empat kekuatan dunia yaitu, Amerika Serikat, Eropa, Rusia dan China dalam produksi vaksin," ujarnya.

Meski demikian, Anis Matta mengaku belum mengetahui apakah industri vaksin akan menjadi salah satu leading industri di masa yang akan datang.

Karena itu, menurut dia, tidak begitu mengherankan apabila saat ini terjadi disinformasi luar biasa mengenai COVID-19.

Informasi saintifik telah bercampur dengan informasi hoaks yang begitu cepat menyebar di masyarakat.

"Misalnya tentang keburukan dan kelebihan dari tiap vaksin yang digunakan, karena ada instrumen pertarungan kepentingan global," pungkas Anis.***

wwwwww