Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Demi Amankan Poin Hadapi Persija, Persita Lakukan Persiapan Matang
Sepakbola
23 jam yang lalu
Demi Amankan Poin Hadapi Persija, Persita Lakukan Persiapan Matang
2
Denlson Junior Siap Hadapi Laga Panas Lawan Persija
Sepakbola
23 jam yang lalu
Denlson Junior Siap Hadapi Laga Panas Lawan Persija
3
Mengenal Diri Bukan Mendiagnosis Diri, Pesan Fanny Ghassani dan Samanta Clara di IYS 2026
Kemenpora
7 jam yang lalu
Mengenal Diri Bukan Mendiagnosis Diri, Pesan Fanny Ghassani dan Samanta Clara di IYS 2026
4
Ambisi Madura United FC Putus Tren Positif PSM Makassar
Sepakbola
23 jam yang lalu
Ambisi Madura United FC Putus Tren Positif PSM Makassar
5
Mauro Jeronimo Harus Atur Kondisi Pemain Borneo FC Agar Tetap Kompetitif
Sepakbola
23 jam yang lalu
Mauro Jeronimo Harus Atur Kondisi Pemain Borneo FC Agar Tetap Kompetitif
6
Menpora Erick Serahkan Penghargaan Pemenang di IYS 2026
Kemenpora
7 jam yang lalu
Menpora Erick Serahkan Penghargaan Pemenang di IYS 2026
Home  /  Berita  /  Metropolitan

Pengamat: Jangan Tendensius Terhadap Para Pendemo

Pengamat: Jangan Tendensius Terhadap Para Pendemo
Ilustrasi Demo mahasiswa menolak kebijakan PPKM. (Foto: Istimewa)
Senin, 26 Juli 2021 18:11 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy

JAKARTA - Demo atau unjukrasa yang dilakukan berbagai elemen masyarakat belakangan ini dinilai ditunggangi oleh pihak-pihak tertentu. Mereka dinilai ingin menurunkan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Penilaian semacam itu cenderung tendensius. Mereka menyudutkan pihak tertentu tanpa berani menyebut siapa pihak-pihak yang dimaksud," ujar pengamat Komunikasi Politik dari Universitas Esa Unggul Jakarta, M Jamiluddin Ritonga kepada GoNews.co, Senin (26/7/2021).

Jamil menegaskan, jika memang ada yang menunggangi, seharusnya mereka bisa menunjukan hidung si penunggang. Namun hal tidak, mereka hanya bisa menuding tapi yang ditunjuk mahluk penampakan. "Para penuding itu seharusnya menghormati pendemo. Sebab, demo itu hak warga negara yang dilindungi UU," paparnya.

Jamil menilai, jika mereka memberi stigma-stigma yang negatif kepada para pendemo, itu sama saja tidak menghormati hak orang lain dalam menyampaikan aspirasinya. Orang-orang seperti ini yang sesungguhnya tak layak hidup di negara demokrasi.

"Mereka ini hanya mengenakan jubah demokrasi, namun sikap perilakunya cenderung otoriter. Mereka mengatasnamakan demokrasi, padahal mereka tidak siap berbeda pendapat," jelasnya.

Jadi, sambung Jamil, biarkan aspirasi para pendemo itu tersalurkan. Tak perlu memberi stigma negatif pada mereka. Jika tidak sependapat dengan aspirasi para pendemo, siapa pun dapat menyanggahnya. "Sanggahlah dengan argumentasi, tanpa memcari-cari kelemahan pihak pendemo," pungkasnya.***

wwwwww