Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
Sepakbola
23 jam yang lalu
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
2
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
Non Olympic
22 jam yang lalu
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
3
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
Kemenpora
24 jam yang lalu
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
4
Demi Amankan Poin Hadapi Persija, Persita Lakukan Persiapan Matang
Sepakbola
20 jam yang lalu
Demi Amankan Poin Hadapi Persija, Persita Lakukan Persiapan Matang
5
Nyawa Atlet Di Ujung Bantingan (Edisi I)
Non Olympic
22 jam yang lalu
Nyawa Atlet Di Ujung Bantingan (Edisi I)
6
Denlson Junior Siap Hadapi Laga Panas Lawan Persija
Sepakbola
20 jam yang lalu
Denlson Junior Siap Hadapi Laga Panas Lawan Persija
Home  /  Berita  /  Kemenpora

Mengenal Diri Bukan Mendiagnosis Diri, Pesan Fanny Ghassani dan Samanta Clara di IYS 2026

Mengenal Diri Bukan Mendiagnosis Diri, Pesan Fanny Ghassani dan Samanta Clara di IYS 2026
Aktris sekaligus host dan wellness enthusiast Fanny Ghassani bersama Psikolog Samanta Clara Elsener. (Kemenpora)
Sabtu, 31 Oktober 2026 14:12 WIB
Penulis: Azhari Nasution

JAKARTA - Aktris sekaligus host dan wellness enthusiast Fanny Ghassani bersama Psikolog Samanta Clara Elsener tampil di Indonesia Youth Summit (IYS) 2026 di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta, Jumat (30/10/2026) kemarin

Dalam seri bertajuk "Mengenal Diri, Bukan Mendiagnosa Diri". keduanya mengajak generasi muda untuk lebih mengenali diri sendiri daripada sibuk mendiagnosis diri. Pesan menjadi salah satu kunci menjaga kesehatan mental di tengah derasnya arus informasi dan tekanan media sosial.

“Pada saat kita membandingkan diri dengan orang lain, akhirnya kita merasa tertinggal. Kok aku merasa kurang sukses, kok aku tidak seberhasil dia? Akhirnya merasa tidak pernah cukup,” ujar Fanny saat menyampaikan materinya.

Fanny menilai media sosial kerap memicu seseorang membandingkan pencapaian, kebahagiaan, hingga kehidupan pribadinya dengan orang lain. Karena itu, ia menyarankan generasi muda sesekali mengambil jeda dari media sosial agar tidak terjebak dalam kebiasaan membandingkan diri.

Sementara itu, Psikolog Samanta Clara mengingatkan bahwa kemudahan mengakses informasi, termasuk melalui kecerdasan buatan (AI), tidak boleh membuat anak muda mengabaikan proses mengenali diri secara utuh.

Menurutnya, mengenali diri tidak sebatas mengetahui kelebihan dan kekurangan, tetapi juga menerima keduanya sebagai bagian dari proses pengembangan diri.

“ChatGPT ataupun machine learning, itu bukan psikolog. Mereka hanya meniru, mereka tidak akan mengevaluasi,” ungkap Samanta.

Ia menegaskan bahwa AI tidak dapat menggantikan peran psikolog maupun tenaga profesional dalam membantu seseorang memahami kondisi kesehatan mentalnya.

Selain itu, Fanny dan Samanta mendorong generasi muda membiasakan journaling atau menuliskan perasaan dan pengalaman sebagai salah satu cara memahami emosi. Bagi yang kesulitan menuangkan perasaan melalui tulisan, proses tersebut juga dapat dilakukan melalui gambar atau kolase.

Menutup sesi, keduanya mengajak generasi muda membangun kepedulian dan empati terhadap sesama. Mereka juga menegaskan bahwa meminta bantuan profesional ketika menghadapi persoalan kesehatan mental bukanlah sesuatu yang memalukan.

Melalui sesi ini, Fanny dan Samanta berharap generasi muda semakin memahami diri, berani bertumbuh, serta mampu saling mendengarkan tanpa mudah menghakimi orang lain.

“Kalau mental kita perlu bantuan, kita ke psikolog. Itu adalah bagian dari self-awareness dan juga progres kita sebagai manusia,” pungkas Fanny. ***

wwwwww