Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Mengenal Diri Bukan Mendiagnosis Diri, Pesan Fanny Ghassani dan Samanta Clara di IYS 2026
Kemenpora
11 jam yang lalu
Mengenal Diri Bukan Mendiagnosis Diri, Pesan Fanny Ghassani dan Samanta Clara di IYS 2026
2
Gagasan Kehadiran Staf Khusus Presiden Bidang Keolahragaan Memperkuat Ekosistem Olahraga
Nasional
10 jam yang lalu
Gagasan Kehadiran Staf Khusus Presiden Bidang Keolahragaan Memperkuat Ekosistem Olahraga
3
Menpora Erick Serahkan Penghargaan Pemenang di IYS 2026
Kemenpora
11 jam yang lalu
Menpora Erick Serahkan Penghargaan Pemenang di IYS 2026
4
Zlatko Runje Gantikan Igor Tolic Saat Jamu Kalteng FC
Sepakbola
8 jam yang lalu
Zlatko Runje Gantikan Igor Tolic Saat Jamu Kalteng FC
5
Makin Panas, Empat Tim Lolos Bersaing di Semifinal
Basket
13 jam yang lalu
Makin Panas, Empat Tim Lolos Bersaing di Semifinal
6
Lawan Persib, Mundari Karya Optimistis Curi Poin
Sepakbola
8 jam yang lalu
Lawan Persib, Mundari Karya Optimistis Curi Poin
Home  /  Berita  /  Non Olympic

IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?

IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
Ilustrasi (Krisna Bayu OLY)
Jum'at, 30 Oktober 2026 20:24 WIB
Penulis: Krisna Bayu OLY
PADA edisi tulisan pertama, saya menguraikan sejumlah peristiwa yang melibatkan atlet pencak silat, mulai dari kematian setelah bantingan, atlet yang mengalami kejang akibat benturan kepala, hingga kematian atlet setelah mendapatkan penanganan medis atas cedera saat bertanding.

Saya juga menguraikan persoalan standar matras, teknik jatuhan, dan pentingnya protokol penanganan cedera kepala. Kini, saya ingin membawa persoalan ini ke tingkat yang lebih mendasar.

Siapa yang bertanggung jawab memastikan keselamatan atlet pencak silat Indonesia?

Apakah cukup dengan menyatakan bahwa kecelakaan merupakan risiko dalam olahraga?

Apakah cukup dengan menyampaikan belasungkawa, memberikan penghargaan kepada keluarga korban, kemudian melanjutkan penyelenggaraan kejuaraan seperti biasa?

Menurut saya, tidak. Ketika insiden serius terjadi berulang dan terdapat pola yang perlu diteliti, federasi harus mengambil tanggung jawab untuk melakukan evaluasi secara menyeluruh.

Kita tidak sedang mencari siapa yang harus disalahkan sebelum fakta ditemukan. Kita sedang meminta sistem yang mampu menjelaskan mengapa peristiwa tersebut terjadi, apakah ada faktor yang dapat dicegah, dan bagaimana memastikan kejadian serupa tidak berulang.

1. Federasi Tidak Boleh Hanya Menghitung Medali 

Selama ini, keberhasilan organisasi olahraga sering kali diukur melalui prestasi atlet, jumlah kejuaraan, jumlah peserta, dan pencapaian medali. Semua itu penting. Namun, ada ukuran keberhasilan lain yang tidak kalah penting: keselamatan atlet.

Sebuah federasi harus mampu menjawab berapa banyak atlet yang mengalami cedera serius, berapa banyak yang mengalami benturan kepala, berapa banyak yang mengalami kejang setelah pertandingan, dan berapa banyak insiden yang berakhir dengan kematian.

Sayangnya, hingga penelusuran ini dilakukan, saya belum menemukan satu basis data publik nasional yang menghimpun seluruh insiden keselamatan pencak silat secara sistematis selama sepuluh tahun terakhir.

Ketiadaan data publik bukan bukti bahwa federasi tidak memiliki catatan internal. Namun, data tersebut perlu dihimpun, diverifikasi, dan dibuka kepada publik dalam bentuk laporan keselamatan yang dapat dipertanggungjawabkan. Kita tidak bisa memperbaiki persoalan yang tidak pernah diukur.

2. Bentuk Tim Investigasi Independen

Saya mengusulkan agar PB IPSI membentuk Tim Investigasi Keselamatan Atlet Pencak Silat Nasional. Tim tersebut sebaiknya tidak hanya berisi pengurus organisasi. Harus ada unsur independen yang memiliki kompetensi teknis dan medis.

Komposisinya perlu melibatkan:

* Dokter spesialis kedokteran olahraga.

* Dokter spesialis saraf.

* Dokter spesialis bedah saraf.

* Ahli biomekanika olahraga.

* Ahli material dan teknologi matras.

* Pakar keselamatan pertandingan.

* Perwakilan pelatih.

* Perwakilan atlet.

* Pengurus judo dan gulat.

* Ahli hukum olahraga.

Mengapa harus independen? Karena. organisasi yang menaungi pertandingan juga harus bersedia menerima pemeriksaan dari pihak yang memiliki jarak profesional terhadap penyelenggaraan pertandingan.

Investigasi tidak boleh berhenti pada laporan bahwa seorang atlet mengalami kecelakaan saat bertanding. Harus diperiksa seluruh rangkaian kejadian, mulai dari kondisi sebelum pertandingan, kelayakan arena, kualitas matras, teknik yang digunakan, keputusan wasit, tindakan tim medis, hingga penanganan di rumah sakit.

Setiap hasil investigasi harus menghasilkan rekomendasi yang jelas dan dapat dipantau pelaksanaannya.

3. Audit Nasional Matras : Jangan Hanya Memeriksa Ketebalan

Salah satu persoalan yang harus menjadi prioritas adalah kualitas matras. Dalam Peraturan Menteri Pemuda dan Olahraga Nomor 15 Tahun 2022, standar ketebalan matras pencak silat profesional disebut 5 sentimeter.

Peraturan pertandingan IPSI 2023 juga menyebutkan matras dengan ketebalan 5 sentimeter dan kualitas kepadatan tinggi. Namun, standar di atas kertas harus dibuktikan melalui pemeriksaan di lapangan.

Saya mengusulkan audit nasional yang mencakup:

Pertama, pengukuran ketebalan.

Memastikan seluruh matras sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Kedua, pengujian kepadatan material.

Matras harus memiliki karakteristik material yang sesuai dengan kebutuhan pertandingan bantingan.

Ketiga, pengujian daya serap benturan.

Kemampuan matras dalam meredam energi benturan harus diuji dengan metode teknis yang terukur.

Keempat, pemeriksaan kondisi sambungan.

Matras yang terpisah, bergeser, atau memiliki celah dapat menambah risiko cedera.

Kelima, pemeriksaan lantai dasar.

Matras yang baik tidak akan memberikan perlindungan optimal jika dipasang pada alas yang tidak sesuai.

Keenam, pemeriksaan usia dan kelayakan pemakaian.

Matras yang sudah mengalami penurunan kualitas harus diganti.

Saya ingin agar audit ini dilakukan secara independen dan hasilnya diumumkan. Jangan sampai kejuaraan resmi menggunakan matras yang secara visual terlihat baik, tetapi secara teknis tidak memenuhi persyaratan keselamatan.

4. Belajar Bersama PJSI dan PGSI: Keselamatan Tak Mengenal Ego Cabang Olahraga

Saya ingin menyampaikan satu gagasan yang menurut saya penting. IPSI harus membuka kerja sama teknis dengan Pengurus Besar Persatuan Judo Seluruh Indonesia dan Pengurus Besar Persatuan Gulat Seluruh Indonesia.

Judo dan gulat mempunyai sejarah panjang dalam mengembangkan olahraga yang menggunakan teknik lemparan, bantingan, dan pengendalian tubuh. Kedua cabang tersebut juga memiliki pengalaman menghadapi risiko cedera serius, termasuk cedera kepala. Karena itu, kerja sama yang saya maksud bukan untuk membandingkan siapa yang lebih baik.

Saya ingin melihat para ahli dari ketiga cabang olahraga duduk bersama membahas:

* Standar material matras.

* Teknik menerima jatuhan.

* Pengendalian posisi kepala dan leher.

* Pencegahan cedera akibat bantingan.

* Kurikulum keselamatan atlet.

* Prosedur penghentian pertandingan.

* Penanganan medis darurat.

IPSI juga dapat melakukan kunjungan teknis ke pusat pelatihan judo dan gulat untuk mempelajari bagaimana latihan jatuhan diterapkan sejak atlet masih pemula. Jangan ada ego organisasi ketika yang sedang dibicarakan adalah keselamatan manusia.

5. Wajib Ada Concussion Protocol dan Return-to-Play Policy

Ini merupakan salah satu rekomendasi terpenting dalam reformasi keselamatan pencak silat. IPSI perlu memiliki protokol khusus penanganan cedera otak dan benturan kepala.

Protokol tersebut harus mencakup:

1. Atlet yang diduga mengalami gegar otak langsung dikeluarkan dari pertandingan.

2. Atlet yang mengalami kejang setelah benturan kepala harus mendapatkan penanganan medis darurat.

3. Pemeriksaan neurologis dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten.

4. Atlet tidak boleh kembali bertanding pada hari yang sama jika diduga mengalami gegar otak.

5. Kembali berlatih dan bertanding harus mengikuti tahapan pemulihan serta persetujuan tenaga medis.

6. Setiap kejadian harus dicatat dalam rekam medis dan laporan insiden.

Panduan CDC mengenai gegar otak dalam olahraga menegaskan pentingnya menghentikan aktivitas atlet ketika terdapat kecurigaan gegar otak, serta melarang atlet kembali pada hari yang sama sebelum mendapatkan penilaian medis.

Ini bukan prosedur yang berlebihan. Ini adalah bentuk perlindungan terhadap fungsi otak dan masa depan atlet.

6. Sertifikasi Keselamatan Atlet: Jatuh Harus Menjadi Kompetensi Dasar

Saya mengusulkan agar IPSI mengembangkan sistem sertifikasi kompetensi keselamatan atlet pencak silat kategori tanding. Sertifikasi ini harus menjadi bagian dari proses pembinaan, terutama bagi atlet yang akan mengikuti kompetisi dengan teknik bantingan.

Materi sertifikasi meliputi:

* Teknik jatuhan ke belakang.

* Teknik jatuhan ke samping.

* Teknik jatuhan ke depan.

* Perlindungan kepala dan leher.

* Kemampuan mengendalikan posisi tubuh.

* Kemampuan menjaga keseimbangan.

* Pemahaman risiko cedera.

* Simulasi situasi pertandingan.

Pelatih juga harus memiliki modul pembinaan keselamatan yang terstandardisasi. Jangan sampai seorang atlet dinyatakan siap bertanding hanya karena memiliki kemampuan menyerang dan membanting lawan. Atlet harus memiliki kemampuan melindungi dirinya sendiri.

7. Wasit dan Tenaga Medis Harus Memiliki Kewenangan Yang Jelas

Kita juga harus membahas peran wasit. Dalam pertandingan yang berlangsung cepat, wasit harus mampu membedakan situasi jatuh normal dengan kondisi yang menunjukkan kemungkinan cedera serius.

Atlet yang tidak bergerak, kehilangan kesadaran, menunjukkan gerakan kejang, atau mengalami gangguan koordinasi harus segera mendapatkan perhatian medis. Tidak boleh ada kepentingan jadwal pertandingan yang mengalahkan kebutuhan pertolongan.

IPSI harus memastikan bahwa:

* Wasit memahami tanda-tanda cedera kepala.

* Wasit memiliki kewenangan menghentikan pertandingan.

* Tim medis dapat masuk ke arena tanpa hambatan.

* Tersedia dokter pertandingan yang kompeten.

* Tersedia ambulans dan rumah sakit rujukan.

* Seluruh petugas memahami alur komunikasi darurat.

Dalam keadaan darurat, tidak boleh ada kebingungan mengenai siapa yang mengambil keputusan.

8. Asuransi dan Tanggung Jawab Penyelenggara

Ada satu hal yang sering kurang mendapat perhatian: perlindungan finansial atlet. Atlet yang mengalami cedera dalam pertandingan resmi tidak boleh dibiarkan menghadapi persoalan biaya pengobatan seorang diri. Saya mengusulkan agar setiap kejuaraan resmi mempunyai persyaratan minimum perlindungan atlet melalui asuransi kecelakaan olahraga yang sesuai dengan tingkat risiko.

Penyelenggara harus memastikan tersedianya:

* Perlindungan kecelakaan atlet.

* Jaminan penanganan medis darurat.

* Rumah sakit rujukan.

* Ambulans.

* Tenaga medis.

* Mekanisme pendampingan keluarga.

* Prosedur santunan dan penanganan apabila terjadi kecelakaan fatal.

Ini merupakan bagian dari tanggung jawab penyelenggaraan olahraga yang profesional.

9. Buka Data Kepada Publik: Jangan Biarkan Korban Menjadi Berita

Saya ingin melihat perubahan besar dalam cara federasi menyampaikan informasi kepada masyarakat. Setiap tahun, IPSI harus menerbitkan laporan keselamatan atlet nasional.

Laporan tersebut sekurang-kurangnya memuat:

* Indikator Informasi yang dilaporkan

* Cedera ringan Jumlah dan jenis

* Cedera berat Diagnosis dan tindak lanjut

* Benturan kepala Jumlah kejadian

* Kejang Jumlah dan hasil pemeriksaan

* Cedera leher Jumlah dan tingkat keparahan

* Kematian Kronologi dan hasil investigasi yang dapat dipublikasikan

* Audit matras Jumlah arena yang diperiksa

* Pelatihan medis Jumlah wasit dan tenaga medis tersertifikasi

Data harus dilaporkan dengan metode yang konsisten dan dapat diverifikasi. Nama dan informasi medis pribadi atlet harus tetap dilindungi. Namun, statistik keselamatan, temuan audit, serta rekomendasi perbaikan harus dapat diakses masyarakat. Karena, Federasi yang transparan tidak perlu takut terhadap data.

10. Menuju Olimpiade: Jangan Hanya Memikirkan Pengakuan Tetapi Juga Standar Dunia

Referensi: .

Cita-cita membawa pencak silat menuju Olimpiade merupakan pekerjaan besar yang harus dilakukan bersama. Presiden Prabowo Subianto, yang sebelumnya memimpin PB IPSI, telah menyampaikan harapan agar pencak silat terus diperjuangkan menuju Olimpiade. Namun, perjalanan menuju pengakuan internasional membutuhkan pembenahan yang menyeluruh.

Kita perlu memperkuat:

* Tata kelola organisasi.

* Konsistensi regulasi pertandingan.

* Standar keselamatan atlet.

* Sistem wasit dan juri.

* Transparansi dan integritas pertandingan.

* Perlindungan atlet.

* Kualitas kompetisi internasional.

Keselamatan atlet harus menjadi salah satu indikator profesionalisme federasi. Kita tidak bisa hanya membangun pencak silat sebagai olahraga yang menarik ditonton. Kita juga harus membangunnya sebagai olahraga yang mempunyai sistem perlindungan atlet yang kuat.

Pencak silat harus semakin mendunia, tetapi jangan sampai keselamatan atlet tertinggal di belakang ambisi tersebut.

11. Tujuh Tuntutan Reformasi Keselamatan Kepada PB IPSI

Berdasarkan seluruh persoalan di atas, saya mengajukan tujuh rekomendasi kebijakan kepada Pengurus Besar IPSI.

* Pertama: Membentuk tim investigasi independen keselamatan atlet nasional.

* Kedua: Membuka dan mengaudit data seluruh kasus cedera berat serta kematian atlet selama sepuluh tahun terakhir.

* Ketiga: Melakukan audit nasional terhadap matras yang digunakan dalam pertandingan resmi.

* Keempat: Menetapkan sertifikasi kompetensi teknik jatuhan bagi atlet kategori tanding.

* Kelima: Mewajibkan protokol penanganan gegar otak, benturan kepala, dan kejang setelah pertandingan.

* Keenam: Menjalin kerja sama teknis dengan federasi judo dan gulat serta lembaga kedokteran olahraga.

* Ketujuh: Menerbitkan laporan keselamatan atlet secara berkala dan membuka hasil evaluasi kepada publik.

Saya juga mendorong agar rekomendasi tersebut dibahas secara resmi dalam forum organisasi IPSI dan melibatkan pengurus provinsi, pelatih, atlet, serta pakar independen. Jangan menjadikan keselamatan atlet sebagai agenda tambahan yang hanya dibicarakan ketika terjadi musibah. Jadikan keselamatan sebagai kebijakan utama federasi.

Epilog - Prestasi Tidak Boleh Dibangun di Atas Pengabaian Keselamatan

Saya menulis dua seri opini investigatif ini bukan karena ingin mencari kesalahan organisasi pencak silat. Saya menulis karena saya percaya pencak silat layak menjadi olahraga kebanggaan yang semakin profesional dan dihormati dunia.

Namun, rasa bangga tidak boleh membuat kita kehilangan keberanian untuk mengkritik. Kita harus berani mengevaluasi aturan, menguji kualitas matras, memperbaiki teknik pembinaan, meningkatkan kompetensi wasit, memperkuat pelayanan medis, dan membuka data kepada publik.

Federasi tidak cukup hanya dinilai dari jumlah medali yang dihasilkan. Ada ukuran yang jauh lebih mendasar: bagaimana federasi melindungi atlet yang memperjuangkan medali tersebut.

Saya ingin melihat IPSI menjadi organisasi yang berani melakukan perubahan, bukan organisasi yang hanya sibuk menjawab persoalan setelah peristiwa terjadi. Dan, saya ingin melihat judo, gulat, dan pencak silat saling berbagi pengetahuan untuk membangun keselamatan olahraga bela diri Indonesia.

Saya ingin melihat setiap kejuaraan daerah mempunyai standar keselamatan yang layak, bukan hanya kejuaraan nasional dan internasional. Dan saya ingin melihat cita-cita membawa pencak silat menuju Olimpiade berjalan seiring dengan tanggung jawab melindungi setiap atlet.

Jangan tunggu korban berikutnya. Jangan tunggu keluarga berikutnya kehilangan anaknya. Jangan tunggu sebuah tragedi menjadi berita nasional untuk kemudian kita sibuk melakukan evaluasi.

Medali bisa diperjuangkan kembali. Prestasi bisa dibangun kembali. Kejuaraan dapat diselenggarakan kembali. Tetapi nyawa manusia tidak dapat digantikan. ***

Editor:Azhari Nasution
Kategori:Non Olympic, DKI Jakarta
wwwwww