Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
Umum
12 jam yang lalu
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
2
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
Umum
12 jam yang lalu
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
3
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
Ekonomi
13 jam yang lalu
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
4
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
Metropolitan
13 jam yang lalu
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
5
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
Umum
13 jam yang lalu
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
6
Awan Tebal Menghampiri Jakarta, BMKG Prediksi Hujan Turun pada Hari Ini
Metropolitan
20 jam yang lalu
Awan Tebal Menghampiri Jakarta, BMKG Prediksi Hujan Turun pada Hari Ini
Home  /  Berita  /  Non Olympic
Olimpiade 2020 Tokyo

Kepancing Permainan Cepat, Gregoria Terhenti

Kepancing Permainan Cepat, Gregoria Terhenti
Gregoria Mariska Tunjung. (Dok. NOC Indonesia)
Kamis, 29 Juli 2021 15:58 WIB
Penulis: Azhari Nasution

TOKYO - Tunggal putri Indonesia, Gregoria Mariska Tunjung gagal melangkah ke babak perempat final cabang olahraga bulutangkis Olimpiade 2020 Tokyo. Dalam pertandingan yang dimainkan, Kamis (29/7/2021), Gregoria Mariska Tunjung harus mengakui keunggulan wakil Thailand, Ratchanok Intanon dengan skor 12-21 19-21.

Dalam pertandingan di gim pertama, Gregori, panggilan akrab Gregoria Mariska Tunjung mengaku kepancing dengan permainan cepat yang diterapkan Ratchanok Intanon. Bahkan, dia juga telah mencoba memberikan bola-bola susah namun usahanya itu gagal.

"Saya kepancing permainan cepat lawan di gim pertama. Padahal, itu tidak menguntungkan buat saya, karena lawan sepertinya memancing untuk main panjang. Sementara bola-bola saya banyak yang out. Saya ingin pengembalian bola-bola saya bisa menyusahkan lawan, tetapi malah jadi out dan mati sendiri," katanya.

Memasuki gim kedua, Gregori kembali mengalami kesulitan. Dia sulit mengakur irama permainan. Akibatnya, dia kehilangan kesempatan untuk mewujudkan impiannya meraih prestasi puncak di Tokyo.

"Pada gim kedua, awalnya saya tak bisa atur irama. Saat di pertengahan pas saya ketinggalan jauh saya cuma mikir, kalau pun kalah saya gak mau kalah begitu saja. Tapi, saya jadinya merasa tertekan di lapangan sehingga permainan saya kurag berkembang. Padahal, saya ingin all-out karena ini Olimpiade, empati tahun sekali," tandasnya. ***

wwwwww